Duk
"Ati-ati, Neng," kata si supir angkot kepadaku yang cuma bisa mengusap-usap kepala malangku yang kebentur pintu angkot waktu aku menunduk mau keluar. Buru-buru aku turun dari angkot, menahan diri untuk enggak melompat dengan sepatu Keds-ku, takut jatuh, lalu bergegas ke jendela kursi depan dan mengulurkan uang pas pada supir angkot yang udah bapak-bapak itu.
"Makasih ya, Pak," kataku buru-buru.
"Ya, Neng," jawab Pak Supir tersenyum ramah.
Usai membayar aku berbalik badan dan berderap memasuki pelataran gedung kantorku yang terletak di pinggir jalan. Sambil berjalan aku membuka satchel bag-ku, mengaduk-aduk isinya mencari kartu ID yang harus kupakai kalau enggak mau ditegur Pak Satpam yang galak. Begitu menemukannya langsung kutarik keluar kartu itu dan mengenakannya di leherku.
"Pagi, Mbak," sapa Pak Satpam begitu aku melewati posnya. Pak Satpam yang di dadanya bertuliskan 'Hadi' itu lagi mondar-mandir enggak jelas. Mungkin mengamati pegawai-pegawai yang telat masuk di hari Senin, termasuk aku.
"Pagi, Pak," aku membalas Pak Hadi yang berpostur tinggi besar dan bermuka galak itu.
Aku mempercepat langkahku begitu mencapai halaman depan gedung kantorku, melirik jam tangan Swatch yang menunjuk pukul 8 lebih. Mampus! Telat setengah jam lebih dari jam kantorku yang masuk pukul 7.30. Hanya gara-gara aku berangkat dari rumahku di Cibubur yang selalu macet parah dan bukannya dari kos-ku di dekat kantor.
Pintu masuk kantorku terbuka lebar dan aku setengah berlari memasukinya. Memasuki aula gedung kantorku aku disambut banner promosi buku-buku terbitan grup penerbitanku yang dipasang persis di depan toko buku kecil di sebelah kanan pintu masuk. Termasuk buku yang kutangani sebagai asisten editor Penerbit Andaru. Salah satu hal yang paling kusuka sebagai asisten editor adalah ketika melihat bukuku terpampang di toko buku. Ada suatu kebanggaan tersendiri.
"Pagi, Mbak Cesta," sapa Pak Jupri yang bertugas di meja resepsionis hari itu saat aku melewati mejanya.
"Pagi, Pak," balasku. Pak Jupri ini sebenarnya bukan resepsionis tapi termasuk bagian security. Tapi, sejak mbak resepsionis terakhir mengundurkan diri Pak Jupri lah yang menggantikannya.
"Macet ya, Mbak?" tanya Pak Jupri yang ramah dan hafal padaku gara-gara kartu aksesku untuk masuk ruangan kantorku sering bermasalah jadi aku sering minta bantuannya.
"Banget, Pak," kataku sambil berlalu, bukannya enggak sopan tapi kalau pakai acara berhenti dan mengobrol dulu bisa-bisa dibantai editorku karena enggak muncul-muncul di kantor.
Derap langkahku yang terburu-buru langsung melambat begitu aku mencapai lift. Sudah ada beberapa orang menunggu lift turun ke lantai 1. Hendak lewat tangga ruang kantorku ada di lantai 5. Lumayan bikin pegal kaki yang dari tadi sudah naik turun angkot dan bis. Terpaksa aku ikut-ikutan nungguin lift bersama beberapa orang yang wajahnya cukup familier bagiku walau aku enggak mengenalnya. Selain karena aku baru masuk 6 bulan lalu, di gedung kantorku ini memang ada dua penerbitan lain. Penerbitan Andakara yang jadi penerbitan terbesar dengan banyak lini dan penerbitan Andamar yang fokus di buku sekolah.
Lagi asyik mengamati angka di atas lift tahu-tahu ada yang berdiri di sampingku. Aroma parfum cowok menguar sampai ke hidungku dan aku buru-buru berpaling, mendapati cowok ganteng membalas tatapanku dan tersenyum. Nyesss.... Hilang sudah rasa bete karena telat masuk kantor, sirna sudah kaki pegal gara-gara berdiri di bis, musnah sudah kepala benjut gara-gara kejeduk. Semua menguap bersama senyum Mas Sakti, desainer penerbitan sebelah yang kece luar biasa. Tinggi, manis, ganteng, kalem, diem, pokoknya memenuhi kriteria jadi kecengan bersama aku dan teman-teman kantorku. Sayangnya aku enggak kenal, cuma berhubung satu lantai, ruangannya sebelahan jadi sering berpapasan dan ketemu di lift. Jodoh kali ya?
Ding...lift berhenti tepat di depan kami, membuka pintunya dan mempersilakan kami masuk. Aku menunggu dengan tidak sabar beberapa orang di depanku yang bergerak dengan lambat. Enggak mungkin juga mendorong mereka, apalagi di samping Mas Sakti, kudu jaim! Begitu giliranku tiba aku pun memasuki lift itu, Mas Sakti mengikuti di belakangku, dan berdiri tepat di sebelah kiriku. Doh! Dengan tangan kanan aku menekan lantai kami, 5. Pintu lift nyaris menutup ketika seseorang berseru, "Tunggu".
Aku buru-buru menekan tombol "Hold".
Seorang cowok muda terengah-engah di depan pintu lift.
