Terkadang sebuah ketulusan tak terbalas itu menyakitkan.
.
.
.
Sesakit itukah rasanya?
Tapi bagaimana bisa, dia kan juga merasakannya..
Ah ya, aku hanya mencintainya dalam diam..
Mencintai bayangan yang takkan pernah bisa kusentuh..
Tapi ketulusanku.. Ketulusanku akan mengubah bayangan itu menjadi nyata. Akan kugapai.. Meskipun waktu merebut segalanya dariku..
-Jun-
Sakit memang, mencintai seseorang yang hanya memberikan seberkas harapan, tapi tak pernah ia wujudkan..
Ketulusan yang hanya dibalas dengan mainan.
Ini hati bukan boneka! Tapi saat sebuah ketulusan membutakan semuanya, kepercayaan cinta tak akan goyah meski hati tertusuk ribuan jarum..
-Seilla Kim-
**********
"Kau mencintainya?" Untuk sekian kalinya Jun bertanya dengan pertanyaan yang sama. Seilla datang lagi kepada sahabatnya masih dengan air matanya. Ini yang ketiga kalinya dia menangis tepat di depan Jun.
"Ya.." Selalu jawaban yang sama. Seilla menghapus kasar air matanya.
"Ini minum dulu.." Jun memberi segelas air putih untuk sedikit menenangkan sahabatnya itu. Seilla meneguk habis airnya, dia terlihat buruk, wajahnya memerah dengan mata sembab.
"Sudah berapa lama kau menangis?"
"Baru saja" Aku tidak yakin, batin Jun.
Jun mendesis, "Benarkah?"
"Terserah" Air mata itu jatuh lagi, air mata yang tak pernah ingin Jun lihat tapi dengan paksa ia lihat. Jun datang, menghapus lembut air mata Seilla, mendekap dan menyalurkan kehangatan untuknya.
"Apa lagi?"
"Aku.. Aku melihatnya lagi.. Aku melihatnya, tepat di depan mataku! Dia sengaja Jun.." Tangis Seilla kembali pecah, Jun mengeratkan pelukannya.
"Aku yakin dia sengaja melakukannya Jun.." Oh sahabatnya ini terlalu rapuh untuk hal itu. Jun marah, tentu, dia ingin menjaga sahabatnya, dia ingin melindungi sahabatnya, tapi sepertinya ia gagal. Ia terlalu sering melihat air mata itu jatuh dari pelupuk mata Seilla. Ia menyayangi Seilla, tentu saja, begitupun dengan Seilla. Jun hanya ingin melihat kebahagiaan Seilla, bukan kesedihannya.
"Hei, tenanglah.." Jun masih berusaha menenangkan Seilla. Selang beberapa menit Seilla mulai tenang, tapi kemudian terjadi keheningan di antara mereka.
Berusaha memecah keheningan, "Aku ke toilet dulu" Jun berlalu meninggalkan Seilla. Cukup lama, hingga Seilla mulai jengah.
"Dia itu buang air apa tidur sih?" Seilla beranjak dari posisinya, ia berjalan pelan menuju ke sebuah ruangan yang sepertinya ia rindukan. Dengan hati-hati ia memasuki ruangan itu. Sebuah kamar bernuansa biru, tapi terkesan maskulin. Ruangan itu adalah kamar Jun, sudah lama sejak terakhir kali Seilla memasuki kamar Jun.
"Tidak berubah" Seilla tersenyum, menyusuri setiap jengkal kamar Jun.
Tidak berubah, hanya posisi ranjangnya saja yang berubah, dan mungkin cat temboknya telah diganti dengan yang baru. Disana, dibawah ranjang yang langsung menghadap ke sebuah layar telivisi, dulu saat masa-masa sekolah Seilla sering menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu. Bermain playstation, menonton film dan barcanda bersama. Seilla masih mengingatnya dengan jelas di mermorinya.
Ya, Seilla dan Jun memang sudah bersahabat sejak kecil. Saat itu rumah mereka masih berdempetan, jadi Seilla sering menghabiskan waktu bermainnya di rumah Jun.
Sejak kelas 3 SMA Seilla terpaksa pindah rumah, tapi tidak terlalu jauh dari rumah Jun. Meski begitu Seilla tetap sering berkunjung ke rumah Jun. Seperti saat ini, ya yang Seilla tau Jun adalah malaikat penyelamatnya sejak mereka berdua memutuskan untuk bersahabat. Susah senang Seilla akan datang padanya, dan Jun akan selalu ada untuk Seilla.
YOU ARE READING
That Girl
FanfictionJun terus berlari mengejar bayangan meski Seilla tak mau berhenti untuknya.
