Dengan bangga aku menatap ke arah gedung sekolahku yang masih berdiri kokoh meski sudah berusia puluhan tahun.Hari ini,seperti di tahun-tahun sebelumnya suasana di sekolah kembali begitu ramai serta dipenuhi banyak warna-warni piloks hampir sama seperti saat perayaan di colour run.Hari ini adalah hari penentuan kelulusan kami.Bisa dibilang,hari ini adalah hari terakhir kami di sekolah ini setelah menjalani waktu tiga tahun yang panjang,tiga tahun yang penuh cerita,tiga tahun yang melelahkan,dan tiga tahun yang takkan terlupakan.Masa putih abu-abu yang tidak akan kudapati kembali.Aku pasti akan sangat merindukan masa masa ini.
Seraya terus menatap gedung sekolahku,aku mulai membayangkan banyak hal.Setelah ini aku akan memulai mimpiku.Kuliah.Ya,kuliah adalah rencana terbesarku selulus SMA.Sejak jauh-jauh hari aku sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikanku di jurusan Pariwisata.Pasti akan sangat menyenangkan jika suatu saat nanti aku bisa keliling dunia mengunjungi berbagai tempat menarik,melihat satwa dan flora langka,mengenalkan kekayaan Indonesia di bidang Pariwisata di berbagai belahan dunia,atau berkenalan dengan duta-duta wisata dari seluruh dunia
Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum tanpa henti apalagi jika cita-citaku itu benar sudah tercapai.Akhhh.. tak sabar untuk itu.Namun,sedang asyik-asyiknya membayangkan hal itu,sesuatu tiba-tiba mewarnai seragamku maksudku lebih tepatnya,menyemprotku.Aku berpaling lalu mendapati Airi dengan tawanya yang pecah ketika menatapku yang kini berubah merah hampir di sekujur tubuh.
Airi adalah sahabatku yang sudah kukenal sejak SMP.Kami selalu bersama nyaris tak terpisahkan.Aku dan dia begitu dekat,lebih dari sekadar sahabat,aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.Dia juga punya mimpi yang hampir sama denganku yakni kuliah namun,di jurusan yang berbeda.Airi lebih tertarik di dunia fashion dan desain yang tak terlalu kumengerti.Gadis itu tergila-gila pada Prada dan gaya berbusana artis-artis Hollywood.Meski berbeda passion,kami tetaplah sahabat yang sama dalam berbagai hal seperti makanan favorit,hobby,dan tipe cowok.Haahaa... yang terakhir itu sebenarnya belum mutlak sebab aku tak bisa membayangkan jika suatu saat nanti aku dan Airi berselisih hanya karena seorang cowok yang sama.
"Hai,Vi! Gimana,seru,kan pake piloks.Warna merah lagi,warna kesukaan lo tuh." ujar Airi di sela tawanya.Sudah kubilang padanya aku tidak mau seragamku diwarnai dengan piloks tapi dia masih saja iseng mewarnainya.Mama pasti akan mengomeliku nanti. "Lo gimana,sih.Nyokap nyuruh gue pulang bukan dengan seragam pake piloks gini.Lo tau sendiri nyokap gue orangnya tertib banget.Dia udah wanti-wanti buat nggak piloks-piloks-an gini abis penentuan kelulusan." protesnya seraya memandangi seragamku yang malang."Alah.Bawel banget,sih lo.Kapan lagi kita bisa seru-seruan gini kalo bukan sekarang.Tahun-tahun berikutnya nggak ada lagi yang kayak gini-gini.Nikmatin ajalah,Vi.Lagian,nyokap lo nggak pengertian banget,deh.." balas Airi lalu kembali asyik mewarnai seragamnya dengan banyak warna piloks.Aku tersenyum menatapnya.Tak akan lama lagi aku dan Airi akan berpisah jalan.Setelah ini,kemungkinan besar kami akan jarang bertemu, takkan sesering yang lalu-lalu.Airi benar.Mungkin, aku memang harus menikmati momen ini.
Dengan cepat kuraih kaleng piloks di tangan Airi dan menyemprotkan isinya ke udara kemudian bergabung dengan teman-teman lainnya yang juga sudah heboh saling mewarnai seragam dan saling menandatangani seragam dengan spidol hitam.Aku sangat bahagia sebab aku tahu pasti bahwa hari ini bukanlah akhir dari perjalananku.Hari ini adalah awal dari brand new day kami semua.
***
"Sivia."
Aku berpaling ke belakang ketika mendengar seseorang memanggil namaku.Arga.Salah seorang teman sekelasku sekaligus ketua kelas yang kerap dijuluki sebagai 'Mr.Complete' oleh teman-teman lainnya sebab kepribadiannya yang selalu ingin segala sesuatunya lengkap dan tak ada kekurangan maupun kesalahan sedikitpun.Arga dikenal sebagai peraih peringkat satu umum setiap tahunnya,nilainya yang paling baik di antara yang lainnya,dan anak kesayangan para guru mapel.Arga itu cerdas,intelektual,kritis,dan punya banyak penggemar di kalangan cewek.Bukan tanpa alasan,tapi karena ia dianugerahi wajah yang disebut-sebut mirip dengan Captain America,si sispack yang hobby bawa tameng kemana-mana.Arga memang keturunan bule makanya tidak heran jika matanya yang biru cerah itu digilai para cewek.Jadi,kurasa wajar jika julukan tadi disematkan padanya.
"Oh,hai.Lo manggil gue,ya?" tanyaku dan baru sadar kalau pertanyaanku itu lebih menjengkelkan dibanding pertanyaan yang selalu disodorkan Dora and The Explorer.Arga berjalan mendekat padaku seraya memasang senyum ramahnya yang bikin ngiler -tapi,untungnya aku masih cukup punya malu untuk tidak benar-benar menitikkan iler di depannya-."Iya.Gue manggil lo.Gue mau ngucapin selamat atas kelulusan lo dan kita semua.Seneng rasanya bisa lulus." jawabnya santai.