"Sorry," kata cowok tinggi itu buru-buru ikutan masuk ke lift yang sudah berdesak-desakan. Berdiri di samping kananku dan membuatku terapit di antara dua cowok tinggi, aku cuma sebahu mereka. Aku melirik ke kiri mengamati Mas Sakti yang setia dengan jins belel dan kaosnya. Dandanan cuek Mas Sakti yang bikin dia makin ganteng. Lalu gantian mengarahkan ekor mataku ke kanan, pada si cowok berkemeja kotak-kotak dan jins hitam. Entah merasa diamati atau kebetulan tahu-tahu cowok itu balas melirikku. Saat mata kami bertemu mata cowok itu melebar, rada terkejut. Aku buru-buru membuang mata, pura-pura enggak lihat. Cowok itu masih mengamatiku untuk sesaat sebelum mengalihkan pandangan. Gantian aku yang mencuri lihat sekilas ke cowok di sampingku ini. Sekilas sih kayaknya lumayan lucu, imut, berkulit terang. Kalau diingat-ingat kayaknya aku pernah lihat nih cowok, entah di mana, mungkin cuma kembarannya, tapi ada sesuatu yang familier darinya. Lagi diam-diam memerhatikan sembari mengingat-ingat tahu-tahu lift berguncang, aku yang gampang kaget refleks berpegangan pada cowok di sebelahku.
"Aaaaah..," seorang cewek dan ibu-ibu di belakangku spontan berteriak.
"Gempa ya?" tanyaku, kaget, memegang lengan cowok di kananku.
"Bukan, paling mesin liftnya rusak," sahut Mas Sakti kalem tak lupa pamer senyum maut.
"Oh," kataku, baru sadar tanganku masih memegang si cowok yang melihatku dengan bingung.
"Eh, maaf," kataku melepaskan tanganku dari cowok itu.
"Maklum lift tua," celetuk bapak-bapak yang berdiri di belakang.
Belum pulih kekagetanku tahu-tahu ponselku berbunyi nyaring. Menimbulkan satu kehebohan lagi di dalam lift sempit itu. Aku buru-buru membuka tas-ku dan merogoh, meraba-raba ponselku.
Mbak Geni
Aku menatap layar ponselku dan buru-buru mengangkatnya.
"Ya, Mbak?" balasku pada suara bernada tinggi di seberang sana yang sudah enggak sabar menunggu kedatanganku.
"Iya, iya, ini lagi di lift," kataku, sebel.
"Iya, iya, udah yak, udah mau nyampe," aku buru-buru menutup telepon walau Mbak Geni masih berteriak-teriak padaku.
"Ck," tanpa sadar aku mendecak cukup keras dan menarik perhatian dua cowok di sampingku yang kontan berpaling padaku.
Aku menatap mereka bergantian dan tersenyum dengan enggan.
Ding...lift berhenti di lantai 4.
"Permisi, Mbak," kata seorang bapak di belakangku.
Aku memberinya jalan, bergeser ke kanan mempersempit jarak dengan cowok di sampingku.
Menyusul di belakang si bapak, cewek yang tadi berteriak, dengan badan tinggi bongsor cewek itu asal lewat di sampingku tanpa permisi. Bahunya menyenggol tubuh mungilku dengan kasar membuatku makin mepet ke cowok di sebelah kananku.
"Ck," aku menatap galak cepol mbak-mbak itu yang lewat seenaknya.
"Sorry," kataku buru-buru pada cowok di sebelah kanan yang dari tadi kena pepetanku.
"Enggak papa, santai aja," kata cowok itu, tersenyum agak malu-malu. Lucu juga, batinku.
Pintu lift kembali menutup dan membawa kami naik satu lantai.
Ding....
Begitu pintu terbuka aku jadi yang pertama menginjakkan kaki keluar. Bergerak ke arah kiri lift menuju ruanganku. Berdiri di depan panel pintu masuk ruanganku. Mengangkat kartu aksesku untuk membuka pintu.
Bip...lampu sensor berwarna merah. Bukan hijau. Kuulangi sekali lagi. Masih merah. Aaarrrggghhh...masak iya kartu aksesku ngadat lagi.
"Kenapa? Enggak bisa ya?" tanya Mas Sakti berdiri di depan ruangannya. Siap dengan kartu akses di tangan.
Aku mengangguk. "Iya, suka enggak mau. Bisa minta tolong enggak, Mas?" tanyaku, meringis.
Mas Sakti tersenyum dan berjalan ke arahku. Berdiri di dekatku dan mengangkat kartu aksesnya.
Bip.... Kali ini lampu berwarna hijau. Ini pintu memang minta dibukain cowok ganteng.
"Makasih ya Mas," kataku, mendorong pintu ke dalam.
"Sama-sama," balas Mas Sakti sebelum kembali ke pintu ruangannya, tepat di sampingku.
Sebelum menutup pintu aku sekilas menangkap cowok di sebelah kananku tadi juga berdiri di ruangan depan kami. Ruangan bagian marketing dan komunikasi. Cowok itu masih berdiri di depan pintu, mengamati kami dari seberang. Aku mengabaikannya dan menutup pintu ruanganku tak 'sabar' menemui editor tercinta.
****
Author's Note:
Judul minjem lagu U2 "Stuck In A Moment You Can't Get Out Of" karena Cesta kejebak di lift bareng dua cowok ganteng di sisi kiri dan kanan.Hohoho....
BINABASA MO ANG
P.S. I Could Be Your Jonas....
ChickLitDear Cesta, Aku enggak keberatan kok jadi Jonas kamu dan kamu enggak perlu jadi Anna, kamu cukup jadi Cesta karena hanya Cesta seorang yang membuatku pengin jadi 'Jonas'. Love, M Mataku mengerjap tak percaya, berkedip-kedip seperti lampu hiasa...
