I. Jejak

90 4 1
                                        

Suara klakson kendaraan terdengar saling bersahutan demi mendapatkan ruang gerak di jalanan yang cukup padat pagi ini. Suara langkah kaki dari beberapa orang yang ingin mengawali kesibukan pagi ini pun, seraya melengkapi padatnya ibukota di hari senin yang menurut sebagian orang sangat menjengkelkan.

Salah satunya yang di alami oleh gadis pendiam yang memiliki rambut hitam lengam, yang berjalan diantara penumpang yang berlarian di atas jembatan penyeberangan, demi mengejar bus yang ada di shelter ini.

Langkahnya terlihat gontai. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang sejak tadi tidak sengaja menabrak tubuhnya karena terburu-buru. Ia tetap berjalan dengan pandangan mata kosong, tentunya masih dengan earphone yang menempel di kedua daun telinganya.

Ia menghentikan langkahnya sejenak, kemudian memutar arahnya sehingga berlawanan dengan penumpang yang lain. Alhasil, ia semakin sering mendapatkan dorongan dari beberapa penumpang yang berlari ke arahnya.

Dengan langkah gontai, ia berjalan menelusuri trotoar menuju ke sekolah. Ia lebih suka berjalan kaki dari pada harus berdesak-desakan dengan orang-orang yang tidak memiliki kepedulian satu sama lain.

Langkah kecilnya itu berhenti di depan gerbang sekolah. Ia menarik nafas perlahan, kemudian melangkah pasti memasuki gerbang sekolah. Kali ini ia menundukkan kepalanya sambil berjalan menuju ruang kelas. Belum sempat ia memasuki ruang kelas, langkahnya tertahan oleh segerombolan murid laki-laki yang menutupi jalannya.

"Happy monday...." Goda salah satu dari mereka.

Gadis itu masih menunduk tanpa memperdulikan sapaan dari mereka yang lebih tepatnya adalah cemoohan.

"Hai Happy,," sapa salah satunya lagi.

"Happy holiday,, happy birthday,,, happy aniversary,,, " sahut yang lainnya semakin mencemooh.

Gadis itu masih berusaha menghindar dari kerumunan mereka, tetapi ia tidak bisa kabur karena jumlah mereka cukup banyak.

"Waahhh,, lihat rambutnya seperti rambut palsu." Sahut salah satunya sambil memegang beberapa helai poni rambut hitam legam gadis itu.

"Bukaaan,, ini seperti sapu ijuk di rumahku." Timpal yang lainnya.

Suara tawa mereka terdengar keras di koridor. Gadis itu masih menunduk sambil mencari celah untuk menghindar dari kerumunan.

Mereka semua semakin membuli gadis itu tanpa belas kasihan. Rambut kuncir kudanya hampir terlepas karena mereka terus memegangi rambut legamnya itu.

Tidak ada perlawanan sedikit pun dari gadis pemilik rambut legam itu, sampai akhirnya ada salah satu murid laki-laki yang berteriak, "Hey!!" Serunya.

Mendadak kerumunan itu berhenti melakukan aksinya. Mereka hening seketika.

Lelaki yang berteriak tadi berdiri di hadapan mereka, "Apa kalian tidak diajarkan cara memperlakukan wanita dengan baik!"

"Maaf, Kak." Respon salah satu dari mereka, kemudian yang lain ikut bersuara setelahnya.

"Saya tidak mau melihat kejadian ini terulang lagi. Sekarang juga kalian bubar!" Tukas murid lelaki itu memperingatkan.

Dalam sekejap gerombolan pengrusuh itu kocar kacir meninggalkan si lelaki dan gadis berambut hitam legam yang masih berdiri berdampingan.

"Terima kasih, Kak." Ujar gadis itu ragu-ragu mengangkat wajahnya.

Murid laki-laki itu mengangguk sambil menebar senyum lebar ke arah gadis itu. Ia menepuk bahu gadis berambut hitam legam yang ada di hadapannya sambil berkata, "Lain kali kamu harus lebih tegas lagi menghadapi orang-orang seperti mereka." Sahutnya.

Happy for MeWhere stories live. Discover now