Gak adil.
Hidup ini gak adil.
Sialan! Persetan dengan semua ocehan itu.
Semuanya berawal ketika aku, pangeran paling tampan di keluarga ini, hendak tidur.
"hoam... "
Rasa kantukku tak tertahankan. Namun demi tugas mulia ini, aku harus tetap terjaga. Ini menyangkut kepentingan bangsa dan negara!
'tinut..tinut..'
ARGHH!! TIDAK! Mulai melemah. Aku benci kondisi ini. Akhirnya, kupaksakan kondisi yang tengah sekarat ini demi menuntaskan segalanya. Masa depan umat manusia ditanganku!
Hening.
Ini aneh, kenapa bulu kakiku berdiri?
Dan itu terjawab oleh sebuah suara yang familiar di telingaku,
"ONDAK SAMPAI KAPAN KAU MENCET-MENCET PIANO TALES ITU!!! DARI TADI AYAH BERCAKAP TAK KAU DENGAR?! KUALAT KAU, ONDAK KUJADIKAN MALIN KUNDANG RUPONYO.. TIDUR KAU!"
Seakan terompet sangkakala izrail ditiup duluan, jantungku serasa meluncur. Belum puas, pemilik suara itu menarik telingaku, dan memelintirnya.
"arrrgghh.. emaaakkk!! Aduh yah, sakit yah, le-le-lepas yah.. AUUUU!!"
'shit!' , bisikku sampil mengusap telingaku yang memerah.
Takut akan dijadikan maling kutang- eh, malin kundang, aku berlari terbirit-birit ke kamarku. Lebih tepatnya kamar aku, nenek, mama, kakak, serta 2 adik perempuanku. Seandainya kamar ini lift, mungkin sudah overweight, karena kamar ini hanya berukuran 3X4.
Namaku Haidar, dan ini ceritaku.
YOU ARE READING
the puzzle
Teen Fictionsimply, it's just a puzzle. Don't need hard work. Do you want to play with me?
