Langit terlihat mendung. Cuaca yang tadinya cerah, kini tak tampak lagi. Yang ada hanya awan hitam menyelimuti langit. Sepertinya akan hujan lagi. Maklum saja. Bulan ini merupakan bulan hujan. Azka, cowok berwajah ala Arabian dengan postur tubuh tinggi, kurus dan kulit kuning langsat. Ia terlihat masih betah duduk ditempat tongkrongannya didekat kampus.
Azka sangat tidak menyukai hujan. Menurutnya hujan hanya akan menghambat segala aktifitas yang seharusnya dilakukan. Tidak hanya itu, cucian juga akan lama kering disetiap hujan turun. Sebagai mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua dan sebagai anak kost, Azka terpaksa melakukan segala hal sendiri. Termasuk melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, menyetrika, menyapu dan sebagainya.
"Duh...hujannya kapan berhenti nih?" gumam Azka sambil memandangi hujan dari balik kaca jendela cafe. Pemuda itu memandangi segala aktifitas orang-orang diluar sana. Ada yang berteduh dihalte, Ada yang melamun didepan pintu Cafe, Ada yang berjalan santai dengan payung mereka, dan....
Mata Azka seketika terhenti pada sosok seorang gadis yang sedang berjalan bahagia dibawah guyuran air hujan yang cukup deras. "Sedang apa dia?" batin Azka. Gadis itu terlihat sangat menikmati hujan. Sesekali gadis itu menampung air hujan dikedua telapak tangannya dengan senyum bahagia yang terlukis jelas diwajah cantiknya. Hujan seakan-akan merupakan hadiah terbesar untuk gadis itu. Cukup lama Azka memandangi gadis itu. Azka belum pernah bertemu orang seperti gadis itu. Gadis itu terlihat sangat bersinar ketika melakukan tarian-tarian kecil didalam hujan. "Apa gadis itu tidak takut sakit?" pikir Azka. Kemudian Azka beranjak dari kursi nya lalu melangkah menuju pintu keluar. Ia berjalan mendekati gadis itu. Baiklah mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya ia akan bersentuhan dengan hujan. Azka dengan terpaksa menembus hujan hanya untuk menghampiri gadis itu.
"Hei nona!" teriak Azka keras agar suaranya tidak kalah kuat dengan suara hujan. Namun gadis itu menghiraukannya sama sekali. "Hey kamu! Nona yang sedang hujan-hujanan!" teriak Azka lebih keras. Gadis itu berbalik menoleh kearah siapa yang memanggilnya. "Ya. Ada perlu apa?" Gadis itu menatap Azka dengan tampang bingung. Azka memandangi tubuh gadis itu yang sudah basah kuyup dari atas sampai kebawah. "Lo bisa sakit kalau hujan-hujanan terus. Baju lo aja udah basah kuyup begitu?! Lo gak takut?" tanya Azka dengan suara sedikit bergetar. Ia menggigil karena dingin air hujan yang terasa dikulitnya. "Maaf, tapi apakah anda memperhatikan saya dari tadi? Apa kita saling kenal?" tanya gadis itu. "Pake lo-gue aja deh. Gue emang gak kenal lo. Dan dari tadi gue merhatiin lo karena lo terlihat aneh aja tau gak?! Lo hujan-hujanan kaya anak kecil, sementara orang-orang menghindari hujan." Gadis itu tertawa mendengar ucapan Azka. Memang bener apa yang dikatakan pemuda itu. Hanya dia sendiri yang bermain ditengah hujan namun sekarang telah bertambah dengan kemunculan pemuda asing yang berdiri dihadapannya.
"Gue gak takut hujan, lo tau ada hal dalam hidup ini yang lebih menakut kan daripada sakit karena hujan-hujanan." ucap gadis itu dengan ekspresi yang berubah serius. "Oh ya btw, katanya takut hujan, tapi kok malah berdiri disini ngobrol sama gue? Baju lo udah basah banget tuh!" ucap gadis itu kemudian menyadarkanku. "Astaga! Bajuku sudah basah semua nih! Bagaimana mungkin aku baru menyadarinya?!" batin Azka. "Yaudah, yuk kita cari tempat berteduh. Eh iya, gue Azka Farid Tsaqib. Panggil aja Azka." kataku dengan menyodorkan tangan hendak berkenalan. Gadis itu tersenyum tipis "Arin Hinata" ucap gadis itu lalu menjabat tanganku. Azka tersenyum pada Arin. Dan Arin membalas senyumannya.
"Lucu ya kita kenalan sambil diguyur hujan kaya gini."
"Hahaha....iya. Pertama kalinya buat gue."
