[NOTE : Kata-kata yang aku beri tanda (*) akan diberikan artinya dibagian akhir cerita]
Musim panas. Musim yang paling ditunggu-tunggu oleh penduduk negara subtropis. Dimana mereka bisa merasakan kehangatan dari sinar matahari untuk sekedar berjemur di pantai atau berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, berpiknik ditaman dan lain-lain. Selain itu pada musim panas tumbuhan dan buah-buahan sedang pada masa pertumbuhan penuhnya.
Namun sepertinya dibalik keceriaan dan kehangatan di musim panas, ada beberapa insan yang bahkan tak bisa merasakan efek dari musim panas yang paling dinanti ini sama sekali. Karena dimanapun dan kapanpun mereka berada, mereka selalu dilanda kedinginan yang tajam dan dan kesengsaraan tak berujung.
DUAR
Suara anak peluru yang baru saja meluncur dari sebuah senapan terdengar begitu jelas dan menusuk di telinga bocah perempuan berkepang dua yang kini hanya bisa menangis sembari memeluk kedua lututnya erat-erat
"Appa*!!!!" teriakan tak berdaya pun menggelegar diseisi ruangan yang minim penerangan tersebut.
Tiga orang pria bertubuh kekar berjalan cepat ke arahnya lalu salah seorang dari pria tersebut mengangkat tubuh bocah kecil itu kedalam gendongannya, dan itulah hal terakhir yang berhasil bocah kecil itu ingat.
....
Leera membuka matanya dan langsung membuang nafas sebanyak-banyaknya begitu ia tersadar bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi.
'Mimpi itu datang lagi... dan aku tak tahu kapan mereka bosan mendatangiku...' batin Leera sembari membuang nafas sebanyak-banyaknya.
Setelah ia rasa nafasnya mulai teratur dengan cepat ia duduk bersandar di tempat tidurnya dan meraih segelas air putih yang berada di nakas sebelah kanan kasurnya lalu meneguk air itu dengan cepat tanpa sisa. Tangannya lalu meraih dua helai tissue yang berada di sebelah gelas tadi dan langsung mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Appa, eomma* , aku merindukan kalian..." lirihnya yang kini sedang memandangi wajah seorang pria tampan yang sedang mengendong gadis kecil berkepang dua sembari merangkul wanita berambut sepundak di layar ponselnya. Hm, foto ini terlihat cukup jadul, mungkin memang foto lama?
Tanpa ia sadari bulir-bulir bening yang selalu menjadi saksi kesedihan dan rasa takutnya kembali membobol dinding pertahanannya. Leera lelah dengan semua ini, terkadang ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena hidup dengan di gerayangi oleh rasa takut terasa sangat menyiksa.
KRING KRING
Ponsel berwarna rose gold yang berada di genggamannya berdering dan layar berukuran sekitar lima inch tersebut menampilkan tulisan 'Incoming Call From Haeyoung Sunbae. Dengan cepat Leera mengangkat panggilan tersebut.
"Ne, Sunbae*?" sapa Leera yang kini nafas teraturnya sudah benar-benar kembali.
"Ya!* Kau dimana?! Rapat dimulai tiga puluh menit lagi dan kau bahkan belum menampakkan batang hidungmu di kantor?" pekik sebuah suara nyaring dari seberang sana.
"Memangnya ini pukul bera— Astaga aku terlambat!! Ne, Sunbae, lima belas menit lagi aku akan sampai di kantor, Gidaryeoyo (tunggu aku)." Tanpa mengindahkan omelan tambahan dari Haeyoung, Leera langsung melompat dari kasurnya dan menyambar sehelai handuk yang tergantung di dekat lemarinya sebelum akhirnya ia masuk kedalam kamar mandi.
+++
Setelah selesai mandi, Leera langsung mengenakan sebuah kemeja berlengan panjang berwarna putih dengan rok hitam pas badan. Ia lalu memoleskan make up sederhana pada wajah mulusnya dan tak lupa menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya.
YOU ARE READING
UNSPEAKABLE SECRET
Fanfiction"Terkadang, beberapa rahasia terlalu mengerikan untuk dikatakan." UPDATE EVERYDAY STARTS 20/08/2017
