[AfterEden : 6]
7 angels
A miniature garden, Eden
A silently approaching devil, Abyss
A sinful wish, a blaze that engulf everything
7 angels, wings burned
Fall to the land of man
And live as men
A serene oblivion
7 keys, will fill their void
And will bring them backTo the EdenTo the predetermined end
[Nol]
[Duapuluhsatu tahun yng lalu]
BAM
Asap yang membumbung tinggi.
Api yang melahap segala yang disentuhnya.
Derap lari para pria berbaju putih.
Teriakan perih mereka yang putus asa.
Namun tak peduli berapa kalipun kata 'Tolong' bergema di ruangan itu, pertolongan yang mereka harapkan.
Dan aku, walaupun aku berada di tengah kekacauan itu, entah mengapa perasaanku begitu tenang. Seakan peristiwa ini telah terjadi berkali-kali hingga aku terbiasa.
"****"
Suara pria yang menggendongku mencapai telingaku. Aku menengok, walau kata-katanya tak bisa kumengerti. Mataku menatap wajah paniknya, dan pria itu tersenyum.
Mengapa kau tersenyum?
"I--- akan m—bawa—ke –Ra—" Tangannya menggenggam kedua tanganku, meletakkan sesuatu di antaranya.
Apa? Apa yang kau katakan?
Aku berusaha menggerakkan bibirku, namun seluruh otot di tubuhku seakan mati.
Sebuah ledakan menghentikan kata-kata pria itu. Ia menekuk tubuhnya, mencoba melindungiku. Dan matanya, yang kini tersimbah darah, menatapku lega.
Perlahan sosok pria itu menghilang, digantikan buliran udara yang bergerombol dalam birunya air. Dan ingatanku berakhir dengan dua kata yang dibisikkan pria itu sebelum sebuah suara ledakan lain membuatku tertidur.
"For future (Demi Masa Depan)"
***
"The world shall head to the predetermined end"
Saat kubuka mataku, tiada lagi kegelapan yang menyelimutiku. Kali ini bulan bersinar terang, seakan mencibirku, mengingatkanku akan perkataan orang itu,
"Kau bagaikan pantulan bulan di air. Saat aku kira aku mendapatkanmu, yang kudapat hanyalah ilusi."
Gadis itu benar. 'Dia' adalah ilusi. Kehidupan 'itu' adalah ilusi. Ilusi yang diciptakan seorang 'aku' untuk mengisi kekosongan 'ku' sendiri. Hanya imajinasi fana seorang pria yang percaya semua berjalan sesuai kehendaknya.
Dan saat akhirnya aku mengetahui kebenaran akan diriku, masa lalu, asal muasal, dan tujuan aku diciptakan, mana bisa aku berpaling dan kembali ke masa itu. Benang kehidupanku telah terpotong. Bahkan jauh sebelum jiwaku turun ke dunia.
Ah, aku bahkan tidak yakin jika aku punya 'jiwa'.
Tanganku berdenyut, menggenggam erat benda keemasan di telapak tanganku. Benda yang dingin, yang sudah menyaksikan entah berapa banyak perngorbanan.
Dan saat kubuka mataku untuk yang kedua kalinya, tiada lagi kegelapan menyesatkanku. Yang ada hanyalah jendela kecil yang tersusun bertingkat menuju ketidak terbatasan. Tiap-tiapnya menggambarkan kisah yang mungkin terlupakan. Oleh manusia, oleh waktu, oleh dunia.
Namun tidak oleh 'Kami'. 'Kami' akan berdiri disini, mengamati, menanti, sesuai apa yang telah di tugaskan kepada 'Kami'. Kenangan-kenangan ini biarkan menjadi petunjuk. Akan kapan 'Kami' harus kembali ke dunia itu.
Duni yang tergambar di hadapan kami. Dunia yang berjalanperlahan menuju kehancuran. Dunia yang kejam, dimana kami dilahirkan hanya untuk mati.
"Arakiel."
Gema langkah kaki menyeruak dari punggungku. Seorang pria yang bagaikan malaikat. Putih, suci. Tidak ada pada dirinya setitikpun noda.
Saudaraku. Saudaranya. Ia yang memikul tugas yang sama denganku. Yang hidup dalam arus waktu yang sama.
"Azazel."
Pria itu tersenyum mendengar aku memanggil namanya. Manik matanya bersinar lemah dengan cahaya merah yang memabukkan.
"Saatnya telah tiba," ucapnya lirih.
Kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah pertanda. Bagi kami dan bagi manusia.
--o--
KAMU SEDANG MEMBACA
AfterEden: 6
General FictionGayatri Judistia Putri. Di tengah kehidupannya yang biasa, ia diterima di sebuah perusahaan yang tidak biasa. Namun siapa sangka, saat ia mengira takdir akhirnya membawa dirinya ke masa depanyang cerah, ia malah membawa gadis itu ke mimpu buruk terk...
