( Karena Saya Memilih Kamu )
"Arsyla Nasha Shafana!"
Arsyla cepat-cepat mendongakkan kepalanya dan menatap sosok Bu Ine yang sudah telebih dulu memberinya tatapan maut. Dengan bibir yang gemetar, Arsyla memberanikan dirinya untuk angkat bicara, "Eh, i-iya Bu?"
"Kamu dengar apa yang tadi saya jelaskan?"
Arsyla menelan ludahnya pait. Boro-boro mendengarkan, bahkan dia tidak tahu materi apa yang sedang dijelaskan oleh Bu Ine. Matanya mencari sumber hidayah dari buku catatan milik Nirina – Si Rangking Satu yang kebetulan menjadi teman sebangkunya. "Tentang perkembangan masyarakat Indonesia pada masa VOC 'kan Bu?"
"Bagus," Bu Ine terlihat cukup puas dengan jawaban Arsyla. "Lebih bagus lagi kalau handphone kamu disimpan."
"Iya Bu maaf," Arsyla kini bisa bernafas lega karena tatapan tajam nan mengerikan Bu Ine sudah lepas darinya. Kemudian gadis itu melirik Nirina, "Thank's ya Nir!" Ucapnya sedikit berbisik.
"Huh! Makanya jangan chat-an mulu!" Nirina sudah hafal betul tabiat teman sebangkunya itu. Arsyla sering kali memainkan ponselnya pada waktu jam pelajaran ketimbang memperhatikan guru yang tengah menjelaskan materi didepan kelas. Tapi ajaibnya, ketika ulangan datang Arsyla selalu mendapat nilai diatas KKM. Entah apa jurus yang digunakan gadis itu, sampai sekarang masih menjadi misteri tersendiri bagi Nirina.
***
"Ih, kamu lama banget sih!" Cerocos Arsyla ketika mendapati motor Adnan beserta pemiliknya berhenti tepat dihadapannya. "Ngaret nyampe setengah jam lebih tau nggak?!"
"Iya-iya maaf deh, kampus aku sama sekolah kamu 'kan jauh, Nas." Adnan menyodorkan sebuah helm kepada Arsyla yang sudah duduk manis dibelakangnya. "Nih, pake Nas!"
Arsyla tidak menjawab lagi. Adnan yakin kalau gadis dibelakangnya itu sudah marah besar kepadanya. Oke, mungkin ini kesalahan Adnan yang tadi malah menemani Niko dulu. Oh atau ini salah Niko yang mengajak Adnan untuk menemaninya? Oke, siapa pun yang salah tapi Arsyla pasti akan tetap tutup mulut hingga rasa kesalnya meredam.
"Nas, makan dulu ya? Aku laper belum makan dari tadi pagi." Adnan angkat bicara setelah motornya memasuki kawasan parkiran salah satu kedai makan.
Arsyla masih enggan menjawab. Gadis itu tetap bungkam dan lebih memilih untuk berjalan dengan lambat beberapa langkah dibelakang Adnan. Membuat cowok itu geram dan memutar otaknya sebisa mungkin untuk merayu Arsyla, memikirkan cara agar gadis yang kini berjalan dibelakangnya itu memaafkan kesalahannya.
"Nas, kamu mau makan apa?" Tanya Adnan sambil membaca buku menu.
"Enggak."
"Nas, kamu mau milkshake ice cream rasa stroberi enggak?"
"Enggak."
"Nas, jangan gini dong, oke kamu boleh marah sama aku, aku ikhlas. Tapi kamu juga harus ikutan makan, jangan biarin aku makan sendiri. Nanti 'kan orang yang liat kita pasti bakalan ngiranya aku cowok kikir yang makan sendiri, 'kan enggak enak."
Arsyla menghirup oksigen lebih dalam, rasa kesalnya kian bertambah mendengar celotehan Adnan. "Buruan makan, terus kita pulang. Aku capek."
"Ya aku juga capek Nas, makanya kamu makan dulu." Adnan masih berusaha membujuk gadis yang ada dihadapannya itu.
"Nafsu makan aku udah hilang dari tiga puluh menit yang lalu waktu aku nungguin kamu tadi."
Adnan meraih lengan kanan Arsyla yang terkulai lemah diatas meja, menggenggam lengan yang lebih kecil dari lengannya itu, matanya menatap Arsyla dengan memelas. "Nas, aku 'kan udah minta maaf, oke deh aku emang salah. Ngebiarin kamu nunggu nyampe lebih dari tiga puluh menit dan enggak ngebales chat sama freecall kamu, tapi aku 'kan enggak bisa megang handphone kalau lagi bawa motor, Nas."
YOU ARE READING
Pineapple
Short StoryBola mata Arsyla melebar pada detik setelah Adnan menyelesaikan ucapannya. Percakapan ini adalah segala hal yang selalu dirinya hindari selama ini. Membahas bahwa mereka berdua ini sesungguhnya berada dalam hubungan yang macam apa. Tidak pernah seka...
