Jeon Jeongguk, seorang lelaki yang bisa dikatakan sudah mapan. Banyak perusahaan yang bekerja sama dengannya, saham berada dimana-mana, rumah mewah dengan kendaraan yang berjejer rapi di garasi, dan namanya yang dikenal oleh seantero negeri.
Namun sayang, dibalik itu semua ia harus mengambil resiko tinggi dengan melepas seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya, sang istri. Berawal dari keegoisannya, ia harus menerima alur hidupnya.
Waktu seolah mempermainkannya dengan menyembunyikan fakta jika istri tercintanya hamil seusai mereka bercerai. Mengetahui hal tersebut membuatnya semakin frustasi, ingin ia meninggalkan seluruh masalah perusahaannya dan menarik sang istri untuk berada di pelukannya kembali namun usahanya akan sia-sia. Biarlah ia egois terlebih dahulu.
Kini dengan umur yang terbilang cukup muda untuk menjadi seorang miliarder, jeon jeongguk hanya membutuhkan seorang pendamping hidup. Sudahlah tidak neko-neko, cukup bawakan si manis. Dengan senang hati ia menikahinya kembali.
Tiga tahun berlalu, jeongguk sudah membuktikan kepada seluruh orang yang pernah mengejeknya bahwa ia bisa menjadi orang berguna.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, jeongguk sudah siap dengan jas hitam dengan tas kerjanya, mengambil kunci mobil secara acak di gelas besar yang penuh dengan kunci.
Ia berjalan ke garasi mobil, memencet alarm mobil agar ia tahu mobil mana yang akan ia bawa hari ini. Tampak sebuah Cadillac putih dengan plat nomor cantik pilihannya. Ah, mobil kesayangan taehyung rupanya.
Dengan senyum bangga ia menghampiri mobil tersebut, menyalakan mesinnya lalu mulai keluar dari lingkungan rumahnya.
Jalanan tampak ramai. Maklum saja sekarang hari Senin, banyak orang yang keluar untuk mengawali seluruh pekerjaan mereka.
Hanya beberapa menit, jeongguk sudah datang di perusahaan yang berdinding kaca miliknya. Melihat mobil yang asing security disana menghampiri. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Ujarnya sembari mengetuk kaca pengemudi.
Jeongguk hanya tersenyum, jemarinya menekan sebuah tombol agar kaca mobilnya turun perlahan. "Selamat pagi juga, pak."
Setelah dipikir-pikir, ia memang nggak pernah membawa mobil ini. Bukan maksud sombong tapi karena terlalu banyak mobil di garasinya membuat jeongguk sedikit kebingungan untuk menaiki kendaraan yang mana. Selain itu, ia juga sedikit menyayangi memberi perawatan lebih karena bagaimanapun juga mobil ini kesayangan taehyung.
Security perusahaannya sedikit terkejut, dengan sigap memberikan hormat kepada jeongguk, "haduh, maaf pak. Saya nggak berniat menghentikan bapak."
Jeongguk mengangguk, masih dengan senyuman yang bertengger di bibir tipisnya. "Kerja bagus, pak. Saya masuk dulu, ya."
Tanpa menunggu tanggapan dari security tersebut, jeongguk menjalankan mobilnya lagi, memarkirkan di parkiran khusus untuk dirinya lalu keluar setelah mengunci mobil putih itu.
Jeongguk berjalan dengan tenang, sesekali menyapa dengan senyuman beberapa karyawanti yang sengaja menatapnya penuh harap.
Sebagai seorang bos perusahaan yang dikenal masih lajang banyak karyawanti yang mendekatinya, bahkan nggak jarang pula anak dari perusahaan kecil yang bekerja sama dengan perusahaannya terang-terangan ingin menikah dengan jeongguk.
Untung saja jeongguk hanya tersenyum menanggapi dan berujar jika ia sudah memiliki pujaan hatinya yang kini sedang berada di luar negeri. Padahal aslinya, pujaan hatinya sedang sibuk mengurusi perusahaan juga di negara yang sama.
Mungkin separuh dari karyawannya tahu akan kehadiran sosok anak kecil yang beberapa kali mengunjungi perusahaan jeongguk, terkadang juga ikut bermain saat jam istirahat sudah dimulai mungkin hanya alih-alih agar mereka bisa mengambil hati jeongguk.
Bocah belum genap 3 tahun bernama Jeon Soojin, anak dari Jeon Jeongguk dan Kim Taehyung. Sifatnya yang humble membuat anak itu disukai oleh banyak orang, turunan murni dari sang ibu.
