Aku Ali. Kelas 2 SMA dan masuk jurusan IPS. Aku dari dulu memang kurang tertarik dengan IPA. Hari ini hari Rabu, jam dua siang. Sekarang aku sedang berjalan melewati lorong kelas yang sekarang sepi karena hampir seluruh murid sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Kalian akan bertanya kenapa aku tidak mengikuti ekstra. Biar kuceritakan kronologis nya.
Aku tadinya masuk ekstra basket tetapi aku dikeluarkan karena katanya aku tidak berbakat (ada juga yang bilang kalau aku terlalu pendek). Kata wali kelas ku, aku masih bisa memilih ekstra, tapi aku menolaknya lantaran aku sudah malas. Lalu guru ku mengatakan, perpustakaan sekolah ku satu bulan ini tidak ada yang menjaga karena petugas nya sedang dalam cuti hamil, jika aku tidak memilih ekstra aku akan ditugaskan menjadi petugas perpustakaan hanya dua jam ketika ekstra. Aku sempat menolak dan bertanya kenapa tidak dijaga oleh guru lain saja? Katanya semua guru pada saat ekstra akan sangat sibuk (entah ini benar atau tidak) tapi entah bagaimana, aku mengiyakan.
Padahal, aku bisa saja mengikuti ekstra lain seperti komputer atau musik. Tapi , nasi sudah menjadi bubur. Sempat aku ingin aku sekarang sudah berada di pintu depan perpustakaan dengan satu kunci yang diberikan oleh guru ku. Omong-omong, ini adalah hari kedua aku menjadi petugas perpustakaan. Akan ku beritahu rasanya menjadi seorang petugas perpustakaan. Rasanya; bosan. Masih lebih baik jika perpustakaan ku menyediakan free wi-fi. Tapi ini? Selama 1 jam setengah aku hanya diam melongo tak tahu harus bagaimana. Seperti sekarang, aku duduk dan menyalakan komputer dan mulai menaruh buku di meja yang baru saja dipinjam. Ini memakan waktu yang cukup panjang.
***
Lima belas menit aku berputar-putar untuk mencari letak buku tentang London ini. Aku melihat kearah nomor buku ini; L14G, yang berarti itu berada di rak buku Geografi. Tapi aku sudah mengitari rak buku Geografi selama hampir sepuluh menit dan aku tidak menemukan tempatnya juga. Lalu aku mendengar suara lonceng yang menandakan seseorang masuk. Lalu kulihat kearah pintu dan ternyata gadis itu, ya gadis itu.
Aku mengetahui gadis itu. Itu adalah gadis yang sama ketika aku menjaga perpustakaan minggu kemarin. Gadis dengan kacamata nya. Aku berlari kearah meja karena dia sudah menunggu. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" Aku diajarkan seperti ini dengan guru ku. Kemudian dia mengangguk. Aku melihat berbagai buku yang terlihat tebal di genggaman tangan nya.
"Saya ingin mengembalikan buku. Tapi sepertinya kartu saya hilang. Apa saya masih bisa mengembalikan nya?" Tanya nya. Aku mengangguk tanda mengerti.
"Sangat boleh. Saya memerlukan nama anda. Nama anda siapa?" Aku bertanya.
"Prilly. Prilly Aleshita Mahameru."
Nama yang cukup bagus. Pikiran ku sempat berpendapat bahwa dia dilahirkan di puncak Gunung Semeru. Tapi logika ku berkata; tidak.
Aku segera mengetik namanya dan menemukan namanya dengan nomor id nya. "Jumlah buku yang dipinjam; tiga. "Ucap ku dan dia segera menaruh buku yang dipinjam nya di atas meja dan aku pun mulai mengambil nya satu-persatu untuk di pindai barcode nya.
"Maaf. Apakah saya boleh meminjam buku juga?" Prilly kembali bertanya, aku kembali mengangguk. Lalu dia tersenyum kecil dan berjalan meninggalkanku duduk sendiri dengan komputer yang masih menyala. Setelah aku menyelesaikan ini, kembali ke permasalahan tadi; buku yang tidak ada tempatnya.
Pikiran ku sempat curiga bahwa buku ini bukan buku yang berasal dari perpustakaan sekolah ini. Tapi setelah aku melihat nama sekolahku di halaman pertamanya, aku mengurungkan niat ku untuk melapor buku ini kepada Tata Usaha.
Aku melihat buku Prilly dan berniat untuk menaruh kembali ke tempat asalnya. Aku sempat kagum dengan dua buku yang dia pinjam. Buku pertama adalah buku sejarah tentang dewa-dewa Yunani, dan yang kedua adalah buku mengenai Kota Tua Jakarta. Tapi buku satunya lagi adalah, buku Aku oleh Chairul Anwar. Aku tak tahu menahu isinya tapi aku mengetahui buku puisi ini dari film yang Ibu ku tonton waktu masih remaja. Aku baru tahu bahwa sekolah ku ini mempunyai buku langka seperti ini.
