Kamu

112 10 0
                                        

Aku terbangun terdengar suara burung berkicau dengan suara yang merdu,kubuka jendela untuk menghirup udara pagi yang segar.Waktu menunjukan pukul 6.00 WIB ,ya ini hari pertamaku memasuki sekolah baru.Aku bergegas turun menuju ruang makan untuk sarapan,
"Sayang,nanti berangkat sama papa ya".
2 lapis roti tawar yang kutaburi meses berwarna-warni . Dengan cepat aku memakai sepatu dan mengikatnya,tak lupa untuk bersalaman pada ibu,sepanjang perjalanan menuju sekolah aku hanya memikirkan bagaimana jika aku tidak punya teman?apalagi diriku yang cenderung pendiam,sukar untuk bergaul.
Mobil sedan papa berhenti tepat didepan pintu gerbang sekolah,siswa dengan berpakaian putih abu sudah banyak yang memasuki gerbang tinggi itu,aku langsung berpamitan dengan papa,aku berlari kecil untuk memasuki gerbang karna waktu telat menunjukan pukul 07.05,semua orang melihatku puluhan mata tertuju padaku,aku hanya berjalan menunduk mencari kelas baruku,tiba-tiba ada seseorang berhenti didepanku "bruuuuk"aku terjatuh,lelaki itu mengerahkan tangan nya untuk membantuku bangun.Kutatap jelas wajah seorang lelaki itu,ia sangat sinis menatapku,matanya bening berwarna coklat muda,dengan kumis tipis,ia tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu pendek,rambutnya yang acak-acakan dan sedikit nampak rambut berwarna putih,aku menahan tawa kecil tak lupa ku ucapkan terima kasih karna sudah menolongku,dan ia hanya mengangguk. Sungguh aku sangat penasaran dan ingin tau siapa lelaki itu?Setelah aku mencari akhirnya aku menemukan dimana kelas baru,aku langsung masuk tanpa disadari ternyata sudah ada wali kelas ku yang bernama Bu Imah,beliau mempersilahkan untuk memperkenalkan diri didepan kelas.Kulihat disekeliling kelas kudapati sosok lelaki yang menolongku tadi,ia terus memperhatikanku.Entah apa yang kurasakan ini antara percaya diri atau ke gr an.
"Perkenalkan nama saya Nadhien Deanova Shaquilla,kalian bisa panggil saya Nadhien",
"saya pindahan dari Jakarta"
"Baik anak-anak,Ibu harap kalian semua dapat berteman baik dengan Nadhien. Sekarang kamu  silahkan duduk disamping Vano"
sekali lagi aku terus menatap wajah tampan lelaki itu,ia tampak terkejut melihatku duduk disebelahnya,aku sangat grogi entah mengapa ini baru pertama kalinya aku merasakan perasaan yang aneh dari hati?Apakah aku jatuh cinta pada dirinya?tapi tak mungkin secepat ini.
Bel istirahat berdering nyaring,anak-anak berhamburan keluar kelas,dan aku hanya duduk diam dikelas melihat teman yang lain sedang membicarakanku dari belakang aku merasa karna suara mereka terdengar jelas,ternyata itu lelaki yang menolongku tadi senangnya aku duduk sebangku dengan nya.
"Hai,kenalin nama aku vano"
"Iya Van,salam kenal"
"Santai aja kali jawabnya,oiya saya cuman ingin nawarin kamu kalau kamu mau ke kantin bareng saya saja,lagian juga teman disini belum ada yang mau kenalan sama kamu"
"Iya makasih"jawabku singkat lagi
"Makasih untuk apa?"
"Makasih karna kamu sudah mau menjadi temanku,karna aku ini orangnya kaku susah diajak bergaul,jadi wajar saja kalau saya jarang punya teman banyak"
"Oh begitu,ya saya tau sekarang.Ya sudah ayo ke kantin saya lapar,kamu harus ikut saya cobain Soto Ayam di Mak Surip",
tak perlu menunggu lama aku langsung berjalan bersama Vano,disepanjang lorong kelas banyak sekali yang melihat ke arahku dan Vano,
