SECOND CHANCE ( Maven )

32 4 0
                                        

Yang diatas itu Maven yaa. Ganteng kan?

***

13:40 siang.

Setelah Maven menghentikan motornya secara mendadak dan setelah itu langsung menjalankan dengan kecepatan tinggi, Pimtha tak henti-hentinya mendumel. Dan hal itu membuat Maven tersenyum walau tipis. Melihat Pimtha yang cerewet seperti itu, entah mengapa, membuat hatinya menghangat. Walaupun berisik. Ditambah lagi Pimtha yang memeluknya dari belakang, sejujurnya Maven sengaja membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Bahasanya sih, modus.

Setelah sampai di Cafe Exride, Maven langsung melepas helm fullface nya dan melirik kaca spion untuk melihat Pimtha yang juga sedang melepas helmnya. Wajah Pimtha yang sedang cemberut membuat Maven mau tak mau mengembangkan senyumnya lagi.

"Gimana, seru gak?" Tanya Maven sambil membantu Pimtha turun dari motornya.

"Seru pala lo! Gue hampir mati jantungan tau gak." gerutu Pimtha.

"Ah tapi enak kan meluk meluk gue." goda Maven sambil menoel pipi Pimtha.

"Apaan sih," sanggah Pimtha, tapi tak urung membuat pipinya memerah.

Tambah cantik aja lo kalau kayak gitu, batin Maven.

"Ayo ah gue laper," ajak Pimtha sambil menarik lengan Maven.

"Lo mau pesen apa? Biar gue pesenin," Tanya Maven saat mereka sudah mendapatkan tempat. Dipojok ruangan, dengan jendela besar disampingnya. Ini tempat favorit Pimtha dan Maven di Cafe Exride. Karena mereka bisa melihat pemandangan diluar Cafe.

"Gue mau sandwich aja deh. Ohya, sama berry blossom,"

"Oke," setelahnya Maven langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.

"Spaghetti carbonara, lemon squash, sandwich sama berry blossom nya ya mas," pesan Maven.

"Masing masing satu ya kak?" Tanya pelayan tersebut yang disambut anggukan dari Maven.

"Baik saya ulangi, spaghetti carbonara satu, lemon squash satu, sandwich satu, dan berry blossom satu. Silahkan ditunggu ya kak," jelas pelayan itu dan langsung pergi ke dapur.

"Dikelas lo ada anak baru?" Tanya Maven memulai percakapan.

"Ada." jawab Pimtha dengan singkat karena takut gamenya terganggu. Maven yang melihatnya hanya bisa memutar bola matanya, dan langsung mengambil gadget Pimtha dari bawah meja.

"Ih, apaan sih Mave," Pimtha kesal karena gadgetnya diambil paksa. Padahal sebentar lagi level gamenya akan naik.

"Jangan main hape terus, nanti mata lo rusak." Maven langsung memasukkan gadget Pimtha kedalam tasnya.

"Dan juga, jangan cuekin gue. Gue gak suka diduain sama gadget." lanjut Maven.

"Aaa, Mave cemburu yaa?" Goda Pimtha sambil menaik-turunkan alisnya.

"Iya gitu," gumam Maven pelan.

"Apa?" Tanya Pimtha karena ia merasa Maven mengatakan sesuatu tadi.

Maven tidak menjawab pertanyaan Pimtha karena makanannya sudah datang.

"Makasih ya mas," ucap Pimtha saat makanannya sudah berada didepannya.

Maven langsung memakan spaghettinya setelah pelayan tadi pergi. Merasa ada yang memerhatikannya, Maven pun mengangkat kepalanya.

"Kenapa?" Tanya Maven saat melihat Pimtha yang sedang menatapnya dengan mata memicing.

"Beneran tadi lo gak ngomong apa apa?" Selidik Pimtha.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 16, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

CHANCEStories to obsess over. Discover now