Halo semuanya.. Ini pertama kalinya gue nulis, dan ini karya pertama gue. Ceritanya masih on going dan akan gue update 1 minggu 1 cerita karena gue juga sambil kerja hehe. Semoga ceritanya ga krik krik dan maaf kalau ada typo atau masih ngaco ya penulisannya.
Jangan lupa comment dan follow gue juga ya! thank you and happy reading!
***
Gadis itu mematikan alarm yang berbunyi di iPhone-nya. Dia melihat layar iPhone-nya dan bergegas bangun, ternyata sudah pukul 5 pagi. Gadis itu bangkit dari kasurnya dan berlutut di pinggir kasurnya, tangannya menyatu dan jari-jarinya saling terkait. Sudah menjadi keharusan bagi gadis itu untuk berdoa mengucap syukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk membuka matanya lagi. Setelah selesai mengucap syukur kepada yang Kuasa, gadis itu memasuki kamar mandi di sudut kamarnya, membersihkan diri dan bersiap.
"Pagi Bun!" Sapa gadis itu sambil menuruni tangga, dilihatnya Bundanya sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi Sayang, ada kelas pagi hari ini? Mau bawa bekal?" Tanya sang bunda kepada putri semata wayangnya.
"Gausah Bun, nanti aku mau ke kantor tempat aku magang buat pengenalan, jadi aku makan disana aja"
"Yasudah kalau begitu, ayo sarapan dan minum vitaminmu" perintah sang Bunda dan Gea langsung duduk di meja makan melahap sarapannya.
Ageha Avigayil Rosalin, bagi Gea anugrah terindah ketika orangtuanya memberikan nama yang indah untuk dirinya. Namun kenyataan tidak seindah nama yang ia miliki. Gea anak broken home, orangtuanya tidak bercerai tapi tinggal terpisah. Ayahnya sangat memanjakan dan menyayanginya karena dia anak perempuan satu-satunya, namun di sisi lain ayahnya adalah pria yang selalu bermain wanita, ayahnya sering sekali berbohong dan berselingkuh dengan wanita lain.
Menjadi anak perempuan memberikan kesenangan dan juga kesedihan bagi dirinya. Dari kecil Gea tidak pernah hidup satu rumah dengan ayahnya, ayahnya seorang kontraktor yang selalu berpindah-pindah tergantung proyek yang ada. Ageha memiliki 2 kakak laki-laki, kakak pertamanya sudah menikah dan tinggal di Singapura bersama dengan istrinya. Kakak keduanya mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang kontraktor.
"Bun, aku berangkat ya!" Pamit Gea kepada Bundanya, mencium tangan bundanya dan mengambil kunci mobil miliknya.
"Hati-hati ya jangan ngebut!" Bundanya mengikuti Gea hingga pintu rumah mengantar putrinya.
Pagi ini terasa sangat cerah dan sejuk, Gea berharap hari pertama magangnya ini menjadi awal yang menyenangkan, karena Gea akan magang di perusahaan ini selama 1 semester. Gea memberhentikan mobilnya, mematikan mesin dan turun ke rumah sahabatnya selama dia kuliah.
Gea menekan bel pintu di sebuah rumah besar berpagar cokelat itu, yang tidak lama kemudian seorang pekerja rumah tangga di rumah sahabatnya keluar. "Tara ada bi?"
"Eh non Gea, ada non. Kata non Tara, non Gea langsung naik aja ke kamarnya." jawab bi Minah sambil membukakan pagar untuk Gea. Lalu Gea mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Gea melangkah masuk ke dalam rumah dan dilihatnya orangtua Tara yang sedang sarapan. "Pagi om, tante. Permisi.." Ujar Gea sopan sambil mencium tangan keduanya.
"eh Gea sayang, apa kabar? ih kamu udah lama loh ga main ke rumah" ibu Tara, tante Dara tersenyum menyambut Gea.
"iya Gea udah lama ga kelihatan. udah sarapan? yuk sarapan bareng om sama tante sini" Ayah Gea, om Tora menambahkan.
Gea tersenyum karena orangtua Tara selalu begitu baik kepadanya, "sudah kok om, tante. tadi sarapan di rumah" jawab Gea ramah.
"Yasudah, Tara di atas nak kamu naik aja ke kamarnya" jawab tante Dara.
YOU ARE READING
Trust
Romance"Why is it so hard to trust people?" Tanyanya kepada gadis berambut coklat panjang di depannya. "Why is it so hard to keep a promise?" Jawab gadis itu membalikan pertanyaan pada laki-laki tinggi di depannya. Ageha Avigayil Rosalin, bagi Gea anugrah...
