Part 1 "The terror from the past"

99 10 26
                                        

    "Koichi..Koichi. Mau sampai kapan kau tertidur seperti mayat?"
(Tampak seorang wanita paruh baya mengguncang tubuh putra tunggalnya).
"Lagi-lagi mimpi yang sama terulang kembali".
"Hah?!..cepatlah sadar atau kau akan terlambat bekerja. Ibu berangkat dahulu"

"Aku hanya lelaki yang tak memiliki apa-apa. . ."
"Aku terlalu takut . . "

"Takut untuk mengenang kesalahanku di masa lalu. . "
"Kadang aku bertanya kepada diriku . ."

"Mengapa aku tidak melakukannya dulu ?"
"Namun itu bukan sepenuhnya sebuah penyesalan"
"Pernyataan itu terngiang sebentar di benakku. Namun kemudian menghilang entah kemana"

Sepeda motor ini membawaku ke tempat kerja. Ya! Bukan tempat yang asing bagiku. Tapi entah kenapa aku merasa sepi. Seolah jiwaku pergi hanya mengikuti arah angin yang tak berketentuan, atau air sungai yang mengalir membawaku pergi entah ke arah mana.

-Sesampainya-
"Koichi, lagi-lagi kau datang terlambat. Ada apa? Kau sedang bertengkar dengan keluargamu?" tanya seorang lelaki gemuk berdasi hitam.
"Saya tahu pak, saya berjanji hal seperti ini takkan terjadi lagi"
"Baguslah kalau begitu. Antarkan segera pesanan ke alamat ini" balasnya sambil memberikan sehelai kertas.
"Baik pak. Saya permisi dulu ..."

Tiba-tiba dari belakangku muncul seorang wanita yang sama sekali tak asing. Namanya Yukimura Akari. Ia berumur 18 tahun. Terpaut 5 tahun denganku.

"Saya juga akan mengantar pesanan pak!"
"Ya!.. Hati-hati di jalan.."

"Mamoru-san jangan memakan hamburgernya di jalan ya!" celetuknya sambil tertawa kecil.
Apa-apaan itu? Apakah lelucon tahun 80-an. Bodoh sekali.
"Aku takkan memakannya" balasku.

Segera aku pergi untuk mengantarkan kiriman pelanggan. Bagiku pekerjaan part time ini sangat penting walau tak seberapa penghasilannya. Tanpa kusadari aku melamun. Penyesalan karena kesalahanku di masa lalu kembali terngiang seolah tak mau melepaskan cengkramannya.
(Tiba-tiba)
BRAKKK...!!!!

Sepeda motorku menabrak seorang lelaki renta yang berpakaian cukup mencolok.
"Kek, apa tidak apa-apa? Ada yang terluka? Kek, maaf ini semua kesalahan saya"

Sialan !! Disaat seperti ini masalahku bertambah lagi. Penghasilanku tidak seberapa dan akhir bulan pun belum datang.

"Tidak apa-apa...Untuk ukuran orang yang sudah tua aku terlalu angkuh berjalan sendirian begini" ucapnya sambil berusaha berdiri.

Akupun mengulurkan tanganku, mencoba mengangkat kakek yang malang ini. Apakah dia tak memiliki keluarga? Mengapa tak ada satupun yang peduli dengannya?. Aku terus menerka-nerka dalam hati.

"Aku melihat ada keputusasaan yang besar dari matamu" kata kakek itu sambil menatap serius kepadaku.
"Ehhh??!!"

Hah? Apa maksudnya? Apa dia ini adalah orang yang kurang waras karena berpikir untuk mengatakan kata-kata itu ataukah dia memang benar mengetahui isi pikiranku?.

"Aku tahu.. Kau pasti anggap orang tua sepertiku orang yang tidak waras"

Dia benar-benar bisa membaca pikiranku.
"Bukan begitu kek.. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa maksud perkataanmu"

Dia nampak tak menghiraukan ucapanku lalu berbalik sambil berkata
"Percayalah, jika kau berjuang keras untuk mengubah takdir maka secercah harapan akan muncul dengan sendirinya"

Orang yang sangat aneh, pikirku.
Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah pass berwarna hitam dan kotak kecil di sebelahnya.

Benda aneh apa ini? Apa ini milik si kakek penyair itu?..
"Kek ada barangmu yang ketingga..."
Saatku menoleh ke belakang tak ada apa-apa selain pejalan kaki dan kendaraan yang berlalu lalang. Seolah orang tua itu tak pernah ada.

"Hah? Apa ini yang namanya bertemu hantu di siang bolong?"
Aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Namun kulihat pass ini tidak ikut menghilang jadi kusimpan saja. Siapa yang tahu ini akan berguna.

Setelah aku bekerja selama delapan jam akhirnya tiba waktunya untuk berkemas. Aku sudah lelah dan ingin segera membenamkan tubuhku di kasur. Tertidur sampai esok hari kemudian mengulang hal yang sama.

Ku keluarkan sebatang rokok di luar restoran. Mungkin benda ini dapat sedikit membantu meringankan bebanku. Tiba-tiba rokok yang hampir kumasukkan ke dalam mulut direbut oleh tangan yang lagi-lagi tak asing.

"Mamoru-san, rokok itu tak baik untuk kesehatanmu loh.. Apa kau mau terkena penyakit di usia muda?"
"Lagi-lagi kau Yukimura.. Berhentilah mempedulikanku"
Tapi dia hanya bersiul pura-pura tak mendengar.

"Urus saja dirimu dan kembalikan rokok milikku!" lanjutku.
Dengan santai dia merobek dan membuangnya ke bak sampah lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Ambil permen ini dan kau tahu wanita itu tak suka dengan pecandu rokok loh.. Aku pulang duluan, dahhh"

Tiada pilihan lain selain menerima lolipop darinya. Apa maksud perkataannya barusan? Apa dia menyukaiku?. Entahlah, yang jelas aku belum bisa melupakan gadis itu. Gadis di masa lalu yang aku sukai. Gadis yang selalu menghantui pikiranku. Karena dia aku tak pernah bisa bermimpi indah.

Ah sudahlah. Tak ada gunanya bagiku terus menerus terjebak dalam masa lalu. Ku laju sepeda motorku menuju rumah.

Author
Yo ini part pertama sekaligus cerita pertamaku di wattpad ^-^
Silahkan komentar untuk ngasih kritik dan saran ^^
Buat yang belum tahu cerita ini aku adaptasi dari boku dake ga inai machi..Tapi aku juga mau bikin jalan cerita sendiri ..
Makasih yang udah bersedia kasih masukan :D

Faster Than The ClockHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora