Kenalin, nama gue Imam. Gue mau ceritain pengalaman gue, semua dimulai saat gue duduk dibangku SMK kelas 1, saat itu umur gue 16 tahun. Gue dari SMP pengen banget ngerasain yang namanya jadi Osis.
Namun gue gagal saat tes, karna gue kurang mumpuni, dan saat SMK, gue nyalonin diri lagi jadi osis. Dan karna visi dan misi gue sebagai calon osis juga lumayan bagus, akhirnya gue terpilih sebagai kandidat ketua osis.
Namun gue gagal di empat besar sebagai kandidat osis. Dan akhirnya gue dapet posisi sebagai bendahara osis. Oleh guru pembina osis, mau diadakan pelantikan osis baru di daerah Bogor. Gue lupa nama villanya. Tapi masih inget banget gue suasana hening dari villa tersebut. Kita semua jalan ke Bogor dari Jakarta, tepatnya di daerah Tebet pada pukul 18.30 sehabis shalat magrib dengan mengendarai Bus.
Gue dapet kursi paling belakang, di pojok kanan, karna gue gampang ngantuk, maka gue sengaja milih disitu. Kebetulan banget jalanan saat itu gak macet.
Bus sudah masuk tol Jagorawi. Saat itu waktu menunjukan pukul 20.30, saat itu posisi gue di belakang sendirian, temen-temen gue lagi pada asik dempet-dempetan didepan sambil nanyi-nyanyi, karna gue paling gak suka berisik, makannya gue misah, duduk di belakang sambil merhatiin suasana jalan tol yang sepi, tiba-tiba mata gue terfokuskan, gue ngeliat seorang wanita dengan menggunakan gaun putih dan mukanya tertutup rambut.
Awalnya gue biasa aja, namun gue mulai parno, karna saat mobil sudah cukup jauh dari lokasi, gue ngeliat wanita yang tadi, namun kali ini dia sambil melambai-lambaikan tangan ke bus yang sedang gue tumpangi. Saat itu gue pengen pindah tempat duduk, dan ngumpul sama temen-temen yang lain, saat gue udah bangun dari tempat duduk, ga tau kenapa, tiba-tiba gue duduk lagi, gue mencoba berfikir itu cuma suatu kebetulan, saat gue pejamkan mata dan tarik nafas dalam-dalam, saat gue menoleh kekaca, gue kaget, badan gue gak bisa gerak sedikitpun, keringat gue bercucuran, gue ngeliat sebuah tangan sedang menempel di jendela kaca bus, yang jaraknya kira-kira 90cm dari posisi gue duduk, dengan kondisi pucat, banyak luka, sampe banyak darah yang mengalir dari sela-sela luka tersebut. Sekuat tenaga gue ngelawan rasa takut yang bener-bener pertama kali gue alami, gue langsung tutup muka gue dengan tas sambil dalam hati membaca surat Annas, sekitar 5 menit gue nutupin muka pake tas, gue bangun dari tempat duduk tanpa memindahkan tas dari muka gue, dan berjalan menghampiri yang lain didepan.
Saat sudah dekat dengan yang lain, gue menoleh kebelakang dengan perasaan cemas dan takut. Kini sesosok tangan tersebut susah tidak ada. Namun untuk pengalaman pertama itu. Sudah cukup bikin gue takut setengah mati, dan gak berani duduk dibelakang lagi.
Tapi gak cukup sampai disitu, gue sampai villa yang lokasinya ga jauh dari sawah, suasana villanya sangat hening, hanya ada suara hewan malam, ditambah lagi banyak pohon besar disamping villa yang kurang penerangan menambah suasana angker villa tersebut, gue denger dari temen gue, alasan kenapa milih villa ini adalah harga sewanya yang jauh dibawah murah untuk ukuran villa yang cukup menampung 50 orang.
Saat tiba, kita semua memutuskan untuk sholat Isya terlebih dahulu. Dalam kondisi lapar, sholat gue kurang khusyuk, mata gue jelalatan liatin suasana ruangan villa.
Ada didepan gue sebuah lorong yang pandangannya menuju kearah dapur, dan ada sebuah pintu didapur yang gak ditutup,jadi gue bisa langsung melihat pemandangan kearah luar yang tepatnya sebuah pohon beringin besar, gue merhatiin pohon kecil dibawahnya, ada sebuah daun yang bergerak seakan terhembus angin, namun daun yang lain tidak ada yang bergerak sedikitpun.
Saat gue amati dengan teliti, keluar sosok besar dari balik pohon, dengan warna hitam dan berbulu, serta kedua bola mata yang bulat besar berwarna merah, seakan tidak ada kelopak mata yang menutupi kedua mata tersebut. Gue seketika langsung nunduk, mengalihkan pandangan gue, dan gue melanjutkan sholat dengan suasana hati takut, dan dengan mata terpejam.
"Imam tadi ngeliat ya?." Tanya Bapak Guru gue yang saat sholat tadi jadi Imam sholat.
"I-iya pak, kok tau?." Jawab gue dengan nada takut.
"Itu sambutan untuk kita, dia gak seneng kita disini ngadain sholat Isya berjamaah. Kamu hati-hati ya, jangan kasih tau yang lain kalo kamu ngeliat, nanti kamu bisa sakit, nyawa kamu bisa terancam." Ucap bapak guru gue sambil pegang pundak gue.
YOU ARE READING
Ternyata Dia Disini
HorrorYakinkan dirimu dan percayalah bahwa bukan hanya kamu yang tinggal di dunia ini, sesungguhnya dia ada disini dan mengawasimu dari gelap gulitanya malam. Tambahkan kedaftar bacaan untuk mengetahui setiap update terbaru dari cerita ini.
