Part 1 : Jingga

635 9 2
                                        

"Aku pilih yang ini saja." Kataku sambil mengambil sebuah kartu diantara kartu-kartu yang lain.

"Kau yakin?" Sosok wanita paruh baya yang ada di hadapanku, kini ia mulai bersuara. Nada bicaranya yang sedikit aneh nyaris membuat permen karet yang sedari tadi ku kunyah, melesat ke kerongkonganku lalu ke perut dan berakhir di toilet besok pagi. Itu pun kalau berhasil.

"Ya, aku yakin 100% dengan pilihanku ini." Jawabku dengan intonasi yang sok optimis. Setelah mendengar jawabanku, ia membalik kartu yang menjadi pilihanku tadi. Sambil bergumam, wanita itu memandangku dan kartu ramalnya secara bergantian. Hal ini tentu membuatku merinding. Seolah belum cukup dengan tingkah lakunya, kini ruangan tempat aku melakukan suatu hal yang luar biasa konyol mendadak berubah menjadi club malam. Lampu yang merupakan satu-satunya penerang ruangan ini seketika mati lalu menyala kembali, dan hal itu berulang selama beberapa kali. Jika ada lantunan musik dan minuman bersoda, maka tempat ini akan berganti fungsi menjadi tempat anak-anak muda mencari kesenangan.

"Hidupmu rumit. Keluarga, pertemanan, bahkan dalam hal pasangan."

"Maaf? Maksud bibi apa ya?"

Tanpa menjawab sepatah kata pun, wanita paruh baya itu hanya mengangkat bahunya dan menampilkan wajah 'tidak bersalah' nya.

Melihat hal itu membuatku sedikit kesal. Sambil mendengus pelan aku meninggalkan peramal palsu itu dan keluar dari ruangan yang membuat perutku mulas. Beruntung peramal palsu itu tidak menyuruhku mengunyah beberapa kembang, jika iya maka mungkin aku akan bermeditasi di toilet seharian.

Tepat saat aku membuka pintu, tampak Ayah, Bunda, dan kedua saudara kandungku tertawa dengan terbahak-bahak bahkan adikku sampai berguling-guling di lantai. Rasa stress ku terjebak dengan Bi Iin di gudang tadi menguras tenagaku sampai habis dan tidak bersisa. Seharusnya aku marah karena mereka membuatku harus mengalami kejadian bodoh tadi. Namun apa daya, aku hanya bisa menatap mereka sengit.

"Bun, kayaknya dia suka sama ramalannya Bi Iin deh. Mukanya bahagia gitu." Laki-laki yang merupakan kakakku itu bertingkah seolah ia tidak tahu kalau Bi Iin bukanlah peramal sungguhan. Bi Iin hanya seorang asisten rumah tangga dan tidak lebih dari itu!!!

"Jadi gimana? Bener tuh kata Bima, bagus gak ramalannya?" Wanita 40 tahun yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bunda, sekarang mulai ikut-ikutan bertanya hal yang bukan-bukan.

"Udah ah, Bunda jangan tanyain aku lagi. Aku capek. Lama banget sih manggil tukang kuncinya.. Pffft."

*beberapa jam sebelumnya

"Bi Iin??!!" Entah dimana aku menaruh peralatan lukisku. Apa boleh buat? 'Detektif' ku alias Bunda sedang pergi arisan dengan teman-temannya. Satu-satunya yang bisa menemukan barang hilang adalah Bi Iin. Asisten rumah tangga No.1 di rumah kami. Bi Iin tidak tinggal disini. Ia hanya bekerja mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Suami Bi Iin juga bekerja di tempat kami. Pak Ujang namanya. Ia bekerja sebagai supir yang biasanya mengantar Ayah bekerja. Sepasang suami istri ini telah bekerja untuk Keluarga Wijaya selama 10 tahun. Bahkan aku juga mengenal Mita, ia anak satu-satunya Bi Iin dan Pak Ujang. Mita seumuran dengan adikku. Ia sering bermain dan mengerjakan PR nya di rumah kami.

Aku kembali mencari ke setiap sudut ruangan. Kamar, ruang keluarga, ruang makan, dan tujuan terakhirku adalah gudang.

Gudang ini penuh dengan barang-barang yang entah masih berguna atau tidak. Aku tidak mengerti kenapa dan sejak kapan pintu gudang terbuka. Mungkinkah ada pencuri?

Dengan penuh rasa keberanian, aku mencoba untuk masuk ke dalam gudang. Entah kemana kak Bima dan adikku Jagad. Laki-laki yang tak bisa diandalkan.

Siapa saja yang melihatku seperti ini pasti akan berpikir bahwa aku gila. Mengendap-ngendap di rumah sendiri. Padahal bukan aku pencurinya.

Walaupun aku tinggal di sini tapi aku tidak tahu bahwa gudang yang kami miliki ternyata cukup luas. Tamatlah riwayatku. Tentulah sulit mencari barang di gudang yang cukup luas ini.

"Siapa itu!!!" Teriakkan wanita yang suaranya tidak asing. Aku menyalakan lampu dan kini terlihat sosok yang sedari tadi sedang ku cari. Mataku sulit untuk berkedip. Melihat Bi Iin mengenakan jubah sulap bekas kakakku dan memegang kartu ramal yang entah siapa pemiliknya.

"Bi? Ngapain sih!! Aku cari dari tadi dan ternyata Bi Iin malah mau jadi peramal di gudang begini?"

"Anu.. Non, tadi Bi Iin mau nyari panci yang dulu pernah dibeli. Kata Nyonya disuruh keluarin dari gudang. Terus gak sengaja Bi Iin ngeliat ini. Penasaran jadi Bi Iin pake."

"Kalau Mita liat Ibunya kayak gini sih pasti dia ketawa." Mendengar respon ku, Bi Iin tertawa. Namun tiba-tiba pandangannya berubah jadi cemas.

"Non, pintunya ditutup?"

"Iya aku yang tutup tadi, emang kenapa Bi?" Tatapan Bi Iin semakin terlihat aneh.

"Kan rusak Non, ditutup ya gabisa dibuka lagi. Sengaja saya buka biar gak kekunci.."

"APA??!!! KOK GAK ADA YANG KASIH TAU??"

"Yaudah Non duduk sini dulu aja, temenin Bi Iin main kartu ramal." Mulutku kini terbuka lebar, tidak percaya Bi Iin setenang ini. Namun tidak ada yang bisa kulakukan selain duduk dan diramal. Ku harap Bunda segera mengirim tukang kunci ke sini. Segera ku kirimkan pesan singkat pada Bunda. Oh Tuhan, sampai kapan aku harus disini.

***
Mendengar ceritaku bisa sampai terjebak di gudang, membuat Bunda tertawa geli. Begitu juga yang lain. Kak Bima hanya menatapku kasihan lalu tertawa dan meledekku.

"Kalo ga freak bukan Jingga namanya."

Langit JinggaHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin