First Book : Keiza

788 14 8
                                        

"AAAA..."

Aku menjerit ketika sepasang ibu jari dan telunjuk mencubit pipi ku dari belakang.
Orang itu terkekeh dan melipir ke depan ku tepat di depan pintu kelas terbuka.

blushing

"Eh!..."
Aku mendadak salah tingkah dan memegangi kedua pipi ku dengan tangan, mata hitam legam itu tampak berkilau, memantulkan gambaran mukaku pada cembungan lensa matanya.

"Kenapa?"
Tanya nya tiba-tiba.

Aku menggeleng polos dengan gerakan pelan.

"Maksud gue pipi lo."
Cowok tanpa badge name itu menyentuh pipi ku dengan pulpen nya, menciptakan lekukan bulat yang langsung meninggalkan bekas merah ketika pulpen itu di angkat.

"Sakit ya wkwk?"
Dia terkekeh geli, membuat aku ingin meninju bibirnya yang mencebik-cebik sok ganteng itu.

"Sorry..."
Jari itu bergerak, perlahan berkumpul menjadi lima. Dimana satu ibu jari nya yang kanan bergerak mengusap sebelah pipi ku secara berulang.

"Kei !!!..."
Seseorang memanggil namaku dari belakang.cepat-cepat aku mengerjap dan segera melepas tangan itu dengan kasar.Aku menoleh ke belakang, terlihat Amber berlari tergopoh-gopoh ke arahku.

"Kei..." ulang nya sekali lagi setelah langkah nya tepat berhenti membentur sepatu vans hitam-putih yang ku kenakan.
Aku hanya menautkan kedua alisku.

"Kak Aurel pengen ngomong sama lo"
Ucap Amber to the point.

"Gue ada masalah?"
Tanya ku, bingung.

"Ya gue nggak tahu," Amber mengangkat kedua bahunya.
" Mending lo samperin dia aja ke ruang musik."
Lanjutnya menepuk kedua pipi ku lalu menggerakkannya ke kiri dan ke kanan seenak jidatnya.

Aku meniupkan napas kasar dari mulut ke arah poni yang menutupi dahi ku hingga ia beterbangan.

"Mending lo cepetan temuin dia, kasian loh dia nunggu lo dari besok," sarannya lagi.

"Iya tapi lepasin tangan lo dulu"
Aku mendelikkan mata ke belakang.

"Hehe sorry honey, gue luplup."
Amber menampakkan deretan giginya yang rapi dan melepaskan tangannya.

"Thanks Ber. Gue cabut ya, bye" ucapku sambil berlalu pergi dari hadapan nya dengan langkah yang cepat, mirip berlari.

Tapi ternyata lariku sia-sia saat sebuah tangan menahan pergelangan tangan ku dari belakang.Mau tidak mau aku harus menoleh dan meminta agar orang itu tidak menahan langkah ku lebih lama.
Aku menoleh malas dengan mata yang sedikit tertutup.
"Amber apa lagi sih? Gue kan mau ketemu kak Aurel, lo bilang dia udah nungguin gue lama, tapi kenapa lo tahan-tahan gue kayak gin...."

Deg.

Aku mengerjap pelan dan menatap tubuh jangkung di hadapan ku. Hanya terlihat dada bidang yang ditutupi seragam dengan kedua kancing teratas yang terbuka, menampakkan kaus dalaman putih polos tipis yang memperlihatkan dada putih nya.

Idih, sok sexy lo
aku membengkokkan bibir ku ke samping.
Sedetik setelah nya aku hanya mendongak perlahan menatap wajah seseorang di hadapan ku.

Ia mengangkat kedua alis nya.
"Lo lagi?"
Tanya ku menunjuk ke arah garis hidung nya yang runcing, kaku dan sempurna.

"Iya."
Cowok itu mengulurkan tangan kanan nya.
"Gue Fhhh-"
Aku menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Nggak ada waktu buat kenalan, gue sibuk!" ucapku penuh penegasan.
Napas lembutnya bergerak mengitari telapak tanganku.Membuat ribuan kupu-kupu dalam perut ku beterbangan dan saling bertabrakan satu sama lain.

My Boyfriend is My BrotherStories to obsess over. Discover now