Percayakah saudara semua, alam ini berdzikir kepada Allah? Akan tetapi kita tidak tau persis bagaimana cara mereka melafadzkan dzikirnya. Di malam yang sunyi angin berhembus, menghempaskan pepohonan dan menerbangkan dedaunan sehingga menyairkan suara desiran khas. Para binatang malam pun juga mengeluarkan syair-syair khas untuk menghiasi sunyinya kegelapan malam. Kita tidak akan tau dan hanya bisa menduga itulah cara mereka mengagungkan Tuhannya. Angin yang berhembus, dedaunan pepohonan yang terbang mendesir, binatang malam yang bersyair, kita tidak tau.
Di dalam kesunyian malam itu manusia dengan tenangnya tidur berselimutkan indahnya malam dan ditemani dendangan suara para binatang malam seperti jangkrik. Memang Allah menciptakan malam untuk manusia beristirahat, tapi manusia lupa atau bahkan tidak mengerti bahwa di sepertiga malam yang akhir Sang Pemilik Malam turun ke langit dunia sambil berfirman:
"Aku adalah Raja, Aku adalah Raja, Aku adalah Raja. Berdoalah kalian padaKu niscaya pasti akan Aku kabulkan"
Jarang dari mereka manusia yang mengindahkan firman Allah tersebut kecuali hanya orang-orang yang sholih, yang selalu bertakwa kepada Tuhannya.
Salah satunya adalah seorang pemuda yang baru saja mendapat amanah untuk memulai tugas mulia di sebuah desa terpencil. Entah apa sebutan baginya ustadz kah, guru, pengajar ngaji, juru dakwah? Dia tidak risau dengan julukan apa dia harus dipanggil. Tapi dia lebih senang di kenal sebagai seorang mubaligh atau penyampai agama. Kira-kira satu jam sudah pemuda itu duduk bersimpuh, menengadahkan tangan sambil menangis memohon dan meminta kepada Tuhannya.
Robbi anzilni munzalan mubaroka wa anta khoiru munzilin
(Wahai tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baiknya yang memberi tempat)
Biar saya perkenalkan pemuda itu. Namanya Muhammad Rikzan Syahidinillah, dia seorang mubaligh yang baru saja lulus dari sebuah pondok pesantren. Sekarang tiba waktunya bagi dia untuk mengamalkan semua ilmu yang pernah dia pelajari di pondok dengan melakukan tugas mulia sebagai pengajar di sebuah desa. Sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian, tapi menyediakan keindahan alam yang membuat takjub siapapun yang baru datang kesana termaksud Rikzan sendiri. Perbukitan indah yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan, air terjun, aliran sungai berair jernih yang mengairi hamparan persawahan di kanan kirinya sungguh sangat memanjakan mata.
Rikzan di berikan sebuah kamar yang berdekatan dengan masjid yang berada ada di desa tersebut. Kamar tersebut tidak besar, tapi cukup untuk ditinggali satu orang dengan sebuah ranjang tidur, lemari usang, dan meja kecil yang terletak di sebelah ranjang tidur. Sedangkan untuk kamar mandi, Rikzan dipersilahkan untuk memakai kamar mandi yang ada di masjid. Dia tinggal sendirian di masjid itu, tapi tidak jauh dari masjid itu ada sebuah rumah sederhana yang ditinggali seorang mubaligh dan istrinya yang asli dari daerah tersebut bernama pak Anshori. Selain bertugas sebagai seorang pengajar, Rikzan juga dipercaya untuk merawat masjid itu selama bertugas disana membantu pak Anshori.
Pagi itu sangat cerah, tapi udara sangat menusuk tulang kerena desa itu terletak di ketinggian. Dengan berbalut suiter yang diberikan ibunya sebelum dia pergi, Rikzan khusuk melafadzkan syair-syair ayat suci Al-Quran. Kali ini dia membaca surat yang menceritakan tentang kisah seorang nabi yang diberikan oleh Allah keutamaan dalam hal rupa. Ya benar, surat Yusuf. Sebuah surat yang khusus menceritakan tentang kisah perjalanan Nabi Yusuf. Rikzan tidak hanya membaca surat itu, tapi juga meresapi setiap makna dan keterangan setiap ayat yang dia baca. Hingga tanpa dia sadar, seseorang diluar kamarnya sudah berkali-kali mengetok pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum mas Rikzan" ucap seseorang yang bayangannya terlihat dari balik tirai jendela kamarnya.
