Pagi ini aku berjalan tanpa semangat, menghela nafas berkali - kali, berharap rasa sesak itu hilang. Kugenggam erat kantong plastik berisi kue yang kubuat tadi malam.
Aku benar - benar ingin menangis, seperti tercubit tapi birunya tak hilang. Padahal hari ini langit begitu cerah, sungguh berbeda dengan suasana hatiku.
Dasar bodoh! Untuk apa merutuk?! Toh tidak akan bisa kembali lagi. " Siena tunggu. " Aku terpaku, mau apa lagi bajingan itu memanggil namaku.
Berbalik, kuhapus tetes air mata yang membandel " Apa?! Ngapain lu kesini? " Aku tak perduli dengan pandangan orang - orang yang menatap kami, tak perduli juga dengan dia yang memasang raut tak suka. Hari ini aku tak akan menahannya lagi, aku tak akan jadi gadis bodoh yang lemah lembut lagi.
Sudah cukup selama ini aku bertahan. Dia harus tahu bahwa aku sudah lelah hanya menjadi pihak yang mengalah. Aku muak.
" Kamu mau kemana? " Sorot tajamnya diarahkan padaku.
Menghembuskan nafas perlahan, aku mencoba menahan kesal. " Mau pergi dan gua rasa lu ga perlu tahu kemana tujuan gua. "
" Stop penggunaan gua-lu. Kamu kalau marah pasti kaya gitu, sekarang ikut aku. "
" Engga mau, kalau mau ngomong mending disini aja. " Aku sudah bisa menebak rencana liciknya, dia akan mencari tempat yang lebih privasi dan saat kami hanya berdua aku yang akan dijadikan pihak yang disalahkan.
Hidup ini tidak adil. Semua kesalahan yang dia lakukan pasti akan ditumpuk dan diberikannya padaku. " Engga disini. Kamu mau kita diliatin banyak orang? "
" Disini atau ga bakal ada pembahasan apapun. " Adri diam, aku tahu dia berusaha untuk tidak membentakku. Aku tahu tabiatnya, kami sudah lama berhubungan dan apabila dia marah, dia pasti akan membentakku.
" Udahlah Dri, udah aja yah. Aku capek. Kita putus. "
Aku berbalik, meninggalkannya yang hanya diam ditempat. Cukup sudah, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dan dia hanya akan jadi pihak yang terpuruk.
***
2 Tahun Kemudian
Ini hidupku. Hidup yang sangat membosankan. Aku gagal membuktikan pada Adri bahwa aku akan bahagia. Aku gagal membuktikan padanya bahwa aku akan lebih sukses darinya.
" heh... bengong aja. " Aku tersentak, kuelus dadaku perlahan. Tatapan tajam kuarahkan pada pelaku yang membuatku kaget.
" Itaaaaa lu itu yah. Selalu dan selalu bikin gua kaget. Ga ada bosen - bosennya nih bumil. " kukerucutkan bibirku berharap dia peka bahwa aku kesal.
Suara tawa Ita kian mengencang, membuatku semakin mengerucutkan bibir. Ibu hamil satu ini memang paling hobi membuatku kesal.
Setelah tawanya berhenti barulah dia bicara. " Sorry deh cantik, habis lu tuh kebanyakan bengong tau ga. Lu tuh masih muda, ngapain sih bengong melulu? Kaya orang lagi banyak utang. "
" Ish... ga usah sok tau deh. Gua cuma lagi mikirin sampel yang belum kelar. Si boss udah nagih. "
" Duh... kalo sampel belum kelar yah dikerjain dong cintaaa jangan malah bengong. "
" Habis gua capeeeek. Kemaren baru aja beres nyelesain 20 sampel gara - gara si boss ngotot itu sampel sekaligus laporannya kudu beres hari itu juga. Sekarang gua kudu nyelesain 20 lagi, gilaaaa boss udah gilaaa. Itaaa gua capek. "
