1

108 7 4
                                        

Pagi ini Vela harus berdesak-desakan dalam angkutan umum yang akan membawanya menuju sekolah. Vela mau tidak mau harus menerima kejadian ini jika ia tidak mau mengambil risiko berat untuk berjemur.

Dan keadaan baik sedang berpihak padanya. Dalam bus yang di naiki olehnya terdapat satu kursi kosong dekat pintu belakang. Dengan langkah tercepat yang dia punya, dia langsung menuju kursi itu.

Vela duduk dengan tenang disana sambil mendengarkan musik lewat earphone-nya lalu bersenandung kecil. Vela sesekali mengecek media sosialnya yang memang tidak ada pemberitahuan apapun.

Satu pesan masuk lewat WhatsApp dan Vela langsung membacanya. Pesan itu ternyata dari sahabatnya. Cita.

CitaBawel : eh jomblo, lo dimana?

Vela : woy ngaca dong. Lo juga jomblo elah. Gw masih di bis nih ngape lo? Kangen sma gw?

CitaBawel : buruan elah gw sendiri nih di kelas. Belom ada yg dteng

Vela : ya lagian lo rajin2 amet sih. Mau bersihin lapangan lo?

CitaBawel : bawel lo. Gw lagi rajin. Udeh buruan lama lo.

Vela : emang yg nyetir gw apa? Lu kadang pinter yaa?

Tidak ada balasan lagi yang Vela dapat dari sahabatnya itu. Tak lama, bus berhenti di halte dekat sekolahnya. Vela turun lalu berjalan menuju sekolahnya. Dengan langkah yang tergesa-gesanya itu, Vela menabrak seorang pemuda yang sedang membaca modul kuliahnya sambil berjalan.

Modul itu terjatuh ke trotoar. Vela membungkuk lalu mengambil modul tersebut.

"Aduh sorry yaa gw gak sengaja sumpah gw buru-buru. Temen gw udah nungguin soalnya dari tadi." Ucap Vela sambil memberikan modul.

"Haha iya gak papa kok lagian gw juga salah baca modul sambil jalan soalnya ada kuis hari ini di kampus. Sorry yaa.." Ares tersenyum.

Vela terpana melihat wujud laki-laki itu. Badan tegap, dada bidang, mata coklat yang terlihat kalem, bibir yang sedang tersenyum kikuk. TAMPAN.

Laki-laki itu mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Vela. Vela tergagap dan pipinya terasa sangat panas sekarang. Malu. Satu kata yang menggambarkan perasaan Vela.

"Oh sorry. Iya gak papa kok. Sorry yaa sekali lagi. Kalo gitu gw duluan yaa bentar lagi bel soalnya. Kalo gw telat, bisa jadi kepiting jemur gw. Bye kak."

Ares tersenyum lalu menggangguk sambil melihat tubuh Vela yang semakin menjauh dari tempatnya. Antares lalu kembali berjalan menuju kampus.

Satu hal yang kini ada di pikiran Ares mengenai Vela. Cantik. Badan yang tidak begitu tinggi, bibir berwarna pink yang begitu manis saat tersenyum, rambut coklat yang tergerai dan mata hazel yang berbinar.

Saat itulah Ares berharap akan bertemu lagi dengan Vela. Gadis yang kini memikat hatinya. Rasa penyesalan kemudian datang. Penyesalan karena tidak sempat berkenalan dengan Vela.

Kini Vela sampai di sekolah dengan napas yang tersengal-sengal karena berlari dari halte. Vela langsung mencari Cita karena sedari tadi dia belum menemukannya.

Cita sedang berada di koridor depan kelas sambil memainkan hp-nya. Vela langsung menghampirinya.

"Citaaaaaaaaaaa lo tau gak? Tadi gw nabrak orang looo sumpah ganteng bangeeeettt... hari ini emang keberuntungan gw banget."

"See.. seorang Auxilya Vela pagi-pagi udah ngerecokin gw. Suara lo toa banget sih. Oh yaaa gw punya julukan baru buat lo. Vela si suara tertoa seantero SMA Tunas Bangsa."

"Apaan sih lo. Eh gw tuh lagi bahagia taaauuu... gw bertekad kalo gw harus ketemu lagi sama cogan itu."

"Emang lo ketemu dimana sih?"

"Di halte. Kan gw baru turun tuh dari bis lah gw kan lari ke sekolah pas gw lari, gw nabrak orang dan Tuhaaaann... ganteng banget orang ituuu."

Vela bercerita dengan antusias dan Cita mendengarkannya dengan sabar. Sampai akhirnya bel berbunyi. Vela dan Cita masuk ke dalam kelas.