"udah nggak usah digagas(gausah dipeduliin)"
aku terus menunduk berjalan mengikuti Vano,sampai nya di kantin lagi-lagi kita duduk berdua,layaknya seperti sepasang kekasih yang baru saja jadian.
"eh,bentar ya aku mau pesan soto 2,kamu mau minum apa?"
"Terserah yang penting jangan yang panas"
Beberapa menit kemudian setelah menunggu,soto ayam nya datang aroma jeruk nipis nya sangat tercium,dan serbuk koya yang membuat kuah lebih kentah semakin membuat orang tak sabar untuk segera melahapnya.
"Parah!ini enak banget soto nya,aku belum pernah cobain di Jakarta juga nggak ada"
"Yaudah habisin dulu nanti setelah itu kamu ikut aku ke bangunan dibelakang sekolah"
Aku mengangguk pelan,aku mengikuti Vano berjalan ke sebuah bangunan tua,ternyata ini merupakan tempat tersembunyi jarang orang mengetahui keberadaan sebuah bangunan tua,tembok nya tampak rapuh,tidak ada penerangan satupun,debu yang berterbangan saat dibuka nya pintu itu,dada ku terasa sesak sekali,keringat dingin mulai bercucuran,aku terdiam dan kesulitan untuk bernafas.
"Aku sering ke tempat ini sendiri,jika aku bosan aku menganggap tempat ini paling favorit bagi ku"
Tak terasa tubuhku semakin lemas,aku terjatuh tak sadarkan diri.Vano terkejut dan langsung membawaku ke UKS.2 jam kemudian,mataku sayup-sayup terbuka,dan aku masih menggunakan oksigen banyuan,aku melihat wajah Vano yang tersenyum melihatku sadar.
"Kamu gapapa kan?tadi kenapa pingsan?"
"Gapapa kok,iya asma aku kambuh kalau kena debu sesak gitu"
"Yaampun,harusnya tadi kamu bilang biar kita nggak kesana"
"Iyaudah gapapa kok lagian sekarang udah mendingan,balik ke kelas yuk!aku nggak betah disini"
Vano pun mengantarkanku masuk kedalam kelas.Semua siswa menatapku dan bertanya-tanya ke Vano. Pelajaran kali ini adalah Sejarah tentang Kerajaan Islam di Indonesia,berhubung aku belum punya buku paket cetak,Vano menggeserkan bukunya dengan maksud agar aku bisa ikut membaca nya. Ditengah pelajaran,seseorang yang duduk dibelakang menepuk pundak ku,perempuan itu cantik,rambutnya acak-acakan seperti tidak disisir, ia menyalamiku,namanya Asha. Aku berkenalan dengan Asha,ia bercerita banyak tentang sekolah ini dan bagaimana sifat teman-teman disini,ia juga menceritakan Vano,katanya:" "Vano itu anak nya cuek banget nggak peduli sama apa yang disekitar,dia juga pendiam,hebat nya dia itu nggak neko-neko(nggak aneh-aneh) padahal rata-rata teman nya itu bandel)"
Aku mendengarkannya dengan seksama. Seusai pelajaran,bel berdering ini tanda waktunya pulang sekolah. Aku berjalan keluar gerbang tinggi berwarna hitam dengan Asha,dan Vano sudah pulang duluan. Asha dijemput oleh lelaki entah siapa,aku sendiri menunggu papa menjemput cuaca siang ini sangat terik,panasnya menyengat ke kulit.Mobil sedan abu-abu metalic berhenti didepanku,itu mobil papa. Selama perjalanan kerumah papa menanyakan bagaimana hari pertamaku disekolah,aku menceritakan nya semua kejadian. Sampai dirumah,aku mencuci kaki dan membasuh wajahku yang lusuh,lalu masuk kedalam kamar dan melihat ponselku,di notif muncul Vano menambahku sebagai teman. Aku tak tahu ia dapat darimana. Bagiku Vano sangat baik dan tadi apa yang dikatakan Asha kalau Vano nggak peduli itu tidak benar buktinya saat hari pertama masuk sekolah,ia sudah menolongku. Sungguh aku kagum dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

Goodbye HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang