Ini sebuah kisah sekuntum melati yang harumnya takkan terganti. Mewangi tiap pagi meski diri sendiri sepi. Biarlah melati kusimpan dalam hati lalu kusiram dengan senyuman mimpi.
Di suatu Senin pagi yang berawan, tampak seorang pria berkacamata menaiki kendaraan umum. Pria tersebut hendak menuju kantornya. Pria Berkacamata senang sekali naik kendaraan umum, meski koleksi Lamborgininya ada empat, Ferarrinya ada tiga. Pria Berkacamata tidak mau sombong punya koleksi mobil mahalnya itu, walau hanya mainan, sih.
Bus Transjakarta selalu padat pada Senin pagi, jadi pasti berdiri. Pria Berkacamata sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Kali ini tidak terlalu berdesakkan, sih, tapi rasanya mau muntah Pria Berkacamata.
Pria Berkacamata berdiri di sebelah seorang laki-laki dengan parfum kandang kambing. Ewww, sepanjang perjalanan di bus menjadi pengalaman yang tidak mengenakan bagi Pria Berkacamata.
Pria Berkacamata itu ialah kakakku. Dia sangat pekerja keras, walau sudah besar dan bekerja tapi masih kekanak-kanakan sekali. Hobinya ialah mengoleksi mainan anak-anak. Dari action figure Naruto, miniatur kereta api, dan banyak lagi.
Di dalam kamar kakakku banyak sekali mainan. Hmm, mungkin beberapa minggu lagi di kamar itu akan sepi. Kakakku memutuskan untuk membeli rumah baru. Bilangnya, sih, dia mau mandiri. Belajar hidup sendiri, tidak bergantung orangtua.
Gaji selama beberapa tahun dikumpulkan untuk membeli rumah di kawasan Summarecon Bekasi. Tapi sayangnya, kakakku belum punya pasangan. Setelah pengalamannya dengan Kak Melati, aduh aku keceplosan. Kakakku bilang jangan diberitahukan siapa-siapa soal kisahnya bersama Kak Melati.
Seperti kedatangan pagi yang selalu dirindukan karena hangat mentari menyehatkan kulit berpori.
Kembali di Senin pagi itu, Pria Berkacamata lepas dari kandang kambing, eh, masuk kandang singa.
Waduh, Pria Berkacamata lupa membawa flashdisk yang berisi bahan presentasi rapat.
"Ya ampun, flashdisk ketinggalan. Bisa-bisa dimarahi bos. Gimana nih? Masa pulang lagi ke rumah?" gemuruh Pria Berkacamata dalam hati.
Pria Berkacamata sebetulnya bukan benar-benar kakak kandungku. Ia itu pelipur laraku, ia teman tertawaku. Aku dan dia sering bercerita, semenjak di bangku SMA, aku dan dia bagai sepasang mata yang saling melengkapi untuk dapat melihat.
Aku tahu semua tentang dia. Tapi kita berkomitmen hanya sebatas adik-kakak saja, bukan sepasang kekasih loh.
Pria Berkacamata nekad ke kantor tanpa bahan presentasi. Aku dihubungi untuk ambil flashdisk di kamarnya dan mengirimkan file presentasi lewat email. Aku relakan jatah bolos kuliahku demi menuruti kemauan Pria Berkacamata.
Kak, sudah dikirim ke emailmu.
Pesan Whatsapp-ku ditujukan ke dia. Ah, Pria Berkacamata itu tak bisa kutolak mintanya. Hanya satu yang tidak akan kukasih bila dia meminta, kehormatanku.
Dia betul-betul menjaga diriku sedari dulu. Dia laki-laki yang tidak seperti laki-laki hidung belang. Aku sedikit tenang, tidak mungkin Pria Berkacamata berbuat mesum padaku.
Pria Berkacamata sangat romantis orangnya, apalagi ketika dia sama Kak Melati. Setiap bertemu selalu memberi puisi, sayangnya Pria Berkacamata pemalu. Jadinya aku yang kena imbasnya, aku selalu jadi tempat ia membuang puisi tentang Kak Melati.
Ketika aku baca puisi-puisinya, jelas, Pria Berkacamata begitu mencintai Kak Melati dari lubuk hati yang terdalam.
Aku tahu komitmen aku dan Pria Berkacamata hanya sebatas adik-kakak, namun perasaan cemburu tak bisa aku hindari.
Melati,
Kaulah mentari di pagiku
Kaulah rembulan di malamku
Kau penghangat jiwa
Kau meleburkan lara
Meski tak bersama
Meski tak bersua
Namun cinta 'kan membawa
Hanya aku tempat pulangmu
Hanya kamu tempat pulangku
Sedari dulu hingga nanti
Melati,
Kini kusepi
Pagiku tak semangat lagi
Malamku tak seru lagi
Melati,
Bisakah kita kembali
Walau belum pernah memiliki
Melati,
Masih di dalam lubuk hati
YOU ARE READING
Kacamata Melati
RomanceDia melati, aku sepi, kami saling melengkapi, meski sendiri-sendiri. -Pria Berkacamata-