Jeongguk mendudukkan diri di kursi kekuasaannya, kembali berhadapan dengan berkas-berkas membuatnya semakin terlihat tua dari usianya. Meskipun begitu ia nggak mengeluh, demi masa depan keluarganya.
"Semangat jeongguk, demi soojin dan taehyung lo harus bisa bikin mereka bahagia." Ucapnya menyemangati diri sembari tersenyum lebar.
Tangannya mulai membuka map-map berbagai warna, membaca secara singkat lalu menyimpulkan dengan matang maksud dari berkas tersebut, mengangguk paham lalu menandatanganinya.
Terlarut dalam kesibukannya dengan berkas-berkas, telponnya berdering. Sedikit meregangkan seluruh ototnya lalu beralih menatap layar ponsel, membaca kontak yang menelponnya tanpa sadar seulas senyuman bertengger di bibir tipisnya.
"Selamat pagi, sayang. Gimana harinya?" Ucap jeongguk, menyenderkan punggungnya yang terlampau lelah namun raut wajahnya masih ceria.
Terdengar kekehan dari lawan bicara, seperti alunan musik yang sangat jeongguk sukai. "Pagi juga, kamu lagi sibuk, nggak?"
Jeongguk menggeleng, tentu saja lawan bicaranya nggak tahu. "Enggak kok, aku lagi nggak sibuk." Tangannya terangkat membereskan berkas-berkas yang terbuka dan menaruh pulpen di tempatnya.
"Hari ini jadwalku padat, kebetulan mama papa juga keluar negeri. Aku bisa titip soojin ke kamu?"
Kesempatan bagus! Jeongguk sedang ingin bermain degan buah hatinya. "Boleh dong. Mau aku jemput atau gimana?"
"Jemput aja di bawah, aku udah sampai." Detik itu telpon sudah mati, kebiasaan yang sering dilakukan oleh taehyung tampaknya tidak menghilang. Jeongguk hanya bisa tersenyum maklum.
Dengan seribu jurus, ia sudah berada di lantai dasar. Dimana ada sesosok lelaki lebih tua dua tahun darinya dengan anak laki-laki di gendongannya.
Hatinya sedikit menghangat melihat bagaimana cekatannya taehyung merawat gumpalan lemak bernama soojin, apalagi kalau dilihat-lihat tubuh anaknya sedikit berisi dari sebelumnya.
"Hei jagoan, papa kangen banget, nih. Peluk dong." Jeongguk merentangkan tangan, berjalan mendekati taehyung dan soojin tanpa menghiraukan kehadiran karyawannya.
Soojin menoleh, tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya lalu ikut merentangkan tangannya kepada sang papa. "Papa! Kangen, kangen."
Anak itu memeluk erat leher papanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher jeongguk. Memejamkan matanya yang terasa berat karena taehyung memaksa soojin untuk bangun pagi.
"Kalo gitu aku duluan, ya," ucap taehyung. Tangannya mengusap rambut halus sang anak, mencium pelipisnya sekilas sembari bergumam, "anak mama jangan buat papa kewalahan, ya, mama berangkat kerja dulu."
Jeongguk mendekat, mencium dahi taehyung sekilas lalu mencubit pipi tersebut. "Nanti kita makan siang bareng, oke, ndut?"
Taehyung mendengus, jeongguk dengan seluruh kejahilannya adalah sebuah perpaduan yang membuat taehyung jengah. "Bilang ndut sekali lagi aku basmi mulut kamu. nanti jemput aku, ya."
Mantan istrinya tersenyum, melambaikan tangan kepada dirinya sembari berjalan menjauh darinya. "Paipai mama," ucap jeongguk saat mobil taehyung sudah berlalu.
"Cha! Karena soojin bobo, papa lanjut kerja lebih dulu, ya, sayang." Ia mencium pelipis anaknya sembari berjalan kearah lift pribadinya.
💫💫
191020
Wah ff baru lagi nieh. HAHAHAHAHAHA
Berhubung aku lagi free dan nggak ada tugas sama sekali, aku berhutang ff lagi 😗
Tertanda cinta fufflytata 💋
YOU ARE READING
MANIS ; Kookv
FanfictionMata jeongguk terpaku oleh kedatangan seorang lelaki berumur 2 tahun lebih tua darinya. Tersenyum sangat indah saat mata mereka beradu. Telak, jeongguk lupa bernafas. Ia adalah manisnya. Mantan istri yang kini sedang merawat anak hasil jerih payah...