Azka dan Arin pun segera berlari kedepan pintu teras cafe tempatnya nongkrong tadi. "Lo kuliah disini juga?" tanya Azka. "Iya. Gue difakultas pertanian. Kalo lo?" tanya Arin. "Hukum." balas Azka singkat.
Hening. Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Entah karena memang tidak ada bahan pembicaraan atau sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Lo sering hujan-hujanan kaya tadi?" tanya Azka memulai kembali percakapan. "Darimana lo tau? Lo stalker gue ya?!" Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu tersenyum aneh. "GR- an amat sih lo. Gue kan cuma nanya! Lagian gue terlalu sibuk dan gak ada waktu kali lakuin hal kaya gitu." sanggah Azka dengan tampang cemberut.
"Iya deh. Iya. Gak usah bete gitu donk. Gue kan cuma becanda." ujar Arin sambil tertawa pelan melihat wajah cemberut Azka.
"Kalo gue lagi banyak pikiran, gue suka mandi hujan." kata Arin sambil tersenyum. Dia tahu Azka pasti akan mengira dirinya aneh. "Gue merasa masalah gue bisa sedikit berkurang ketika tubuh gue diguyur hujan. Menenangkan." ucap Arin dengan mata tertutup. "Lo tau gak kalo lo cewek paling konyol yang pertama kali gue temui. Hidup lo drama banget sih!" Arin tertawa mendengar perkataan Azka tentang dirinya. "Biarin. Terserah gue! Emang lo sendiri kenapa takut hujan? Kaya kakek-kakek aja yang takut sakit." ejek Arin. "Gue bukan takut hujan. Gue cuma gak suka kalo hujan. Dan enak aja lo secara gak langsung ngatain gue kakek-kakek ya. Lihat masih ganteng gini! Awas aja lo naksir sama gue!"
"Idih narsis juga lo ya! Kepedean banget sih. Entah-entah lo kali yang naksir gue. Gue kan cantik. Blasteran Jepang nih!" ucap Arin dengan membanggakan dirinya.
"Gue juga blasteran. Awas lo terpesona sama wajah Arabian gue. Hahaha...." Azka dan Arin pun tertawa karena kenarsisan diri mereka.
"Udah. Udah. Sakit perut gue ketawa mulu. Btw, kenapa lo gak suka hujan?" tanya Arin sambil mencoba menahan sisa tawanya. "Hujan bikin semuanya berantakan. Tanah becek. Cucian gak kering. Dan terlalu melankolisme tau gak? Dan satu lagi..." ucapan Azka terhenti ketika Arin langsung memotong perkataan nya. "Bukan melankolis Azka. Tapi menenangkan." Azka tertawa melihat Arin memotong perkataannya. "Lo bisa bilang gitu because you love rain. Everything about rain looks good for you, nona hujan." Arin terkekeh mendengar nama panggilan yang Azka berikan padanya. "Nona hujan? Lo ya enak banget ganti-ganti nama gue!" ujar Arin. "Tapi lo suka kan? Nona hujan." Azka mengedipkan sebelah matanya menggoda Arin.
"Tau ahh!" ucap Arin tersenyum tipis lalu melirik sebentar wajah Azka.
"Aku baru mengenalmu kurang lebih 1 jam. Tapi kenapa kau dengan mudah membuatku merasa akrab denganmu." batin Arin. Gadis itu lalu tersenyum sendiri dengan pemikiran yang ada dikepalanya. "Sepertinya hujan udah reda. Lo gak balik?" tanya Azka. "Lo sendiri?" tanya Arin balik. "Gue bawa motor. Tapi parkir disebelah sana. Lo mau gue anterin?" tawar Azka. "Gak usah. Kost gue deket kok." tolak Arin. "Beneran nih?" Azka mencoba meyakinkan gadis itu untuk menerima tawarannya. "Iya bener. Udah lo duluan aja!" Azka mengangguk. "Yaudah deh. Gue balik ya. See you next time, nona hujan."
"See you, Azka. Kalo kita ketemu lagi dan sedang hujan. Gue bakal maksa lo buat mau hujan-hujanan bareng gue." Azka mengkerutkan keningnya. "Okey. Gue gak janji!" seru Azka lalu melangkah pergi meninggalkan Arin.
YOU ARE READING
Love Will Find a Way
RomanceCinta bisa datang kapan dan dimana saja. Katanya cinta banyak bentuknya, seperti itulah yang dialami Azka. Cowok yang memandang segalanya hanya dari segi logika. Terkadang ia membenci dunia. Kenapa? Karena ia menganggap semua hal yang dilihatnya sel...
