Anomali

48 4 0
                                        


Gadis itu, dengan gaun musim panas berwarna biru lautnya, memulai membangun tembok yang tinggi ketika dia tersadar bahwa sekeping harta karunnya telah hancur. Seorang pemuda telah merebut harta karun itu dan memecahkannya dalam proses perampasan,

Gadis itu berusaha memperbaiki harta karunnya yang berupa gelas kaca itu. Kepada tukang sihir ia datang. Nenek sihir yang tinggal di luar desa bersedia memperbaiki gelas kaca itu dengan sebuah syarat: gadis itu harus menjaga gelas kaca itu agar tak pecah lagi untuk ke dua kalinya.

Gadis itu, dengan gaun biru yang sama, menyanggupi permintaan sang nenek sihir dan mendekap erat gelas kaca itu.

Mulailah gadis itu membangun tembok tinggi nan kokoh di sekeliling gelas kaca itu. Dia sangat yakin bahwa tembok itu tak akan bisa ditembus oleh siapapun di dunia ini.

Beberapa pria berusaha mencuri gelas kaca itu. Banyak usaha yang dilakukan para lelaki itu untuk meruntuhkan tembok itu. Tapi percuma saja, tembok itu terlalu tangguh untuk dihancurkan. Bahkan dengan godam sekalipun. Untuk waktu yang cukup lama, gadis itu hidup dengan tenang.

Tetapi kekalutan mulai membayangi. Gadis itu tersadar, tembok kokoh yang dia bangun telah menghalangi matanya untuk memandangi kilau indah gelas kaca itu. Gadis itu bersedih. Kekalutannya semakin menjadi-jadi ketika dia menemukan garis-garis retakan di sepanjang permukaan tembok itu. Lambat laun tak ada seorang pun pria yang tertarik merebut gelas kaca itu.

Dia mengukuhkan hatinya sekali lagi. Kekuatan hati dan mental yang kembali lambat laun membuat tembok itu kembali kokoh.

Tetapi, takdir memiliki rencana lain untuk sang gadis.

Seorang pemuda, dengan pakaian kelabunya, mendekati tembok itu. Pemuda itu mengetahui barang apa yang berada di balik dinding kokoh yang kini telah menjadi perbincangan hangat.

Pada mulanya pemuda itu hanya mengamati tembok itu dan mengucapkan salam pada sang gadis. Kemudian ia pergi, tak berusaha merusak tembok itu seperti pria-pria lainnya.

Hari ke dua dia melakukan hal yang sama.

Hari ke tiga dia melakukan hal yang sama.

Begitu seterusnya hingga sebulan tak terasa telah berlalu.

Memasuki bulan ke dua, pemuda itu berjalan mengitari tembok. Begitu hingga bulan ketiga datang, dia mulai memberanikan diri berbisik lembut dan sesekali menyentuh tembok itu.

Sang gadis bergaun biru itu hanya bisa memandangi dengan heran tingkah pemuda itu. Tapi tak dipungkiri ada sedikit rasa penasaran muncul di relung terdalam benak gadis itu.

Di bulan yang ke tujuh, lelaki itu membawa sekuntum mawar merah dan meletakkannya di atas tanah dekat tembok itu. Lalu dia berdiri tegap dan tersenyum menatap tembok itu. Dengan satu sentuhan kecil, dengan ujung jari telunjuk kanannya, pemuda itu dapat meruntuhkan tembok kokoh yang sudah bertahun-tahun berdiri itu. Anomali.

Gadis itu menangis sejadi-jadinya melihat tembok yang ia pertahankan selama ini telah runtuh dengan begitu mudahnya. Raungannya semakin keras ketika ia mendapati gelas kaca yang selalu dijaganya selama ini hanya tinggal separuh. Dia tak menemukan paruh lain dari gelas kaca itu.

Dan pemuda itu berjalan mendekat. Dia mengulurkan tangannya yang menggenggam separuh lain gelas kaca milik sang gadis.

Pemuda itu berkata bahwa ia datang kepada gadis itu untuk mengembalikan separuh harta karun milik sang gadis yang telah dibelah dua oleh takdir. Dan bersama pemuda itu, sang gadis berusaha menjaga gelas kaca itu sepanjang sisa hidup mereka.


~FIN~


ANOMALIStories to obsess over. Discover now