Jason membenci hantu.
Sangat benci.
Jason harus hidup bertahun-tahun dengan melihat hantu disisinya.
Pertama kali ia melihat hantu adalah ketika usianya menginjak 17 tahun. Kini, ia berusia 23 tahun. 6 tahun memendam kekesalan dan tidak absen merutuki nasib sial setiap harinya.
Jason membenci hantu, namun ia tidak takut pada mereka.
Untuk apa takut? Pikirnya setiap hari.
Justru, hantu-hantu itulah yang takut kepada Jason. Entah karena tampang Jason yang super jutek atau karena hal lain.
Hantu hanya akan menakuti manusia yang takut pada mereka, kata orang-orang.
"Ugh," ringis Jason dengan ransel besar yang ia gendong, merasa keberatan karena membawa ransel besar tersebut selama berhari-hari.
Jason adalah seorang backpacker. Ia senang berpetualang dengan uang seadanya.
Dan selama ia berpetualang itulah ia bertemu dengan banyak hantu.
Krekk..
Bunyi pagar yang sudah berkarat terdengar berderit ketika Jason geser. Ia sudah berada di rumahnya yang sepi.
Sudah pukul 11 malam. Lampu rumahnya menyala. Padahal, ia yakin betul ia tidak pernah menyalakan lampu rumah tersebut selama ia pergi.
Ah, siapa yang peduli? Pikirnya.
Jason terlalu lelah untuk memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia ingin segera masuk ke dalam rumahnya.
"Sial," keluh Jason.
Pintunya terkunci dari dalam, dan ia ingat betul ia tidak mengunci pintu rumahnya selama ia pergi.
Ceroboh memang, tapi ia yakin tidak akan ada yang mencuri barang-barang di rumahnya.
Jason melepas ransel besarnya, ia mencoba mengumpulkan tenaga untuk mendobrak pintu. Seharusnya ia tidak berharap lebih, tenaganya sudah banyak terkuras karena pergi kesana kemari.
Brakkk..
Pintu kayu berwarna merah kecokelatan itu akhirnya terbuka.
Jason nampak puas. Ia membawa serta ransel besarnya dan dengan sigap masuk ke dalam rumah seraya menutup pintu ㅡyang sebelumnya sudah rusak, bertambah rusak karena ia dobrak.
Baru beberapa langkah. Ia sudah merasa diawasi.
Jason mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari siapa yang mengawasinya.
Ia mengangkat bahu berusaha tak peduli, namun dilangkah berikutnya ia mendengar suara langkah kaki di lantai atas.
Tap tap..
Tap tap tap tap..
Tap tap tap tap tap..
Langkah kaki yang semula terdengar pelan itu semakin terdengar menggebu-gebu. Setelah itu suaranya menghilang.
Dahi Jason berkerut. Ia baru saja pulang dan sudah diganggu oleh mereka?
Jason menaruh ransel besarnya di sofa. Lalu duduk bersandar mencoba menetralisir segala pikiran.
Tap tap tap..
Terdengar lagi.
Jason menengadah. Ia tidak ㅡatau belum?ㅡ melihat apapun. Biasanya, tak lama kemudian ia akan melihat sosok mereka yang sebelumnya mengganggu.
Ssh... Ssh... Ssh..
Terdengar bisikan halus lagi-lagi dari lantai atas. Jason merutuki nasib sialnya, sungguh ia sedang lelah sekarang.
Jason berusaha untuk mengabaikan hal tersebut. Ia memejamkan matanya. Hanya beberapa menit ia merasa tenang, tak lama terdengar suara bisikan lagi.
Sshh... Sshh..
Sontak, Jason membuka mata dan masih belum melihat apa-apa di sekelilingnya.
"Hei!" gertak Jason. Ia tidak berhak merasa takut, ia melakukan yang seharusnya yaitu marah karena merasa diganggu.
Digertak seperti itu, suara bisikan tersebut berhenti.
Jason mengambil remote televisi dan menekan tombol on. Sejujurnya, ia tidak ingin menonton acara apapun di televisi, namun mungkin suara dari benda persegi panjang itu dapat menyamarkan suara-suara dari mereka.
