Malam jumat di minggu keempat bulan Maret kini, malam tampak begitu anggun untukku. Bulan bersinar malu-malu tampak dibalik awan menyinari gelapnya malam ditambah dengan gemerlap bintang yang menghiasi langit malam kota Jakarta. Aku berdiri di koridor halte busway menunggu bus yang tak kian datang. Banyak penunggu busway yang mulai resah, banyak diantaranya yang menunggu dengan headset terpasang di telinganya. Mungkin itu cara ampuh bagi mereka untuk menghilangkan kejenuhan. Ada yang sesekali menggerutu, ada yang sambil bermain game, ada pula yang sambil menonton drama Korea. Lain halnya denganku, aku menikmati waktu ini dengan memandang langit malam yang indah. Disatu sisi, hatiku berdebar. Ragu, untuk membalas sebuah pesan singkat dari seorang pria, yang aku tahu dia adalah seseorang yang memang ingin dikenalkan untukku. Adam. Aku tersadar dalam lamunku ketika sebuah bus datang yang membuat sedikit keriuhan dan para penumpang di belakangku saling mendorong mendesak untuk segera masuk.
Di tengah perjalanan, aku memutuskan untuk menjawab pesan itu, singkat. Mencoba bersikap biasa meski ibu jariku terasa kaku mengetik sebuah kalimat balasan itu. Malam ini adalah kali pertamanya pertemuan kata-kata aku dengannya. Percakapan kita begitu kaku dan singkat. Sampai pada akhirnya aku memutuskan percakapan itu karena malam kian larut. Hanya sebuah nama yang aku tahu tentang dirinya. Namun, aku menantikan pertemuan yang akan datang dengannya.
Sejak perkenalan aku dengan Adam via WhatsApp itu, membuatku sesekali melirik sekitar, saat hendak absen. Mungkin saja, dia berada disekitarku. Namun, hingga saat ini aku belum juga melihat rupa aslinya. Seketika, aku teringat akan acara walimahan kak Rehan, teman satu rekan kerjaku dan teman mas Adam juga. Di acara itu, kemungkinan kita bertemu cukup besar. Entahlah, ada secerca harapan dihatiku, sebuah pertemuan raga.
Tiba saatnya acara walimahan kak Rehan. Aku mengenakan baju atasan bahan crape berwarna biru dongker, dengan kerudung bahan satin berwarna senada yang menjuntai hingga menutupi dada dan rok hitam yang jatuh hingga mata kaki. Ditambah hiasan bros kecil dan dengan sedikit riasan makeup di wajahku. Setibanya di gedung, mataku langsung menyapu isi gedung, berusaha mencari sosoknya disana. Sungguh, aku tidak tahu rupanya mungkin juga dengannya. Makanan yang dihidangkan begitu bervariasi membuat para tamu tergiur untuk mencicipi semuanya. Lain halnya denganku, aku tidak terlalu selera untuk makan. Bukan karena makanannya tidak menarik. Tetapi, karena satu hal yang telah menguras pikiranku sejak awal aku berada disini. Adam. Mungkinkah ia ada disini? Melihatku?
Seusai berfoto bersama pengantin, aku terpisah dengan rekan-rekan kerjaku. Aku sedikit kikuk diantara tamu-tamu yang berlalu lalang mengantri makanan. Akupun memutuskan untuk keluar gedung, hingga sebuah suara menghentikan langkahku.
"Hanum...." teriak kak Freya di tengah kerumunan tamu.
"Kenapa kak?" tanyaku lirih, menghampirinya.
"Tadi gue ketemu mas Adam. Dia tanya, Hanum yang mana. Pas gue mau ajak dia ketemu lo, eh ada yang narik-narik gue" jelas kak Freya semangat.
"Tadi gue juga lihat tuh, si Hanum lewat gitu aja pas mas Adam lagi ambil nasi. Bukannya kalian udah saling kenal?" celetuk kak Hani.
Deg. Hatiku terasa berdebar. Aku nyaris bertemu dengannya. Hanya saja, waktu berlalu begitu saja. Bukan saat ini. Di tempat ini.
"Apa berarti aku tidak berjodoh dengannya?" batinku dalam hati.
“Ups, apakah aku berharap dia adalah jodohku?” lanjutku resah.
Di waktu sepertiga malam, aku bangun untuk segera bertahajud. Entah mengapa, dari beberapa pria yang mendekatiku. Baru kali ini aku merasa berbeda. Aku bercerita padaNya, mencurahkan segala isi hatiku. Memohon diberikan jodoh yang terbaik untukku, yang Dia ridhoi. Tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas begitu saja dalam benakku.
"Akankah Engkau mempertemukan aku dengan Adam?"
***
Pagi itu, banyak sekali orang yang menghubungi ruang kerjaku. Mungkin karena hari ini akan ada perkerjaan baru yang cukup menghebohkan. Sampai pada yang kesekian kalinya aku mengangkat telepon.
"Selamat pagi dengan Hanum bisa dibantu?" sapaku santai
"Dengan siapa?" tanya suara seorang pria di telepon itu.
"Ha-num" kataku mencoba mengeja namaku.
"Saya Adam.." ucapnya lembut.
YOU ARE READING
Istikharah Cinta
Short StoryDeg. Hatiku terasa berdebar. Aku nyaris bertemu dengannya. Hanya saja, waktu berlalu begitu saja. Bukan saat ini. Di tempat ini. "Apa berarti aku tidak berjodoh dengannya?" batinku dalam hati. "Ups, apakah aku berharap dia adalah jodohku?" lanjutk...
