Red n Blue or Blue n Red

11 2 0
                                        

#hope you like it,

Merah dan biru. Biru dan merah. Dalam beberapa teori mengatakan bahwa merah dan biru adalah warna dasar disamping warna kuning. Merah, biru, kuning hubungan mereka tidak bisa menjadi seperti hitam dan putih. Hubungan mereka tidak seperti hitam yang biasa dilambangkan sebagai kegelapan dan putih sebagai cahaya.

Tidak seharusnya seseorang memutuskan mana yang lebih baik dari merah dan biru. Semua itu tentang selera. Banyak orang yang lebih menyukai biru, banyak pula yang lebih menyukai merah, dan ada pula yang menyukai keduanya, atau bahkan kemungkinan yang lain. Dicerita ini, akan menceritakan tentang dua orang yang menyukai biru dan menyukai merah.

"Omma, aku tidak mau yang ini, aku tidak suka warna merah," kata seorang anak laki-laki pada ibunya. Ibunya hari ini membawanya ke toko untuk membeli syal, karena udara sudah mulai dingin. Ibunya pun membalas, "Kenapa? Merah itu kan menggambarkan keberanian."

Si anak laki-laki tiba-tiba teringat sesuatu. Warna merah kental mengalir. Dia memejamkan mata sejenak dan menenangkan dirinya. "Ahjumma, apa tidak ada warna lain?" tanya si anak laki-laki pada pemilik toko.

"Maaf, tapi semuanya sudah terjual, sisanya tinggal yang merah ini, dan biru yang sudah diambil gadis kecil itu," kata si Ahjumma pemilik toko.

Si gadis kecil yang dimaksud rupanya sedang berjalan ke arah mereka, "Sebenarnya saya lebih menyukai yang merah, Ahjumma, boleh saya menukarnya?" tanyanya pada si ibu.

Si ibu dan anaknya bertatapan, tatapan si ibu ingin membeli syal merah dan si anak yang menginginkan syal biru. Si anak mengambil syal merah itu dari tangan ibunya dan memberikannya pada gadis kecil. "Ini, aku tidak suka warna merah."

Si gadis menerima syal merah itu dengan senyuman ceria di wajahnya. Si anak laki-laki pun juga membalas dengan senyuman. Perasaan yang sama ketika si anak laki-laki lulus SD ia rasakan kembali, perasaan bahagia dan hangat ketika Omma dan Appanya bersamanya merayakan kelulusannya. Dengan begitu, si gadis kecil membeli syal merah dan si anak laki-laki membeli syal biru.

~O~

Tiga tahun kemudian, disuatu pagi.

"'Aku tidak suka warna merah' Oppa!" kata seorang gadis kecil dengan syal merah menunjuk seseorang dengan syal biru di depannya. Seseorang yang ditunjuk itupun menengok. "Kau! Anak yang waktu itu kan?" dia mengenali gadis kecil itu.

Mereka kemudian duduk di halte bus. "Kau masih menggunakannya?" tanya si laki-laki. "Oppa juga. Tapi, kenapa Oppa tidak pernah menyapaku? Kita berjalan di jalan-jalan ini setiap hari, walau kita sudah sedikit berubah dari 3 tahun yang lalu, aku masih mengingat syal biru itu dengan jelas."

"Meski aku melihat seorang gadis kecil dengan syal merah, aku tidak bisa memastikan bahwa itu kau kan? Kita juga tidak pernah bertatap muka saat berjalan," jawab si laki-laki membela diri. "Kenapa kau memanggilku Oppa? Kau bukan adikku."

Si laki-laki mencoba mengalihkan pembicaraan, benar dia tidak menyapa bahkan tidak mengingat tentang gadis kecil itu. Si gadis kecil yang semula menatap si laki-laki mengalihkan pandangannya ke arah bus yang datang. Dia berdiri.

"Karena Oppa lebih tua dariku."

"Aku juga tahu itu, tapi, kita tidak sedekat itu,"

"Kalau hari ini kita bertemu lagi, berarti kita sudah cukup dekat," si gadis kecil masuk kedalam bus yang datang dan melambaikan tangannya. "sampai bertemu lagi Oppa."

Sore harinya, si gadis kecil dengan syal merah, baru saja keluar dari toko roti, ia berjalan ke arah halte bus. Tidak, bukan untuk menunggu bus, tapi untuk menunggu jemputan orang tuanya. Di lain sisi, si laki-laki dengan syal biru, juga berjalan ke arah halte bus yang sama, biasanya dia akan menunggu bus dihalte yang lebih jauh dari sekolahnya lebih dekat dari arah rumahnya, tapi kali ini dia berjalan ke halte yang lebih dekat dari sekolahnya dan lebih jauh dari arah rumahnya.