"Iya.Lo bener.Btw,lo jadi kuliah kedokteran?" ucapku. "Doain aja biar gue diterima." jawab Arga. "Tenang aja.Lo pasti keterima.Nilai lo,kan bagus semua."
Arga tersenyum lagi lalu menatapku namun,tanpa berucap apapun.Hal itu membuatku mulai merasa canggung."Mmm.. ada apa,Ga?" tanyaku lagi."Nggak ada apa-apa.Gue cuma mau tanya aja lo lanjut dimana setelah ini?".
"Masih bingung,sih.Cuman gue udah mantap aja di jurusan Pariwisata.Soal tempatnya,masih belum tau." jelasku. "Setelah ini,kita semua mungkin nggak bakalan ketemu lagi." ucapnya tampak murung. "Ah,nggak juga.Kita pasti bisa ketemu lagi dan kumpul-kumpul kayak di kelas,kantin ato di perpus dulu sama temen sekelas kita yang lain."jawabku.Anehnya,Arga tampak semakin menunduk seakan ada beban di pundaknya yang membuatnya enggan berdiri tegak.Seakan ada yang mengganggu pikirannya.Yang pasti bukan karena perpisahan sebab aku tahu pasti Arga bukan tipe orang seperti itu.Selama ini,dia orang yang paling cuek dengan sesama teman bahkan dengan teman sekelasnya sendiri.Di kelas,ia lebih banyak bergaul dengan buku-bukunya dibanding dengan cowok-cowok lainnya.Bukan berarti ia kutu buku tapi karena ia mungkin memang merasa bahwa para cowok di dalam kelasku tak ada yang mau seserius dirinya dalam belajar.Semuanya hanya tertarik untuk bolos atau nongkrong di kantin saat jam pelajaran.Arga tidak seperti itu.Arga lebih banyak bergaul dengan murid cowok yang setipe dengan dirinya.Yang intelek dan kritis.
"Ada apa,Ga? Lo mikirin sesuatu?" tanyaku untuk kesekian kalinya. "Nggak,kok.Gue cuma ngerasa perlu nyampein sesuatu ke elo sebelum kita pisah ke tujuan yang beda-beda.Gue takut nyesel nantinya."jelasnya. "Emang apa yang perlu lo sampein ke gue? Sepenting itu,ya ". "Ya.Itu emang penting.Dan udah lama juga,sih pengen gue sampein langsung ke elo.".Arga menggaruk tengkuknya tanpa menatap mataku lagi.Aku merasa semakin aneh dengan situasi ini.
Apa jangan-jangan...
"Arga! Sivia!"
Aku dan Arga sama-sama berpaling ke arah suara melengking yang baru saja meneriaki kami.Lagi-lagi Airi.Ia berjalan mendekat ke arah kami berdua lalu menyapa Arga yang tampaknya terganggu akan kehadiran Airi di tengah-tengah kami.Itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Gue nyari lo kemana-mana,Vi.Gue kira lo balik duluan." jelas Airi sambil memandang sekilas ke arah Arga dengan canggung."Eh,ada Arga juga.." gumam Airi.Arga mengangguk singkat kemudian melempar pandangannya ke arah lain.
"O iya.. Arga, lo belum tanda tangan,nih di seragam gue.Lo keberatan kalo gue minta tanda tangan lo juga?" ucap Airi tiba-tiba sambil menyodorkan sebuah spidol pada Arga.
"O.. boleh banget,kok .Sini.." jawab Arga yang ternyata dengan senang hati meladeni Airi.Airi langsung kegirangan lalu cepat-cepat membalikkan badannya.Seragamnya yang semula berwarna putih bersih berubah penuh dengan warna dan coretan-coretan berupa tanda tangan dari banyak orang.
Sementara Arga menandatangani seragam Airi,cewek itu malah terus senyam-senyum sendiri.Seketika terbersit di benakku tentang Airi yang dulu begitu menyukai sosok Arga.Sampai sekarang,perasaan itu ternyata masih melekat kuat di hati sobatku tapi,samapai kapan ia hanya memendam perasaannya seperti itu? Kurasa,zaman sekarang sudah banyak cewek yang lebih dulu menyatakan perasaannya pada cowok ketimbang cowok itu sendiri.
Arga telah selesai menandatangani seragam Airi.Detik berikutnya.Arga berpaling padaku lalu memberiku tanda untuk balik badan juga.Aku mengangkat alis tanda tidak mengerti dengan apa yang diminta Arga padaku."Lo nggak mau dapet kenang-kenangan juga kayak Airi?" jelas Arga lalu tersenyum."Ooo.. ok,ok." jawabku lalu berbalik.Kini,seragamku tak lagi sebersih tadi.Penuh piloks dan spidol.Namun,inilah yang nanti akan terus kuingat.Seragamku ini akan kusimpan selamanya kalau perlu akan aku museumkan.Hehee..
****
Hai,semuanya... gimana ceritanya? bagus atau gaje? bagaimana perasaan kalian setelah membaca cerita ini?
Author juga masih sangat mengharapkan saran dan kritik kalian.Kalau masih penasaran dengan lanjutan ceritanya,jangan lupa vomment,ya..
YOU ARE READING
RED
Teen FictionHidupku yang seharusnya indah selulus SMA kini berakhir dengan sebuah pernikahan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.Impianku untuk kuliah harus kulupakan karena kejadian naas yang menimpa keluargaku.Namun,bagaimana jika pernikahan...
