That Night

97 11 2
                                        

***

Ini sudah larut malam, dan aku baru saja menyelesaikan pekerjakanku.

Jam dinding di ruangan sepi ini menunjukkan pukul sebelas malam.

Kebetulan, aku dokter bedah senior di salah satu rumah sakit pemerintah.

Ya, beginilah. Jangan pernah jadi dokter jika kau tak ingin menghabiskan waktumu untuk rumah sakit.

Aku hidup sendiri di Seoul. Tak ada yang menunggu ku untuk pulang, karena aku tinggal di flat. Tak ada yang menunggu kabar ku, karena aku tidak memiliki kekasih.

Baiklah.

Aku melangkahkan kaki ku terus hingga mencapai lift. Di sana, ada laki-laki tinggi berambut coklat, dengan berpakaian yang sama seperti ku.

Ah... Dia junior ku yang sedang magang. Tapi, ngomong-ngomong, aku lupa namanya.

"Kau belum pulang?" aku tersenyum dengan manis yang di paksakan. Lift masih berjalan dan kami harus menunggu.

"Eoh? Senior Jane.. " dia membungkuk ketika menyadari keberadaanku. Juga tersenyum manis seraya menenteng jas dokterannya.

"Jangan panggil aku senior, kau masuk 3 bulan setelahku" laki-laki itu terkekeh. Dia juga mengangguk mengiyakan ucapkanku.

Itu percakapan terakhir kami.

Seterusnya, aku dan laki-laki itu hanya diam sambil menunggu lift.

"Ngomong-ngomong, aku lupa namamu" engh? Tak ada salahnya kan bertanya soal ini?

"Aku Mark, aku ada di tim mu" maaf. Siapa yang tidak tahu bagaimana pelupanya seorang Jane

"Oh, ya? Astaga, aku lupa soal itu" Mark terkekeh bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.

Kami masuk bersama dan terjadi keheningan kembali setelah Mark menekan tombol untuk menuju lobby.

Lift berhenti dan pintu terbuka. Mark mengucapkan salam dengan manis, tapi terkesan terburu-buru.

Tampaknya dia sudah di tunggu di rumah. Yang ku tahu, para junior harusnya sudah pulang sejak dua jam yang lalu.

Pasti dia memiliki tugas tambahan tadi. Faktanya yang menyakitkan untuk anak semanis Mark bersama dalam tim ku.

Bukan... bukan soal ku. Tapi soal satu rekan senior ku. Jackson.

Laki-laki putih pucat itu selalu bersikap dingin dengan anak buah kami. Aku yang- jujur, juga takut dengannya. Hanya bisa diam dan menyemangati anak buah satu tim ku.

Bergelut dengan pemikiran antah berantah, membawa langkah ku ke lantai halte persimpangan jalan.

Jalanan terlihat lenggang.

Ini sudah sebelas lewat. Aku tak yakin akan bis yang akan mampir lagi di halte.

Alih-alih berjalan menuju flat yang begitu jauh, aku duduk di bangku halte.

Memainkan ponsel dengan melihat postingan teman-teman ku di SNS. Dengan harapan agar masih ada bis yang tersisa untuk bisa ku tumpangi.

CITTT

Decitan ban mobil membuat ku terperanjat sekaligus senang.

Ibu benar, anak yang baik, tentu mendapatkan yang baik pula.

Aku beruntung karena saat ini ada bus untuk ku tumpangi.

Tampa basa-basi, aku melangkah menaiki bus, tepat saat bus juga kembali berjalan.

Aku berjalan menelusuri tiap blok bangku. Hawa dingin tiba-tiba menyeruak membelit tubuh.

Suasana mendadak tidak nyaman. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya. Bus tampak cukup ramai. Hanya ada beberapa bangku yang tersisa.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 31, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

That NightStories to obsess over. Discover now