Si laki-laki yang lebih dulu menyadari kehadiran si gadis kecil berbalik arah. Tapi, sebelum sempat melangkah pergi, si gadis kecil juga melihat si laki-laki dari belakang memanggilnya, "Sudah kubilang kita akan bertemu lagi kan, 'Aku tidak suka warna merah' Oppa." Dia menarik si laki-laki untuk duduk. "Oppa mau roti?"

Si laki-laki melihat roti yang dibawa gadis kecil hanya satu, dia menggeleng. "Aku punya insting yang bagus, sudah kubilang kan Oppa, kalau kita akan bertemu lagi." Dia menatap si laki-laki, si laki-laki sendiri masih berpikir kenapa hari ini dia harus ke halte bus ini. "Aku tahu, Oppa biasanya tidak naik bus dari sini kan, dan aku juga tahu Oppa tidak tahu kalau aku akan ada disini di jam ini."

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Kau masih kecil, katakan tanpa berbelit-belit," kata-katanya menggambarkan kalau dia geram.

"Maksudku, kita sudah cukup dekat, Oppa, sepertinya pertemuan kita ini takdir." Si gadis kecil tersenyum. Senyum tulus dan ceria. Si laki-laki sedikit salah tingkah dan berkata, "Apa yang kau tahu tentang takdir?"

"Aku tahu," jawabnya sedikit bertingkah lucu, "ah, sebentar lagi Ommaku akan datang."

"Kau punya Omma sekarang?" tanya si laki-laki. Dia kemudian sadar pertanyaannya sedikit salah, tapi sebagian dari dirinya membenarkan pertanyaan itu. "Maaf!"

"Uh, sekarang aku punya Omma, walaupun Omma tiri," jawab si gadis kecil santai.

"Appamu menikah dengan wanita lain?" tanya si laki-laki lagi, melihat lawan bicaranya kebingungan dia menambahkan, "maksudku, Appamu menikah dengan Omma tirimu setelah bercerai dengan Ommamu."

"Tidak, aku tidak tahu Omma dan Appaku. Tapi sekarang aku punya Omma tiri, Appa tiri bahkan Oppa tiri juga."

"Sudah tidak usah diteruskan, aku tahu maksudmu." Si laki-laki menampakkan wajah sedih. "Ommaku sudah meninggal, dua tahun yang lalu. Appaku sudah meninggal empat tahun. Tidak ada yang bersamaku saat aku lulus SMP. Tidak ada yang melihatku dengan seragam SMA ini."

"Oppa, aku tidak suka cerita sedih," si gadis kecil tersenyum pahit, "maaf."

"Aku yang seharusnya minta maaf," kata si laki-laki, "berapa umur Oppamu?"

"Dia tiga tahun lebih tua dariku."

"Kalian tinggal bersama?"

"Uh!"

"Kau harus berhati-hati dengannya di masa depan."

Si gadis kecil berdiri lalu melambai pada Ahjumma di seberang jalan. "Lain kali kalau kita bertemu lagi, Oppa yang harus lebih dulu menyapaku, karena tidak lama lagi aku akan melupakan tentang Oppa." Si gadis menoleh ke arah si laki-laki dan menunggu jawabannya.

"Kita akan bertemu lagi besok kan?"

"Mungkin tidak, kami akan pindah ke luar negeri besok."

"Sepuluh tahun lagi, kau harus pastikan sudah kembali ke Korea."

"Sepuluh tahun lagi, kita pasti akan bertemu, Oppa! Sepuluh tahun lagi, Oppa yang harus menemukanku, tapi jangan menanyai setiap orang dengan syal merah, karena itu memalukan. Kalau kita benar-benar bertemu, itu takdir dan kita akan jadi sangat dekat." Senyum ceria si gadis kecil dari 3 tahun lalu terlihat lagi. Perasaan yang sama ketika si laki-laki lulus SD ia rasakan kembali, perasaan bahagia dan hangat ketika Omma dan Appanya bersamanya merayakan kelulusannya. Kemudian, jantungnya berdetak tak beraturan. Situasi ini, sama ketika computer sedang terlalu banyak tugas dan akhirnya blank. Karena si laki-laki tak juga memberi jawaban, si gadis kecil berjalan menuju mobil Ommanya.

"Umurku 17 tahun, berapa umurmu?" teriaknya. Si gadis kecil sendiri yang sudah berada di tengah jalan menjawab dengan tangannya. Dia membentuk angka 8, kemudian melambaikan tangannya. Sebuah bus kemudian berhenti di hadapan si laki-laki, dia tidak naik ke bus itu, hingga bus itu pergi. Dia berharap melihat gadis kecil itu lagi, tapi gadis kecil itu sudah pergi.

~O~

#See you at the next chapter

SciarpaWhere stories live. Discover now