Satu

403 1 0
                                        

Pagi ini gue dengan semangat memulai semuanya dari awal. Karena apa? Sekarang gue tinggal di kota kelahiran bokap gue dan tentunya, gue akan punya sekolah baru disini. Baru? Mendengar kata itu, pasti hidup gue akan lebih berwarna dari sebelumnya. Sekolah baru, teman baru, tentunya target baru. Katakanlah disini gue jahat. Tapi, gue bukan jalang yang seperti kalian ketahui. Gue cuma benci dengan orang-orang yang hidupnya penuh dengan drama percintaan. Tapi gue suka dengan orang-orang yang derita akan percintaan mereka.

05.15 WIB
Gue bergegas untuk melaksanakan kewajiban gue ya seperti mandi dan siap-siap menuju sekolah baru. Hari ini, gue harus memakai baju seragam kemeja putih dengan rompi motif kotak-kotak berwarna merah, rok yang senada dengan rompi, dan sepatu converse hitam kesayangan gue. Tak lupa, rambut ombre hitam-pirang gue yang diikat asal. Polesan make up senatural mungkin dan lensa min berwarna hazel yang sudah ku pasang.

"Pagi, bunda, ayah." sapa gue pada bokap dan nyokap yang sudah berada diruang makan.

"Sama gue gak bakal nyapa nih?" gue yang tadinya masang muka senyum perlahan pudar karena Farrel, adik gue satu-satu nya yang tengil.

"Pagi adek gue yang apalah-apalah." sapa gue sedatar mungkin padanya. Dan si Farrel hanya senyum-senyum gak jelas.

"Ayo kalian sarapan dulu, kalian kan harus berangkat pagi-pagi." setelah bunda mengucapkan itu, gue langsung mengambil roti dan mengoleskan madu diatasnya. "Sasha, nanti disekolah kamu pantau terus ya adik kamu. Jangan sampe dia macem-macem disana." lanjut bunda. Dan gue hanya mengangguk menanggapinya.

Gue dan bocah tengil ini a.k.a si Farrel emang satu sekolah dan sialnya lagi, satu kelas. Yaitu kelas XI IPA 3. Entah kenapa ayah sama bunda bikin anak yang umurnya tuh cuma beda 5 bulan. Tentu disini gue yang lebih tua dari si Farrel. Otomatis, sekolah dan les pun kita pasti sama-sama. Tak sedikit orang yang beranggapan kalo kita ini kembar. Malah ada yang bilang kalo kita adalah sepasang kekasih. Hell no! Kalo pun iya, mana ada yang betah sama ketengilannya dan keusilannya. Ya walaupun gue akuin, dia sedikit lebih pintar soal eksak daripada gue.

"Cepet makannya! Lelet. Kita nanti bisa telat tau." adik siapa sih ini yang berani nyuruh-nyuruh kakaknya? Tanpa gue jawab, gue langsung menghabiskan susu yang bunda buatkan dan langsung pamit sama ayah dan bunda. Ya walaupun kata orang sifat gue blangsak, tapi gue mah masih hormat sama orangtua.

"Ayo cepetan!" gue berlari ke arah pintu meninggalkan Farrel dengan tampang cengo nya. "Lo tuh ya, katanya tadi nyuruh gue cepet, sekarang gue udah diluar lo malah diem didalem. Ntar kita telat, elah!" Dan perlahan, gue lihat Farrel dengan tampang bete nya dan bibir nya yang komat-kamit menghampiri gue.

Rasain,lo. Batin gue.

"Nih pake helm nya." setelah Farrel memberikan helm nya, gue langsung pake dan naik ke motor nya.

____

Sekarang, gue dan Farrel sedang menemui kepala sekolah sekolah baru gue di SMA Garuda. Dan katanya, gue disuruh langsung menemui bu Yoki selaku wali kelas gue.

Disini lah gue sekarang, setelah berbincang-bincang dengan bu Yoki dan guru-guru lainnya di ruang guru, gue dan Farrel disuruh mengikutinya menuju kelas. Saat dikoridor, banyak yang menatap gue dengan tatapan yang menurut gue heran mungkin(?) ya gimana gak heran, secara gue masang tampang yang gak bersahabat.

"Selamat pagi semua, hari ini ibu membawa dua teman baru untuk kalian. Dimohon untuk perhatiannya sebentar." setelah bu Yoki berbicara seperti itu, suasana kelas menjadi hening dan pastinya terfokus ke arah gue dan Farrel. "Silahkan kalian berdua perkenalkan diri masing-masing." lanjut bu Yoki.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 17, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Sweet BitchWhere stories live. Discover now