Pelajaran hari ini adalah pelajaran fisika. Yaaahh fisika pagi-pagi kan yaaa menjadi sarapan kelas Vela. Seisi kelas dengan khidmat mendengarkan penjelasan dari guru di depan kelas terkecuali Vela. Vela asyik dengan dunia khayalannya. Vela sedang membayangkan kembali senyuman yang tercetak jelas di wajah laki-laki yang tadi pagi dia tabrak.

Laki-laki yang membuatnya penasaran. Sebelumnya, setiap Vela berjalan dari halte ke sekolah tidak pernah melihat laki-laki itu. Mungkin laki-laki itu pindahan. Vela terus hanyut dalam pikirannya.

"Hei kamu!" Tegur Pak Tito.

Vela celingukan kesana kemari namun tidak ada tanda-tanda orang lain yang di tunjuk oleh pak Tito.

Vela menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan telunjuknya.

"Ya! Kamu! Kenapa kamu bengong gitu aja? Mikirin apa kamu?"

"Saya gak mikirin apa-apa kok pak."

"Bohong pak, palingan dia lagi mikirin cowok yang dia tabrak tadi pagi di dekat halte bis sebelum sekolah."

"Citaaa.. lo tuh yaa buka aib mulu." Vela berbisik kepada Cita dengan tatapan tajamnya. Cita hanya terkekeh.

"Vela! Kamu itu yaa. Bisa gak sih serius dalam belajar? Kamu tuh udah kelas 3. Bentar lagi kuliah. Coba fokus dong. Memang nilai kamu selalu bagus. Tapi nilai aja gak cukup. Meskipun saya tahu itu nilai asli hasil kamu. Coba fahami pelajarannya."

"Iya pak, maaf"

"Huuuuuuuu....." seisi kelas bersorak.

"Apaan sih kalian semua. Rese banget tau gak?"

"Sudah-sudah kita lanjutkan pelajarannya."

Setelah pelajaran fisika selama 4 jam pelajaran, Vela bergegas membereskan buku-bukunya kemudian pergi ke kantin bersama Cita.

Vela segera memesan es jeruk untuk mendinginkan pikirannya setelah berkutat dengan fisika. Cita sibuk dengan hp-nya dan sedari tadi menganggurkan Vela yang sedang berada bersamanya.

"Cit, lo dari tadi hp hp mulu deh. Nyadar dong lo ada gw disini elah." Decak Vela sebal.

"Hahaha sorry La, gw lagi bisnis ini."

"Bisnis apaan lo? sejak kapan?"

"Bisnis baju. Biasa gw buka online shop. Sejak gw udah gak tinggal lagi sama ortu gw. Lumayanlaahh buat nambah uang jajan meskipun gw dikasih tiap bulan tapi tetep gw butuh uang."

"Pea lo. Buat apaan sih? Lo kan dapet bulanan lumayan gede masih aja tetep cari uang."

"Ada juga lo yang pea. Gw usaha kan uangnya buat dipake kalo ada kebutuhan mendesak. Kalo uang bulanan gw abis dan gw harus beli sesuatu, mau pake uang dari mana selain dari uang jualan gw?"

"Cerdas. Udah aah gw laper nih. Lo mau makan apa?"

"Gw apa aja deh samain aja sama lo ntar gw yang bayar."

Mata Vela berbinar seperti anak kecil yang dibelikan es krim oleh orang tuanya. Vela langsung melesat memesan makanan yang ia mau. Apapun itu. Makan berat dan makanan ringan. Seperti itulah Vela, badan kecil tapi sekalinya makan seperti orang yang tidak pernah makan selama 1 bulan.

"Salah berarti yaa gw traktir lo makan? Bisa bangkrut gw."

"Hahahaha lagian so-soan sih lo. Hahaha sering-sering aja kayak gini yaa.. semoga usaha lo makin lancar dan makin banyak pelanggan."

"Waaahh ada udang di balik batu nih. Tapi gw aminin dah tu doa. Thanks yaa.."

"Sama-sama Cita sayaaaannngg.. sini peluk Vela."

"Najong. Geli gw sumpah."

Vela terbahak dan mereka pun menghabiskan waktu istirahat mereka sambil membahas segala hal yang mereka alami. Dari hal yang tidak penting sampai hal yang penting. Namun kebanyakan hal yang tidak penting. Itulah mereka. Dua makhluk aneh yang entah datang dari dimensi mana.

Auxilya Vela dan Cita Adhenata Rose.

MineWhere stories live. Discover now