Sang waktu bagaikan air yang mengalir. mengalir dengan cepat dan tak pernah berhenti, sang waktu pun seperti air yang mengalir deras, mampu mengubah apapun yang dilewatinya. Namun , hal itu tak terjadi padaku , Angela Wijaya atau Ayya. Bagiku, waktu seakan melambat dan justru bergerak mundur , kembali ke masa kecilku. Buktinya , setelah suka dukaterlewati, kemarahan papa padaku atas kecerobohanku tak kunjung reda . Itulah yang menguatkan keyakinanku bahwa sang waktu seakan acuh padaku. Padahal, aku hanya ingin meraih kembali hakku, kasih sayang papa yang terenggut karena kecerobohanku ini. Sederhana bukan ? Tapi kenapa rasanya seperti berharap memeluk bulan ya ? yah, walaupun aku tahu ini kecerobohanku dan akibatnya sangat fatal , meski aku sudah mengihlaskannya , tapi papa belum
...........
Cerita dimulai dengan persahabatanku dengan anak seorang guru, Reva namanya. Reva adalah sahabat karibku sejak pertama kali kami menerjunkan diri ke dunia pendidikan dan aku bersyukur kalau sampai sekarang , temali itu masih terjulur dan justru kian memanjang. Kendati jarak sempat memisahkan kami . Namun, yang namanya sahabat itu jauh di mata dekat di hati , kan ? hahaha.... Karena ditugaskan di kota kembang , Bandung, Ayah Reva terpaksa membawa Reva ikut bersamanya, beruntung saat itu , pengunguman kelulusan menuju kelas menengah sudah usai. Dan hasilnya, kami semua dinyatakan tamat dari SD. Tak pelak, aula sekolah tempat dibacakannya pengunguman kelulusan menjadi tempat pelampiasan sukacita kami. Ruangan itu mendadak sesak oleh teriakan gembira kami, selebrasi karena kami sudah berhasil mengalahkan ego ego kami selama menghadapi UN. Ternyata , perayaan kelulusanku terus berlanjut. Usai menerima kabar sukacita itu, papa dan mama mengajak aku dan kakak makan di sebuah restoran , sebagai perayaan sederhana kelulusanku. karena seiring bertambahnya usiaku, papa mamaku ingin mengajarkan kedewasaan. Usia 13 tahun bukanlah angka yang cocok untuk menerima mainan atau hadiah hadiah lainnya . Dan bahwa syukur pada Tuhan bisa dilakukan dengan cara lain. Bagiku itu tak masalah , karena yang terpenting adalah Quality Time bersama keluarga.
Sepulang dari restoran, Reva meneleponku saat aku sedang mengistirahatkan tubuhku. Ia memintaku menginap di rumahnya minggu depan. Yang mana hari itu juga adalah hari jadinya. Tanpa pikir panjang , aku segera mengiyakan keinginannya itu. Kami sudah berteman baik sejak lama. No wonder kalau ia selalu mengundangku di setiap tahun pertambahan usianya. Walaupun di hari itu pula , acap kali tak ada perayaan ulang tahun yang mewah , atas keinginan Reva. Begitupun sebaliknya.Reva bercerita bahwa papanya ingin mengadakan perayaan untuk hari jadinya tahun ini, tapi ia menolak keinginan papanya itu. Bagi Reva, garis besar dari ulang tahun bukanlah seberapa banyak tamu yang diundang, hadiah yang didapat ataupun semegah apa perayaannya, tapi ulang tahun adalah bagaimana cara kita memaknai pertambahan usia kita. Dia hanya meminta izin pada papa selaku orang tua tunggal untuk mmengundangku dan mengajakku menginap di rumahnya. Tak butuh waktu lama, izin sang papa langsung dikantongi Reva, gadis 13 tahun itu. Sambil tersenyum lembut, Sang papa membelai rambut Reva yang tergerai. Rasa bangganya tak lagi mampu terlukiskan. Reva baru akan tiba di jenjang menengah . Tapi pemikirannya lebih dewasa ketimbang usianya.
Dalam hati, aku juga mengiayakan kata kata papa Reva lewat ceritanya padaku. Akhirnya, dia menutup telepon usai berkata lembut'' See you next week , Ay....'' . ''See you, Re....''.
Obrolan kami berakhir.
........
1 minggu kemudian....
'' Kamu, mau kemana , Ay ?'' tanya Kak Andre tanpa memalingkan mata dari LCD handphonenya.'' Iya, Ay, bawa tas segala lagi, pindahan kok enggak ngajak ngajak ?'' Sahut mama ikut menggoda.'' ini, ma, hari ini ,kan Reva temen Ayya ulang tahun, nah, dia minta Ayya nginep di rumahnya buat kado ultah....'' Sahutku.'' Ohh, pantes, ya udah, kamu mau sarapan dulu ?'' tanya mama lembut.'' Enggak usah, ma, ntar paling diajakin sarapan bareng, hihihi...'' aku tertawa kecil. Begitupun Kak Andre . Rupanya, handphonenya sudah tak lagi digenggamannya.'' Wahh... Ayya, ngarep, nih, Yee....'' timpal Kak Andre. yang membuat pipiku bersemu merah.'' Hati hati ,ya , Ay, jangan nakal disana....'' pesan mama sambil mengikutiku yang bertemankan tas keluar rumah, tak ketinggalan Kak Andre yang turut serta mengantarku.
YOU ARE READING
Antara Cinta Dan Masa Lalu''
Teen FictionMasa lalu seseorang bisa membawa dampak besar pada masa depan seseorang . Hal itu lah yang dialami Ayya yang harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya harus bercerai karena tindakkannya menolong seorang gadis. Sejak itu , Ayya selalu menyesali...
