"Kalian tahu? Ada murid baru yang sangat aneh,"
"Iya, aku tahu. Anak baru yang pakaiannya selalu berwarna putih itu kan?"
"Iya.."
Sekelompok gadis penggosip sedang duduk membicarakan mengenai anak baru yang baru saja akan masuk hari ini. Mereka berbicara begitu serius sampai tak sadar kalau seseorang yang mereka bicarakan itu tengah berdiri di dekat mereka.
"Permisi," sapa seorang gadis yang berpakaian serba putih. Bukan cuma pakaiannya, tapi juga tas, sepatu, dan aksesorisnya juga berwarna putih.
Otomatis para gadis penggosip itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka tampak terkejut dengan kehadiran sang gadis, karena gadis itulah yang mereka gosipkan sejak tadi.
"Ada apa?" salah seorang anggota dari gadis penggosip itu bertanya.
"Bisakah kalian memberitahuku dimana ruangan guru berada?" tanya gadis berpakaian putih itu.
"Tidak jauh dari sini. Kau berjalan saja di koridor ini lalu kau akan menemukannya," jelas gadis yang bertanya tadi.
"Terimakasih." Gadis berpakaian putih itupun berlalu meninggalkan gadis-gadis penggosip yang tampaknya semakin heboh setelah melihat gadis berpakaian putih itu.
"Kau lihat? Ternyata walaupun aneh, dia sangat cantik" ujar salah seorang dari mereka.
⨷⨷⨷
Whitney mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai koridor. Ia sudah menunggu selama 15 menit di depan ruangan guru ini. Ini adalah hari pertama ia masuk sekolah di Glowreen School. Ia sangat gugup. Terlebih ketika ada murid yang lewat di koridor itu, mereka pasti melayangkan tatapan aneh kepada Whitney.
"Whitney Recarlos?" seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan guru. Seseorang yang sejak tadi ia nanti. Mrs.Fynne, guru yang akan menjadi wali kelasnya.
"Iya Mrs, aku Whitney," sahut Whitney.
"Baiklah, kita masuk sekarang." Mrs. Fynne berjala mendahului Whitney.
Whitney mengikuti Mrs.Fynne dari belakang. Sudah dua koridor yang mereka lewati, lalu mereka naik ke tangga di ujung koridor. Whitney semakin gugup rasanya. Ini adalah sekolah baru untuknya, dan tentu akan bertemu dengan orang-orang baru pula. Mrs. Fynne berhenti di depan salah satu kelas, yang tertulis di atas kelas itu, I-C.
"Ini kelasmu," ujar Mrs.Fynne sebelum masuk ke dalam kelas.
Whitney ikut masuk ke dalam kelas itu. Baru selangkah kakinta menginjak lantai kelas itu, sudah terdengar suara bisik-bisik dari seluruh penjuru kelas. Membuat rasa gugup semakin menjalar di tubuh Whitney.
"Perkenalkan dirimu!" ujar Mrs. Fynne yang sudah duduk di belakang meja besar di hadapan kelas.
Whitney mengangguk dan menatap semua orang yang ada di hadapannya sekarang. Semua mata melihat ke arahnya. Dengan perlahan, Whitney menarik nafasnya dalam, sebelum menghembuskannya pelan.
"Perkenalkan, namaku Whitney Recarlos. Aku pindahan dari kota Rocky." Whitney menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku rasa itu cukup, kau bisa duduk di sana, Whitney!" Mrs. Fynne menunjuk sebuah bangku paling ujung dan paling belakang. Whitney pun mengikuti perintah Mrs. Fynne dan berjalan menuju bangkunya.
Seorang pemuda yang duduk di samping bangku Whitney, matanya tak lepas dari Whitney, bahkan sampai Whitney duduk di tempatnya, pemuda berambut coklat itu masih menatapnya. Whitney yang merasa diperhatikan menoleh kea rah pemuda itu dan tatapan mereka bertemu.
Pemuda itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Whitney. "Aku Ryan. Ryan Scott"
Whitney menjabat tangan pemuda itu. "Whitney Recarlos"
"Apa kau memang selalu berpakaian putih seperti itu?" tanya Ryan.
Whitney mengangguk tanpa menoleh kepada Ryan. Di depan kelas, Mrs. Fynne sudah memulai pelajaran Sejarahnya. Whitney memilih untuk memperhatikan Mrs. Fynne daripada harus menanggapi pemuda di sampingnya yang terlihat begitu penasaran dengan dirinya dengan pakaian yang serba putih.
⨷⨷⨷
"Whoooooooaam" Ryan menguap lebar ketika berusaha memperhatikan Mrs. Fynne yang terus saja berbicara di depan kelas.
"Ssssst!"
Ryan menoleh. Dan mendapati Whitney yang tengah mengulurkan permen kepadanya.
"Apa ini?" tanya Ryan.
"Penghilang rasa kantuk," jawab Whitney tersenyum, yang mau tak mau membuat Ryan sedikit terpesona dengan wajah manis Whitney.
Ryan menerima permen itu dan langsung memakannya. Raut wajahnya langsung berubah karena rasa permen yang sangat sangat tidak enak.
"Permen macam apa ini? Rasanya seperti..lumpur." Ryan membuang permen di mulutnya ke dalam tong sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Kau dapat rasa lumpur? Sayang sekali, aku baru saja dapat rasa strawberry." Whitney memperlihatkan sekotak permen berbagai rasa. Pantas saja. Ryan menatap Whitney kesal. "Setidaknya berterimakasihlah padaku karena telah menghilangkan rasa kantukmu" ujar Whitney lagi.
.
.
.
23/11/2016
Semua cerita di sini mengenai tempat, adalah hasil pemikiran saya, jadi ini dunia suka-suka saya ya :D
YOU ARE READING
White World
Fantasy"Whitney, jangan pernah keluar dari kota ini," "Kenapa?" "Kamu adalah salah satu dari dua pewaris klan kita. Dan kota ini adalah tempat yang terlindung dari klan Amigo yang selalu mengincarmu. Kau harus tetap hidup Whitney." ... "Ryan.. Aku...
