Aku

1 1 0
                                        

Menatap senja dari lantai paling tinggi gedung Mahapura adalah kebiasaan yang tak pernah menjelma bosan. Menunggu lampu menyala satu persatu saat matahari semakin berpulang. Sungguh pemandangan indah di tengah kota yang padat penduduk ini. Aku Almeta, gadis kota yang tak suka keramaian.

Malam ini seharusnya malam kepulangan Regan dari Jakarta, kota yang padat penduduk melebihi kotaku. Kota yang katanya pusat negara. Tapi apa? Berita tentang ketidaknyamanan ada dimana mana, membuat siapa saja yang mendengarnya enggan kesana.

Aku dan Regan adalah pasangan, Pasangan kakak beradik maksudnya. Regan adalah seorang pria tampan, tinggi, putih, berdada bidang yang setiap aku sedih dada itu yang membuatku tenang. Tapi, sudah 3 tahun ini dia pergi ke jakarta menempuh pendidikannya.

Jujur aku merasa kehilangan, merasa kesepian meski pada dasarnya aku suka keadaan sepi. Tapi, Tanpa Regan sepiku, sepi yang pahit. Seperti kopi tanpa gula. Hufftt...

Bercerita tentang kakakku itu tidak akan ada habisnya, karena memang dia satu2 keluarga yang aku punya saat ini. Oh ya.. Aku masih duduk di bangku 2 SMA, tepatnya SMA 1 Klaten, Jawa Tengah. Aku tinggal sendiri di kota klaten ini ( jika Regan kuliah )

"Kringg..." handphone yang ada di sebelah ku berbunyi, tanda ada panggilan masuk.
Aku yang sedari tadi berkutat pada laptop segera mengambil handphone dan mengangkatnya.
"Iya kak ada apa?"
"Dek, sabtu depan saja ya.. Kakak masih ada 1 mata kuliah yang belum ujian" itu telfon dari Regan yang berbicara tentang kepulangannya. Aku menutup telfon setelah satu sampai dua kalimat setelahnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 06.00, aku segera membereskan peralatan yang aku bawa dari rumah tadi sebelum berangkat. Perjalanan pulang tidak terlalu melelahkan, hanya membutuhkan 15 menit, itupun dengan jalan kaki.

🍃

"Al.. Al.." teriakan khas dari gadis rumah sebelah yang setiap pagi membuat sakit telinga. Adalah Ive yang sudah menunggu di depan pintu rumah.
Tanpa jawaban, aku segera membuka pintu dan merangkul pundaknya
"Ayo.." seruku.
"Kebiasaan muncul tiba tiba, kaya jelangkung aja" protes Ive.
Tanpa ada jawaban juga aku segera menariknya dan berjalan bersama menuju sekolah.
Ive adalah sahabat yang paling sabar menghadapi setiap sifat sifatku yang kadang tidak di sukai orang lain. Aku bersahabat dengannya sudah hampir 8 tahun. Lama ya? Kok betah? Nanti juga tau. Hehehe..

🍃

Sekolah jam istirahat,

"Al.. Al.." Ive berteriak dari balik pintu kelasku. Memang, aku dan Ive tidak sekelas, namun setiap jam istirahat kita selalu bersama.
"Bentar ve" jawabku dengan pelan, segera menuju arah suara teriakan Ive.
"Kantin yuk"
"Nggak mau, rame disana"
"Selalu yaaa...."
"Ke atap aja ya ve"
"Iya iya deh"
Segera kami berlari ke arah atap sekolah, dimana diasana ada markas besar ku, Ive, Renal, Fio, Arsi, dan Damed. Kita bersahabat mulai kelas 1 SMP, pertemuan yang setiap di ingat bikin perut geli.
"Al, anter ke UKS ya... Pusing ni"
"Ah elu mah... Ayo gih"

Bau khas ruang UKS yang siapa saja menciumnya akan segera mengenali tempat seperti apa itu. Ruang yang tidak lebih besar dari ruang kelas ini terlihat lengang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 12, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PenyemangatWhere stories live. Discover now