2 agustus 2016

1.2K 55 28
                                        

"Entahlah". Bosan dengan kata itu, tapi itu memang itu kata yang paling tepat mendeskripsikan kekacauanmu ! (Baca saya).

Semakin dipendam semakin menumpuk, menumpuk rasa kecewa, kecewa karna tak sanggup membahasakan keinginan. Menyampaikan kemauan abstrak ini.
Tak berani meminta karna saya tau batas kemampuan, saya tau makanya saya sabar. Tapi semakin dipendam malah semakin kacau, semakin menyalahkan, dan semakin kecewa. Tiba saatnya "ia" bagai bom waktu yang tiba tiba meledak, ledakanya tak bisa diprediksi menyebabkan kekacauan, menyakiti yang harusnya tak tersakiti.
Awalnya lega, berhasil melepaskan yg selama ini tertahan, tumpah ruah semuanya yang terpendam. Bahkan saat itu merasa bagai orang yang paling menderita, tak berpikir dari sudut pandang lain. Pokoknya Saya yang paling benar ! Kalian pasti tau rasanya.

Nah setelah itu? Selesai? Tidak !

Saya menyesal, entah kenapa rasa sesal datang setelah mengungkapkan keluhan, merasa telah menyakiti orang tersayang. Dia tersakiti dan saya menyesal. Dia terluka karna perkataan ini dan saya menyesal.
Saya benci membuat orang sedih. Benci menjadi sumber kesedihan orang.
Tapi mau bagaimana?? Apa harus memupuk kecewa terus?
Rasa yang paling buruk dari semua rasa.
Aaaaaahhh jahat, saya jahat !

MOODWhere stories live. Discover now