I GOT YOU

14 3 1
                                        

Layaknya penawar, raut wajahnya manis. Tak mampu kualihkan pandanganku darinya barang sedetikpun. Rambut hitam mengkilat di bawah cahaya remang rembulan. Tubuhnya indah berbalut gaun putih. Bersinar, bak bintang di kegelapan. Bibir merah merona nan mungil, matanya yang besar, dengan iris biru mengunciku dalam tatapannya.
Manik mataku terus mengawasi tiap geraknya yang perlahan memangkas jarak di antara kami.

"Sudah lama,  Jinhwan-a?"

Bibirnya bergerak manis, kendati tak dapat kutangkap jelas. Seulas senyum semanis madu, bagai menghunjam jantungku. Bagaimana bisa aku berpaling?
Hanya tarikan samar sebelah bibirku menjawabnya. Jemariku bersiap untuk menyambutnya.
Dia tepat di hadapanku. Tubuhku dibawa ke dalam dekapanya. Aku bergeming, seiring aroma khas menusuk indera penciumanku. Kuhirup dalam-dalam, nyaris meruntuhkan tubuhku.

Kegelapan yang mendalam. Keheningan yang tajam. Sekarang aku membuka mata untukmu.

Dia menatapku terlonjak, menjauhkan tubuhnya dari jangkauan benda hitam berbahaya dalam genggamanku yang mengarah padanya.


"Kau tak bisa mengelak, kau tak bisa bersembunyi atau lari dariku. Karena kau hanya milikku."


Kuarahkan pandanganku padanya, membidik pada bagian tubuhnya yang begitu menarik perhatianku. Perlahan namun pasti kutarik pelatuknya-

Bang!!!



Tepat menuju jantungnya, peluru cintaku mendarat. Gaun putih tak lagi terlihat bersih. Kurasa itu lebih baik-dengan noda merah sebagai penghias warna di atas gaun suci.

"Jantungmu hanya milikku."

Tungkaiku menuju padanya. Tubuh indah tak bernyawa. Sayang, peluru takdir mengharuskanmu menjadi milikku—atau tidak? Kurasa dengan jantung milikmu dalam genggamanku itu cukup.


Fin.

I GOT YOUWhere stories live. Discover now