Part 1

214 23 7
                                        

"Jordy, jangan mainan terus... kita sudah sampai di sekolah!", Mama menggandeng tanganku, memaksaku untuk masuk ke sebuah ruangan yang asing bagiku.

Hari ini adalah hari pertama aku masuk TK, dan aku tak suka berada di sini.

"Jordy nggak mau sekolah!" kataku sambil menarik tanganku dari Mama, kemudian asyik dengan mainan robot-robotan yang baru dibelikan Papa kemarin.

"Power Rangers... beraksi...!"

Mama melotot, kemudian menarik tanganku lagi dengan paksa

Seorang wanita muda menghampiri kami sambil tersenyum.

"Maaf Bu Guru, anak saya ini memang susah diatur", ujar Mama.

Wanita itu lalu menghampiriku.

"Adek, ayo masuk kelas! Di sana banyak mainan lho..." bujuk Bu Guru.

Hmmm....

Aku mengerutkan kening sambil mengetuk-ngetukkan jari ke pipiku, tanganku berkacak pinggang berlagak seperti orang dewasa yang sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Eng...gakk!" kataku cuek.

Mama semakin kesal dan Bu Guru mulai hilang kesabaran. Sementara anak-anak yang lain sudah memasuki ruang kelas diantar orangtua masing-masing.

Kemudian aku melihatnya...

Seorang gadis kecil seusia denganku, bermata hijau, berambut hitam panjang yang dibiarkan terurai.

Gadis kecil itu diantar oleh kedua orangtuanya yang menjawab kenapa gadis kecil itu mempunyai mata yang berwarna hijau. Rupanya dia blasteran. Ayahnya bule dan ibunya orang pribumi.

Gadis kecil itu juga memandangku tajam dengan mata hijaunya.

Mungkin karena melihat aku yang melongo memandangi gadis kecil itu, Bu Guru jadi mendapat ide.

"Tuuh... anak perempuan itu aja mau sekolah, masak anak laki-laki kalah sama anak perempuan..."

Gadis kecil itu tertawa geli melihatku. Wajahku memerah.

Enak aja aku dibilang kalah sama anak perempuan..!


* * *

"Namaku Gendis Mewi Smuitt..."

Seisi kelas tertawa geli, termasuk Bu Guru.

"Coba katakan lagi, siapa nama kamu sayang..?"

"Gendis... Mewi Smuittt...!"

Gadis kecil itu menyebutkan namanya lagi dengan kesal. Mata hijaunya yang indah melotot ke Bu Guru yang berusaha menahan tawa.

Aku tertawa bukan hanya karena namanya yang aneh, tapi cara mengucap namanya dengan lidahnya yang belum jelas mengucapkan huruf 'R' itu sangat lucu.

"Oke sayang, Gendis diantar ke sekolah sama Mama dan Papa ya?" tanya Bu Guru lagi.

Gendis menggeleng.

"Diantar Mommy dan Daddy," jawabnya.

Bu Guru tertawa lagi.

"Nah, Gendis sekarang boleh duduk ke bangkunya lagi yaa..!"

Perkenalan pun dilanjutkan lagi oleh murid yang lain. Gendis kembali duduk di bangkunya, di sebelahku. Aku diam-diam curi-curi pandang, melirik ke arahnya. Dia cantik, seperti boneka kesayangan Kak Shelly, kakak perempuan ku. Dan aku senang melihat mata hijaunya yang bulat, seperti kelereng mainanku.

Twinkle Twinkle Little StarWhere stories live. Discover now