Without You (One Shoot)

244 3 0
                                        


Di pagi cerah, musim gugur.
Dedaunan berjatuhan, berserakan menguning, mengombak jalan setapak.
Rumput-rumput di taman kota terpangkas rapi.

Anak-anak kecil berlari 'menyibak bebungaan.
Pasangan muda mudi saling bergandengan tangan. Berseri-seri.

Tapi semuanya terasa semu. Untukku.
Tak akan pernah indah 'lagi' sekarang.
Aku terduduk disalah satu kursi panjang, di taman kota.
Meremas sebuah undangan pernikahan.

Perih

Demi Tuhan! Aku menyesal.

Sekali lagi, aku sungguh menyesal, Anna.

2 bulan lalu.

Aku duduk termenung disisi paling sudut di-salah satu klub malam kota London.

Mual.

Pening.

Bisa dihitung, sudah 3 botol wine yang kutegak. Tak memerdulikan pening yang 'sedari tadi'
menghiasi kepalaku.

Dari kemarin, aku bertengkar hebat dengan Anna Stelle, kekasihku.

Hanya masalah sepele.
Tapi sangat rumit ketika diributkan.

Aku meremas rambut blonde coklatku. Frustasi. Aku merindukannya.

Tiba-tiba wanita penggoda duduk disampingku. Menggoda.

Aku tak tertarik.

Namun, saat dia duduk dipangkuanku, meniup telingaku halus, aku tak bisa
menahan nafsuku lagi.

Aku menggendongnya kasar ke lantai atas. Menyewa sebuah kamar.
Tidak peduli pintu yang tak aku kunci, langsung saja aku menelanjanginya.
Akalku sudah benar-benar hilang. Ditambah desahannya yang membuatku lunglai.

Disaat aku ambruk dengannya, pintu kamar tiba-tiba 'terbuka. Menampilkan Anna yang berdiri menatap kami 'jijik'. Tanggannya yang menutupi mulutnya bergetar, tak percaya.

"Anna, a-aku-"

"Semuanya sudah 'berakhir', Brian." Tuturnya mantap.
Kemudian, ia berlari keluar.

"Oh Shit!!"

Aku cepat memunguti pakainku.

Persetan dengan jalang bodoh yang terus menarikku untuk terus disini.

"Selamanya, aku 'tidak akan' memaafkanmu jalang bodoh."

Oke, aku tahu bukan sepenuhnya kesalahannya.

"Anna, kumohon dengarkan aku dulu, sayang."
Aku segera mencengkram tangannya saat ia hendak masuk ke mobilnya.

"Dengarkan apa!! Dengarkan kalau perempuan itu jauh lebih sexy dariku?! Apa yang harus aku dengar dari -mmphh..."
Aku langsung membukam mulutnya dengan mulutku. Merasakan perasaannya. Dia benar-benar kecewa. Aku tahu itu.

Dia berontak. Mendorongku jauh.

"Pergi kau laki-laki kotor 'tidak tahu diri!"

Apa?

Aku termenung.

Ucapannya bahkan lebih menyakitkan dibanding ditimpuk besi seberat 2 ton -walau aku tidak pernah merasakannya.

"Anna..."

"Sudahlah, Brian. Cukup." tuturnya lemah.

Aku kembali menghentikannya ketika ia 'kembali 'meluncurkan aksinya membuka pintu mobil.
"Kumohon, Anna, sayangku, dengarkan aku dulu... Kumohon."

Dia langsung menepis tanganku.
"Hubungan kita sudah berakhir Brian. Jangan 'ganggu' aku."

Aku bisa melihat mata sembabnya yang menyala-nyala. Bibirnya pun bergetar.

"Kau tahu, Sayang, ini bisa diselesaikan dengan baik. Okay." Aku menggenggam pundaknya lembut.

Anna menatapku sinis. "Aku tidak butuh itu. Brengsek!"

Kalimat terakhir yang 'menancap hati, sebelum ia pergi dengan mobilnya. Meninggalkanku. Sendirian.

Aku kembali mengeratkan remasan pada undangan pernikahannya.
Sesak. Perih. Menimbulkan panas dimataku.

Yahh... semuanya sudah terlambat.
Besok, ia akan menikah dengan 'seorang' yang lebih baik dariku, pastinya.

Aku tertawa getir. Menyakitkan.

Banyak kenangan indah bersamanya.
Dia sudah mengisi kehampaan hidupku.

Dia yang telah membuatku merasa ada di dunia ini.

Dia yang telah mengambil sepotong hatiku.

Dan... bagaimana mungkin aku bisa baik-baik 'saja' hanya dengan sepotong hati yang aku punya?

Pukul 08.55 pagi

Aku masih terpuruk dikasurku. 5 menit lagi sang mempelai pria akan memasang cincin permata di jari manis Anna. Mencium bibirnya lembut. Mengucap 'janji sehidup-semati' didepan Tuhan. Oh! God!

Aku memilih tak datang di pernikahannya.

Datang di acara pernikahan itu, sama saja aku menyukai pernikahan 'itu'.

Tepat Jam 09.00
Aku mendesis panjang.
Menutup mata dalam-dalam.

Semoga bahagia, Anna. Separuh hatiku.

1 tahun berlalu sudah. Tak ada perubahan berarti dalam hidupku.

Semua sama. Sama-sama menyakitkan.

1 tahun itu, aku benar-benar mengurung diriku dalam kenyataan hidup.

Ya Tuhan! Aku tak pernah seterpuruk ini. Sungguh.

Untuk pertama kalinya, dalam 1 tahun ini, kubuka tirai jendela kamar. Membiarkan cahaya pagi masuk kedalam. Memberanikan menatap dunia.

Aku berdiri terpekur dijendela.

Mataku menatap gadis yang sedang duduk di tempat pemberhentian bus. Dia sedang menunggu bus mungkin, Entahlah.

Hanya jalanan satu arah yang menghalangi kami. Aku terus memandanginya.

Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya, kearahku.
Menatapku polos, untuk kemudian tersenyum.

Deg!

Senyum yang kembali mengingatkanku pada gadis manis nan lugu, Anna.

Aku menyeringai lebar. Separuh hatiku yang baru.

Without You (One Shoot)Stories to obsess over. Discover now