Setelah suara televisi terdengar dengan volume yang cukup kencang, suara bisikan tersebut terdengar kembali. Kali ini terdengar lirih dan parau.
Jason lagi-lagi mengerutkan dahi dan membanting remote.
"Hentikan!" seru Jason bangkit dari sofa dan menantang siapa pun itu.
Hening sejenak. Jason berkacak pinggang sembari menengadah. Masih belum terlihat siapapun juga.
Tak berselang lama, terdengar suara tangisan seorang perempuan.
Karena penasaran yang sudah membuncah, Jason memberanikan diri menuju ke lantai atas.
Ia melangkah melalui tangga kayu rumahnya secara perlahan-lahan. Sesekali menengok ke arah televisi untuk memastikan benda tersebut menyala dan suaranya seolah menemani dirinya.
Tap tap tap..
Hanya terdengar langkah kakinya sendiri di rumah besar ini. Ia menyentuh tengkuknya sejenak lalu melangkah menuju ruangan paling ujung di koridor lantai 2.
Entah apa yang membawanya ke ruangan itu, namun ia merasa suara-suara aneh tersebut berasal dari sana.
Jason berada di depan ruangan tersebut sembari memegang kenop pintu. Menimang-nimang apakah ia akan membuka pintu tersebut atau tidak.
Terulang lagi. Bisikan tersebut terdengar lagi untuk kesekian kalinya. Disusul dengan suara tangisan yang samar-samar terdengar.
Jason mundur selangkah dari ruangan tersebut, namun setelah memantapkan hatinya ia membuka pintu.
Ia mendapati dua sosok yang tengah berjongkok di sudut ruangan. Keduanya terlihat lusuh dengan mata sayu yang memerah.
Sang perempuan menangis dengan menutup mulut mencoba menahan isak tangisnya, sementara sang lelaki mendekap perempuan. Usia keduanya terlihat seperti usia remaja.
"Kubilang hentikan," ucap Jason. "Berhenti mengganggu orang lain."
Tangisan sang perempuan semakin menjadi-jadi.
"Apa yang kau lakukan di rumah kami?" tanya sang lelaki dengan nada takut-takut.
"Rumah kalian?" Jason balik bertanya. Mendekati keduanya lalu mendelik tajam. "Jangan mengaku-ngaku!"
Jason tidak takut hantu. Apalagi yang sudah menganggunya. Ia segera merogoh sesuatu dari jaketnya. Sebuah benda tajam.
Posisi seperti ini menguntungkan bagi Jason. Ia dapat dengan mudah menusuk-nusukkan benda tajam tersebut ke tubuh keduanya.
Lelaki berusia 23 tahun itu bertenaga kuat dibanding dua remaja dihadapannya.
Tak perlu waktu lama, keduanya sudah bersimbah darah. Jason terkikik senang melihatnya dan menancapkan benda tajam tersebut ke betis sang lelaki sebagai sentuhan akhir.
Ia keluar dari ruangan tersebut segera, merasa puas atas apa yang ia lakukan.
Jason tidak takut hantu.
Jason senang berpetualang.
Jason membenci 'hantu'. Untuk apa mereka bersembunyi kalau pada akhirnya akan tewas juga?
Ia menuju ke ruangan lain, membuka laci-laci yang ada dan mengambil seluruh uang dan perhiasan yang ada.
Lalu, ia turun dari lantai atas. Menoleh ke arah televisi yang menampilkan berita malam.
Berita yang berisi sebuah pencarian aparat polisi terhadap buronan yang menjadi pembunuh dan perampok. Jason tersenyum lebar mengetahui ia sudah terkenal dan masuk televisi.
Jason sang pemberani. Ia berani berpetualang dan sudah siap untuk menuju tempat selanjutnya. Dimana ia akan bertemu 'hantu'.
-End
KAMU SEDANG MEMBACA
Whisper
Cerita PendekFakta mengenai Jason adalah ia membenci hantu. Ya, ia dapat melihat hantu dan membenci mereka karena dianggap telah mengganggunya. Lalu, bagaimana hidupnya jika di sekitarnya selalu ada mereka?