Rikzan pun menyudahi bacaannya dan sedikit mengintip di balik tirai jendela. Dia melihat seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa sebuah nampan makanan. Segera dia buka pintu kamarnya untuk menyambut bapak itu.
"Wa alaikumussalam pak Anshori, ayo silahkan masuk"
"Saya hanya ingin mengantarkan makanan ini saja mas" ucap pak Anshori sambil meletakan sepiring singkong dan jagung rebus beserta teh manis panas di sebuah meja kecil dekat ranjang tidur Rikzan. Rikzan memandangi isi piring tersebut cukup lama,
"Terima kasih pak. Alhamdulillah jazakallahu khoiro, semoga Allah membalas kebaikan bapak"
"Amin. Maaf kalau makanannya kurang menarik, hanya ada singkong dan jagung rebus juga teh manis panas mas"
"I...ini sangat cukup pak. Saya lebih suka makanan di rebus seperti ini malah" ujar Rikzan dengan ucapan yang agak terbata-bata,
"Syukur Alhamdulillah kalau itu tidak jadi masalah buat mas Rikzan. Saya khawatir ini jadi masalah buat mas Rikzan dan akhirnya membuat mas Rikzan nggak betah tinggal disini. Karena saya tau mas Rikzan ini asalnya dari ibukota jadi biasa sarapan nasi. Ya walaupun beberapa tahun tinggal di pondok, tapi saya tau sarapan pondok itu nasi juga. Sedangkan disini kami hanya makan singkong atau jagung rebus untuk sarapan" ucap pak Anshori dengan wajah sumringah.
"Memang kenapa pak?" Tanya Rikzan heran
"Karena sebelum mas Rikzan ada pengajar lain yang mempermasalahkan hal itu, dan akhirnya dia memutuskan pindah" ujarnya
Rikzan terdiam mendengar pernyataan bapak Anshori, dia hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Sungguh dia tidak ingin hanya karena makanan menjadi alasan baginya untuk lari dari amanah dan tanggung jawab yang diberikan padanya saat ini. Dia kembali harus menata niatnya bener-benar karena Allah.
Tugas ini bukan hanya sebuah kewajiban yang harus dia jalani setelah menuntut ilmu di pondok, tapi menjadi sebuah lapangan pahala baginya untuk mencerdaskan masyarakat dan generasi penerus bangsa Indonesia yang tidak hanya unggul dalam urusan keduniaan saja melainkan juga unggul dalam urusan akhirat dan berbudi pekerti yang luhur.
"Gimana mas, tidurnya nyenyak?" Tanya pak Anshori membuyarkan lamunan Rikzan,
"Alhamdulillah nyenyak pak, Cuma sedikit dingin saja"
"Mas Rikzan ini! Disini bukannya sedikit lagi mas dinginnya, tapi sangat dingin. Sampai-sampai kita bisa membuat asap dari hembusan napas kita seperti ini. Fuhhhh" pak Anshori meniupkan udara dari mulutnya, sehingga timbulah asap di udara yang lambat laut hilang tertiup angin.
"Oh iya pak benar. Fuhhh" Rikzan ikut mempraktekan apa yang dilakukan pak Anshori,
"Pak Anshori, saya bisa minta tolong. Kalau bapak ada waktu luang bisa bapak menemani saya untuk keliling desa ini? Supaya hapal jalan-jalan yang ada di desa ini, jadi nanti jika ada keperluan untuk pergi ke suatu tempat saya tidak merepotkan bapak untuk menemani saya lagi" ucap Rikzan berusaha untuk menggunakan kalimat yang sopan kepada bapak Anshori.
"Dengan senang hati. Sekarang mas Rikzan lebih baik sarapan dulu lalu bersiap-siap. Setelah itu saya akan temani mas Rikzan berkeliling desa ini" ujar pak Anshori
***
Assalamualaikum para pembaca yang terhormat. Mudah-mudahan ada yang suka cerita ini.
Happy Reading...
ESTÁS LEYENDO
Syair Cinta
EspiritualMuhammad Rikzan Syahidinillah adalah seorang mubaligh lulusan sebuah pondok pesantren yang mendapatkan tugas untuk mengamalkan ilmu agamanya di sebuah desa terpencil dengan pesona alam yang indah dan mitos-mitos yang membayangi keindahan itu. Perjua...
