IGAB 1

43.6K 2.5K 142
                                        

Happy Reading ^^

Alvin, nama lengkapnya Alvin Ganesha. Seorang lulusan dari salah satu Universitas terbaik di Negeri Ratu Elizabeth, Inggris. He's a Gay, and already come out. Orang-orang terdekatnya tak mempermasalahkan hal itu. Meski awalnya keluarga besar Alvin sempat menolak dikarenakan mereka masih menganggap homo itu sebagai hal tabu. Namun dengan berjalannya waktu mereka akhirnya dapat menerima hal tersebut, terlebih lagi Alvin bukanlah anak semata wayang, ke dua orang tua Alvin bahkan telah mendapat cucu dari kakaknya.

Meski Alvin telah come out bukan berarti orang-orang di sekitarnya menerima dengan senang hati. Mereka mencemooh Alvin. Mereka selalu memberikan tatapan sinis serta mengejek setiap bertemu Alvin. Alvin tidak pernah menanggapinya, ia selalu menanamkan prinsip 'mereka tidak tahu apa-apa tentang hidupku' di dalam pikirannya.

Di luar keluarga, Alvin memiliki orang yang welcome terhadapnya, yang tak pernah menganggap Gay itu sebuah momok menakutkan layaknya sebuah virus yang dapat menular jika berada di dekat orang tersebut. Dia ialah Rainer, sahabat merangkap pendengar yang baik meski tak pernah memberikan solusi terbaik. Alvin selalu menjadikan Rainer tempat untuk berkeluh kesahnya, mulai dari hal sepele hingga hal-hal sensitif tentang hubungan dengan pasangan sejenisnya.

Selain sahabat, Alvin tentunya memiliki seseorang yang mengisi kehidupannya selama ini. Orang itu bernama Dimas Rasyid. Mereka telah menjadi hubungan ini selama dua tahun. Mereka serius. Pertemuan pertama mereka di suatu kedai kopi dimana saat itu Alvin tanpa sengaja menabrak tubuh gagah Dimas. Sejak itu mereka saling bertukar nomor kontak dan lambat laun menjalin hubungan.

***

Dimas melepaskan sepatunya lalu berjalan menuju ruang tamu dimana Alvin tengah asik menonton TV sambil mengemil snack kentang, "Aku pulang," ujarnya lalu menjatuhkan bokongnya di atas sofa empuk.

"Tumben kamu baru pulang jam segini, Dim?" tanya Alvin.

Dimas mencopot dasi yang sepanjang hari ini telah melekat erat di lehernya, "Iya. Pekerjaan kantor hari ini begitu menumpuk. Hampir seluruh karyawan diwajibkan untuk lembur. Ngomong-ngomong kamu masak apa hari ini? aku lapar banget nih." Dimas mengambil minuman yang dipegang Alvin.

"Aku aja baru sampe satu jam lalu. Lagian mau masak juga nggak bisa, isi kulkas udah pada habis. Bagaimana kalo delivery aja, yah?" tanyanya sambil mengangguk-anggukan kepala.

"Terserah kamu ajalah ... kalo gitu aku mau mandi dulu, badanku lepek banget." Dimas pergi mandi sementara Alvin mengambil ponselnya, menelepon restoran langganan mereka.

Mereka telah tinggal bersama sejak saat mereka resmi berpacaran. Mereka berdua menjalani kehidupan layaknya sepasang suami istri tanpa harus takut akan gunjingan atau bahkan digerebek oleh orang lain karena dianggap pasangan 'kumpul kebo'. Di situlah mereka merasa bersyukur dirinya sebagai gay, lebih tepatnya Alvin karena Dimas seorang bisexual.

Dimas keluar dari kamar mandi menggunakan kimono handuk dengan rambut yang masih basah, membuatnya terlihat semakin seksi di mata Alvin. ia lalu duduk di samping Alvin, ikut serta menonton TV sambil mengibas-ibaskan rambutnya .

Alvin beranjak mengambilkan sebuah handuk kecil, "Keringkan dulu rambutmu. Jika nggak, kamu bisa kena flu nantinya." Alvin lalu memberikan handuk itu ke tangan Dimas.

"Keringkan ... please," ucap Dimas manja.

Alvin hanya geleng-geleng kepala melihat pria di usia tiga puluh tahun masih sering bersikap manja. Namun Alvin tetap menyukainya. Pokoknya Alvin menyukai semua yang ada dalam diri Dimas, baik itu sikap positif maupun negatif.

"Aku lapar, Vin."

"Sabar, ya. Sebentar lagi pesanannya juga datang."

"Bukan itu maksudku, Alvin sayang. Aku lapar ... pengen ... itu," ucap Dimas memohon.

I Got a Boy✓Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora