Ruangan putih kecil itu lengang.
"Halo, Elis." Pria itu menatap Elis dengan cemas.
Elis hanya terdiam duduk dengan mata kosong.
---
Hans tertunduk di depan buku kesukaannya. Harinya buruk.
Dia bisa saja menyeduh cokelat panasnya dan duduk di beranda rumahnya dengan tenang, tadinya ingin begitu.
Tapi, dia tidak bisa memalingkan matanya dari tetangganya yang belum pernah dilihatnya yang dengan anehnya, keluar pada malam itu.
YOU ARE READING
To be A Human
Teen FictionElis termenung, apa ia akan diterima dengan wujudnya yang berbeda? "Elis, tidak masalah jika sebagian badanmu bukan milikmu. Itu tidak merubahmu, sayangku. Karena untuk menjadi manusia, kamu hanya perlu menjadi dirimu." -- To be A Human. Cover mad...
