"Kita dimana?" Tanyaku bingung.
Dia tak menjawab. Hanya membalasku dengan tatapan mata menawannya.
Dia membawaku kehutan. Semakin lama, semakin kedalam dan semakin gelap juga. Namun langkah kami tak berhenti.
"Oppaa" panggilku dengan suara gemetar.
Mataku melihat kesana kemari dengan awas. Udara mulai dingin menusuk dan membuatku sedikit menggigil.
Sadar bahwa aku mulai ketakutan, dia merangkulku dengan protektif. Tubuhnya yang hangat, dan wangi mint menenangkan pikiranku.
Kami melangkah semakin jauh. Hingga sampai di ujung hutan.
Dan.....
"Whoaaa, indah sekali." Seruku takjub.
Dihadapan kami sekarang ada sebuah danau yang tenang, rerumputan danau tumbuh subur disekitarnya, ditambah embun lembut tampak turun di atas permukaan airnya.
Namun tak hanya sampai sana, dia menuntun langkahku ke sebuah perahu yang terbuat dari kayu. Lalu, dia menaiki perahu itu, berbalik kearahku dan mengulurkan sebelah tangannya.
"Kita akan naik ini?"
"Hm." Jawabnya singkat sembari memperlihatkan senyumnya yang menggoda.
Setelah kami menaiki perahu kayu, dia mulai mendayung perahu dan berhenti ditengah-tengah danau.
Aku yang awalnya menikmati pemandangan, tiba-tiba merasa bahwa aku sedang ditatap.
Kugulirkan mataku kearahnya.
Dan benar.
Dia menatapku sangat dalam. Sangat jauh kedalam hingga aku terbuai. Jantungku mulai berdegup tak normal.
Perlahan dia mendekatkan diri kearahku dan menggenggam kedua tanganku.
Entah dorongan dari mana ataukah perasaanku yang terlalu membuncah sehingga aku ingin mengatakan,
"Oppaa.. Sarang-"
"Pssttt..." Dia memotong perkataanku. Jari telunjuknya dibibirku.
Entah mengapa, aku merasa sedih. Seperti..... Ditolak. Dia menolakku yang ingin mengutarakan perasaanku padanya.
Namun, kejadian selanjutnya diluar perkiraanku. Wajahnya perlahan mendekat. Matanya mengunci mataku , semakin menjatuhkanku kedalam pesonanya.
'Apa dia akan menciumku?' Batinku berteriak girang.
Wajahnya semakin mendekati wajahku, matanya perlahan menutup dan dia sedikit memiringkan kepalanya.
Otomatis aku juga menutup mataku, bersiap menerima ciumannya.
5cm..
3cm..
2cm..
1cm..
Hidung kami bersentuhan..
Nafasnya terasa dibibirku..
Aku mengalungkan tanganku dilehernya..
Namun akibat pergerakan tanganku, perahu bergoyang, mulai kehilangan keseimbangan..
Dan...
.
.
.
Byurrrr!!!!!!!!!!
"SARANGHAEEE OPPAAAAAA!!!!!" Teriakku kaget.
Ternyata tadi aku cuma mimpi ?
"Sarang! Sarang! Rambut kamu tuh kayak sarang burung! Dibangunin kok malah maju-majuin bibir. Mimpi apa kamu? Anak mama mesum ya? Rasain tuh air seember." Mama nyeroscos dengan watadosnya memegang ember.
"Ughhh... Mama ganggu Adhel aja. Adhel lagi mimpiin Song Joong Ki tau. Malah pake acara disiram lagi." Omelku sambil bangkit kearah kamar mandi dengan baju dan wajah basah kuyup.
***
"Pagi Dhel.. Eh muka lo kenapa? Pagi-pagi udah ditekuk aja." Sapa Reyna. Sahabatku sejak kelas X.
Aku bersekolah di SMA Diamond. Sekolah yang terbilang elite di Jakarta. Mama ingin aku masuk sekolah ini hanya karena Mama alumni sekolah ini. Padahal kan, aku cuma ingin masuk SMA negeri saja. Otakku tak sepayah itu kok!
"Bete gue"
"Bete kenapa? Uang jajan lo dikurangin?"
"Bukan. Nyokap gue tuh. Masa bangunin gue pake air seember. Gue kan lagi mimpi Song Joong Ki nyium gue."
"What? Pffttt.. Hahahaha parah nyokap lo. Lagian lo juga sih kalo tidur udah kayak kebo. Dan.. lo mimpiin Song Joong Ki? Gilee masih demen aja lo sama Korea-koreaan. Sampe kebawa mimpi lagi. Et dah" Ledek Reyna.
"Nyesel gue cerita sama lo." Jawabku cemberut.
"Hahahahaha..."
Kriiinggggg....
Bel pelajaran pertama berbunyi.
Belum lewat 2 detik bel berbunyi, Pak Jaya, guru sejarah yang terkenal killer dan pelajarannya yang membuat semua murid mengantuk, memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid baru." ucap pak jaya sambil menaikkan kacamatanya.
"Silahkan." Lanjut Pak Jaya, sembari menoleh kearah pintu.
Lalu, seorang laki-laki berperawakan tinggi, matanya yang hitam sewarna dengan helai rambutnya yang spiky, kulit putih dan berparas blasteran mengundang para siswi berbisik ribut.
"Selamat pagi. Gue Dirga Prastha." Katanya dengan tampang cool. Sedikitpun tak tersenyum.
Aku yang sedang bete hanya memandangi siswi ganjen yang berusaha menanyakan berbagai pertanyaan 'Dirga pindahan dari mana?' 'Dirga single?' 'Bisa minta Id. Line?' Dan masih banyak lagi yang sialnya hanya dijawab dengan senyuman terpaksa oleh Dirga.
'Cool sih. Tapi kayaknya songong banget. Idih. Alergi gue sama cowok begituan' cibirku dalam hati.
"Yak cukup. Perkenalannya bisa dilanjutkan nanti. Nah nak Dirga, silahkan duduk dibelakang Adhelina. Adhelina, angkat tanganmu."
Whhhaaatttt??????? Kenapa mesti aku sih? Dengan terpaksa aku mengangkat tanganku.
Lalu dengan perlahan cowok itu melangkah kearahku. Ralat. Kebelakangku. Tanpa menolehku sedikitpun!
Gilaa! Songong amat! Seenggaknya nyapa kek sama tetangga bangku baru.
Entahlah, aku merasa ini menjadi mimpi burukku.
-TO BE CONTINUE-
A/n: halooo. Malu*in ya gue berani ngepost cerita beginian. Hmmm. Maaf ya kalo mungkin ada kesamaan cerita/tokoh/ apapun. Cerita ini murni gue buat pake otak gue yang mentok T.T Fyi, gue masih newbie:( so, mohon bimbingannya, dan jangan lupa vote dan comment yah~ thanks:*
ESTÁS LEYENDO
Well, I Hate to Say I Love You.
Novela JuvenilBanyak hal yang bikin gue benci dia. 6. Nyebelin 5. Sok cool 4. Songong 3. Suka ganggu gue 2. Cakep sih 1. Anjir tapi emang beneran cakep! Dan... Kenapa sih perlakuan lo cuma aneh ke gue doang? Lo naksir gue? Hahahahahhahahahahhahahahhahahahhahahhah...