Aku pun bergegas berdiri dari tempat duduk dan mengambil seluruh buku yang berada di atas meja (termasuk buku yang tak ada asal nya itu.) dan mulai berjalan kearah tempat yang dituju. Aku melihat Prilly sedang fokus mencari sebuah buku di rak Georgrafi. Aku berusaha mengalihkan fokus ku kearah buku yang akan kutaruh. Pertama adalah buku tentang Dewa Yunani yang berasal tepat didepan badan ku. Lalu kutaruh buku itu dan mencari asal tempat buku tentang Kota Tua Jakarta, lalu menaruh buku tersebut di tempat asalnya.
Aku hampir putus asa dengan buku tentang London ini. Aku ingin bertanya ke Prilly tapi aku malu. Jadi aku berusaha untuk mencari-cari tempatnya. Lalu ketika aku mendongak keatas, aku langsung menepok jidat ku. Ternyata buku tentang London ini berada di rak paling atas dan paling pojok. Aku berusaha untuk menaruhnya, tapi kali ini aku akan menyatakan bahwa, apa yang di ucapkan temanku adalah sebuah fakta.
Aku pendek.
"Apa anda perlu bantuan?" Prilly yang sekarang berada disebelah ku bertanya (dan aku sedikt tersindir dengan pertanyaan nya!). Aku hanya menggeleng, tanda bahwa aku menolak halus bantuan nya.
"Tapi sepertinya anda tidak sampai untuk menaruh buku tersebut."
"Tak apa. Saya bisa meminta bantuan guru. Saya akan menaruhnya di meja terlebih dahulu." Prilly menaikkan sebelah alis nya. "Biar saya saja, saya tidak suka buku berserakan." Aku pun mengangguk dan memberikan buku itu kepada Prilly yang cukup berjinjit semua masalah terselesaikan.
"Terimakasih, dan saya tahu saya pendek Prilly." Dia tertawa.
"Memang saya pernah mengatakan anda pendek?" Dia bertanya, dan menurutku ada benarnya. Bodoh sekali kau, Ali. "Tapi anda melihat fakta nya, bukan?" Dia lagi, lagi tertawa. "Omong-omong, nama panggilan ku bukan Prilly, tapi Ily."
"Ily semacam 'I love you'?" Dia tertawa renyah. "Ya, seperti itu." Aku pun ikut tertawa. Aku merasa aku adalah remaja yang suka bermodal dusta.
"Omong-omong, kau menyukai puisi?" Aku berusaha membuka pembicaraan lagi, bukan bermodal dusta.
"Sangat. Apalagi buku yang kau pegang saat ini. Itu adalah favoritku." Dia menunda aktifitasnya mencari buku.
"Mengapa kau memfavoritkan buku ini?" Aku bertanya. Sekali lagi, ini bukan bermodal dusta. "Entahlah, setiap membaca buku itu. Rasanya beban yang ada di hidupku hilang sekejap. Hati ku pun ikut merasakan apa yang dia rasakan saat itu."
Aku mengangguk, bagiku yang tidak menyukai puisi, membaca puisi paling bagus pun tak akan berpengaruh terhadap perasaan ku. Dan kali ini aku baru mengetahui bahwa dia tidak mengucapkan bahasa gaul seperti lainnya. Mungkin ini juga terpengaruh oleh puisi yang ia baca. Kalau aku memang tidak terbiasa berbicara bahasa gaul. Aku memang dijuluki anak yang aneh.
Lalu kami berhenti sejenak, dia melihat kearah jam tangan nya. Lalu aku yang sedang menatapnya hanya berharap dia tidak akan pergi. Selain untuk berbicara kali ini aku ingin bermodal dusta.
"Maafkan saya. Sepertinya saya harus pulang." Dia tersenyum kecil dan aku pun membalas senyuman nya. Aku mengikuti nya berjalan keluar. Tiba-tiba dia berhenti lalu berbalik kearahku, untuk saja aku bisa berhenti, kalau tidak mungkin kami sudah terjatuh timpa-menimpa seperti yang sering kulihat adegannya di televisi.
"Apakah kau bisa memberitahu Ibu Krily tentang kartu saya yang hilang?" Aku mengangguk, dan berusaha mengingat ini. Tadinya dia ingin berbalik lagi tapi tidak jadi, "Oh ya, nama anda siapa?" Dia bertanya.
"Ali. Nama anda?" Ucap ku dengan senyum jahil. Kuakui, ini bermodal dusta. Dia pun ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
"Ily." []
Tuesday, 16 August 2016
