Untuk kesekian kalinya hujan turun di bulan ini. Intensitasnya semakin meningkat dibanding bulan sebelumnya. Kata orang- orang ini pertanda akan terjadi musim penghujan yang cukup lama. Tapi ada juga yang mengatakan ini akan menjadi pengawal musim kemarau. Entah pendapat yang mana yang bisa dipercaya.
Seringkali hujan datang dari pagi sampai sore hari. Membuat orang- orang bermalas- malasan keluar rumah, apalagi beraktivitas. Berdiam diri didalam rumah seperti nya menjadi pilihan yang menarik untuk saat ini.
Namun sayangnya tidak untuk manusia yang satu ini. Disaat hujan yang sering datang akhir- akhir ini membuatnya selalu menjauh dari rumah. Dia lebih memilih berada diluar rumah. Bukan untuk bermain hujan, justru melarikan diri dari hujan. Hanya saja tidak didalam rumah. Tapi didalam gedung yang berisikan tumpukan buku.
Sejak hujan datang di bulan ini, sejak itu juga dia memutuskan untuk tidak ingin berlama- lama dirumah. Baginya rumah adalah tempat yang tepat untuk dihindari, setidaknya untuk saat ini. Sampai dia benar- benar yakin untuk kembali lagi kerumah, lalu bersama- sama menikmati hujan dari dalamnya.
"mau sampai kapan kamu seperti ini ?" sebuah suara laki- laki mengejutkan Tama dari lamunan kosongnya. Dari tadi dia hanya memandang kosong butiran air yang turun dari langit. Entah untuk keberapa kalinya dia melarikan dirinya disini.
Tama hanya diam mendengar pertanyaan yang sekian kalinya dilontarkan oleh Genta, sahabat baiknya yang selalu menemaninya sejak peristiwa itu.
Genta merasa sangat kesal dengan sifat keras kepala sahabatnya ini. Sudah sering Genta menasehati agar Tama mau menerima setiap kenyataan yang telah terjadi. Bisa jadi ini adalah takdir yang tidak bisa dia tolak. Tapi Tama tidak bisa begitu saja mendengar nasehat dari sahabatnya itu. Baginya ini terlalu sulit untuk diterimanya, dan dia sendiri tidak tahu kapan dia bisa membuka dirinya untuk kenyataan yang satu ini.
Brrttt.. brrtt..
Sebuah pesan masuk di handphone milik Genta. Segera dibuka dan dibaca olehnya. Tiba- tiba raut wajah Genta berubah serius. Tama yang menyadari hal itu segera bertanya.
"Ada apa, Ta?" Tanya Tama yang mendadak terlihat serius juga.
"Bapak" jawab Genta singkat. Matanya menatap Tama penuh arti. Tama yang tidak mengerti dengan situasi ini malah balik bertanya.
"Ada apa dengan Bapak" Tama tak sabar untuk tidak balik bertanya karena jawaban Genta yang singkat tadi.
"Bapak masuk rumah sakit, Tam. Barusan Marun sms kalau bapak jatuh di kamar mandi. Dan kondisinya sedang tidak sadar. Sekarang Marun sedang membawanya kerumah sakit. Tam, aku harus kesana sekarang" Genta menjelaskan kejadian sebenarnya ke Tama, lalu bergegas mengemasi barang- barang miliknya untuk dimasukkan kedalam tas dan segera enyah dari situ untuk ke rumah sakit.
"Aku ikut" Tama tidak kalah cepatnya mengemasi barang- barang miliknya juga. Dia ingin ikut Genta kerumah sakit. Genta terkejut mendengar ucapan Tama. Dilihatnya sahabatnya yang sedang sibuk memasukkan buku- buku kedalam tas. Tama yang sadar diperhatikan oleh Genta segera membalas tatapan itu dengan senyuman.
"Ayo cepat, sebelum hujan benar- benar membuat kita kesulitan di jalan. Marun pasti bingung karena sendirian dirumah sakit. Kamu tidak ingin Bapakmu mencari- cari kamu kan?" Genta terkesiap dengan ucapan Tama. Tapi tidak ada waktu lagi untuk bertanya apa maksud Tama mengatakan hal itu. Genta pun membalasnya dengan anggukan lalu mereka berdua pun sama- sama tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petrichor
RandomKetika hujan membuat banyak rahasia terbongkar, tetes demi tetes nya pun berubah menjadi sebuah kenyataan yang menyakitkan atau sebaliknya. Inilah kenyataan yang harus di hadapi Pratama Hadi Suhara. Siapa sangka rahasia 20 tahun silam tiba- tiba t...
