Ranting

43 5 2
                                        

Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Syarif sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.

Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Syarif yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Syarif yang telah terlelap itu dengan senyum.

"Syarif sudah tid ...." Suara seorang pria hendak bertanya.

"Sssst."

Lastri menempelkan telunjuk tangan kanannya ke bibirnya. Seorang pria yang baru saja tiba tadi berhenti bersuara.

"Dia sudah tidur." Lastri memberitahu.

Pria itu menoleh ke arah Syarif. Anak berusia enam tahun itu menangkupkan kepalanya di atas meja belajarnya. Bukan meja belajar yang sesungguhnya, hanya beberapa balok kayu dan papan yang disusun dan dipaku seadanya.

"Kang Firman pindahin Syarif ke atas tempat tidur. Biar aku yang tutup jendelanya."

Lastri menuju jendela kayu, sedangkan Firman, pria yang dia sebut 'Kang' itu itu beranjak dari ambang pintu menuju tubuh mungil Syarif. Dia mengangkat Syarif ke atas pembaringan.

Syarif telah berada di atas tempat tidur. Nyaman ... tanpa beban. Firman dan Lastri memandangi wajahnya sebentar.

"Si Tole sepertinya cape' banget ya, Kang. Kasihan." Lastri mengelus pipi tembem Syarif.

"Kalau gitu besok dia enggak usah dulu bantu cari kayu bakar," ucap Firman menenangkan.

Dia tersenyum kepada Lastri. Begitupun Lastri kepada Firman. Mereka beranjak dari sana setelah dipastikan Syarif nyaman dalam tidurnya.

oooOooo

"Nanti pulang sekolah kita main ya, Rif?"

Syarif menoleh ke bocah kurus di sampingnya. Dia menggelengkan kepala.

"Aku ndak bisa, Tung"

"Loh, kenapa?" tanya Untung, bocah kurus itu.

"Aku harus bantu Bapak. Aku arep nggolek kayu ning alas."

"Kalau gitu aku bantu!"

Syarif mengangguk, tersenyum. "Boleh!"

"Yes!" seru Untung dengan lagak wong londo. Tangannya yang mengepal dihentakkan.

Untung nyengir lebar memperlihatkan ruang di deretan giginya bagian depan yang kosong. Giginya kemarin tanggal dua. Syarif hanya tertawa melihat lagaknya.

Dua bocah SD kelas satu itu terus berjalan beriringan di sepanjang pematang sawah. Pagi itu mereka menuju sekolah yang jaraknya tiga kilometer dari rumah mereka. Hanya 3 kilometer, itu yang selalu Syarif katakan kalau ada temannya yang orang kota menyampaikan belas kasihan.

oooOooo

Syarif melangkah tergesa menuju kamarnya. Tasnya diletakkan segera di atas meja. Lastri melangkah, menyusul menuju kamarnya.

"Mak! Syarif cari kayu bakar dulu!"

Syarif berteriak dari dalam kamar. Dia sedang mengganti kemeja seragam sekolahnya dengan kaos lusuh, seragam dinasnya.

"Kamu ndak usah cari kayu bakar hari ini, Le,"ucap Lastri setibanya dia di pintu kamar Syarif.

Syarif menolehkan kepala kepada emaknya. Keningnya mengerut.

"Memang kenapa, Mak?" tanya Syarif sambil menghampiri Lastri.

"Bapakmu bilang hari ini kamu cuti," jawab Lastri tersenyum sambil menggandeng tangan Syarif menuju meja makan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 29, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RantingStories to obsess over. Discover now