"Untuk apa kita menghabiskan sore kita disini? Kenapa selalu saja kemari?" tanya Sehun tak habis pikir.
"Memangnya kenapa?" tanya Seungwan bingung namun masih saja menatap langit.
"Melihat senja di atap gedung tua tak berpenghuni ini. Tidakkah menyeramkan?" Sehun memperjelas.
"Jadi kau takut, Oh Sehun-ssi?" Seungwan menyeringai ke arah Sehun.
"Tidak. Aku hanya berharap kau berhenti melakukan ini makanya aku mengatakan itu." Sehun mendengus kesal.
Seungwan hanya tersenyum kembali menatap pemandangan di depannya, "Bukankah ini indah, Sehun?" Seungwan menggumam. Sehun yang ditanya hanya mendengus.
Sehun dan Seungwan, dua sahabat yang selalu menghabiskan waktu bersama setelah bel sekolah berakhir dibunyikan. Mereka akan pergi entah ke tempat apa itu namun yang akhirnya akan berakhir pada atap gedung tua yang sudah diberhentikan pembangunannya dan terlantar hanya untuk satu tujuan.
"Senja ini?" tanya Sehun acuh.
"Ya, tentu saja." Jawab Seungwan dengan senyuman yang ia tujukan pada Sehun.
"Apa bagusnya dari senja?" decak Sehun lagi.
"Jadi kau membencinya Sehun?" tanya Seungwan heran.
"Karena ketika senja berakhir kita akan berpisah, dan aku akan mengantarmu pulang saat senja berakhir yang kemudian melihatmu lenyap di pintu rumahmu." Gumam Sehun.
Seungwan yang mendengar itu malah tersenyum. "Kau merindukanku bukan?"
"Tentu, sangat merindukanmu." Jawab Sehun mantap.
Dua sahabat ini, tak ada yang tersembunyi diantara mereka. Mereka saling terbuka satu sama lain, saling mencurahkan perasaan mereka satu sama lain. Yang mungkin tak mereka sadari ada satu hal yang sama-sama mereka rasakan.
"Bukankan itu bagus?" Sehun hanya mengangkat alisnya mendengar pernyataan Seungwan barusan. "Senja itu saat yang bagus." Seungwan masih saja tersenyum.
"Karena ketika senja tiba, kau akan mulai merindukanku dan muncul perasaan dimana kau tak ingin berpisah dariku. Dan mulai ketika senja habis kau akan benar-benar merindukanku dan menunggu hari esok yang entah kenapa terasa sangat lama. Sangat lama kau merindukanku." Seungwan menatap Sehun dengan senyuman yang membuat Sehun luluh semenjak bersama gadis ini.
Sehun menyetujui semua apa yang Seungwan katakan, bahwa Sehun amat merindukannya saat mereka sama-sama harus kembali pulang ke rumah masing-masing. "Kau memang sangat mengerti aku Seungwan-ah." Sehun menatap Seungwan, "Bagaimana denganmu, Seungwan?"
"Aku lebih merindukanmu." Jawabnya.
Sehun berjalan mendekat ke arah Seungwan dan merengkuhnya dalam dekapannya. "Kita akan selalu bersama kan, Seungwan?"
"Ya, aku harap begitu." Ucap Seungwan yang tersenyum dalam dekapan pemuda yang sangat ia sayangi tersebut.
Sehun pun melepaskan dekapannya dari Seungwan dan merangkul Seungwan, kemudian kembali menatap senja di depan mereka.
"Itu alasan aku menyukai senja." Seungwan dan Sehun memandang satu sama lain, terlihat Sehun bingung atas pernyataan Seungwan barusan. Seungwan tersenyum memperlihatkan eyesmile-nya. "Yang aku katakan tadi adalah alasan kenapa aku menyukai senja, Oh Sehun."
Sehun terlihat mencerna apa yang Seungwan katakan namun terlihat gagal.
"Senja adalah waktu bermula dimana kau dan aku akan mulai saling merindukan. Dan mengingat betapa terasa lamanya waktu menunggu esok hari, maka kau merindukanku sangat lama Sehun. Aku senang kau rindukan." Ujar Seungwan yang ditanggapi Sehun dengan tawa renyahnya.
"Alasan yang bodoh." Ujar Sehun.
"Tapi kau menyukainya kan?" tanya Seungwan.
Sehun mengangguk menyetujui, "Apa yang kau rasakan sama dengan yang aku rasaka bukan?" Seungwan mengangguk mantap.
Dan sayangnya senja telah berakhir. Waktunya mereka harus kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka berdua berjalan meninggalkan gedung dengan saling menautkan jari-jari mereka.
Sesampainya di taman, "Sehun." Panggil Seungwan, dan yang dipanggilnya kemudian menoleh. "Hari ini sampai disini saja." Seungwan pun melepaskan pegangan tangan mereka. Sehun yang mendapat perlakuan tersebut malah bingung. Arah rumah mereka memang berlawanan setelah sampai taman kota, namun Sehun selalu
"Seharusnya aku mengantarmu sampai rumah." Ucap Sehun tak terima.
"Aku ingin kau lebih lama merindukanku hari ini. Jadi kita berpisah disini saja, ya?" ujar Seungwan lagi. Sehun masih mengerutkan dahinya. "Dan mari kita buat aku berakhir bukan di pintu rumahku seperti bisa yang kau lihat, bukankah disini lebih indah?"
Malam itu, mereka berhenti di taman kota yang amat sepi tak seperti biasanya. Lampu-lampu taman yang warna-warni seakan-akan dipersembahkan hanya untuk mereka berdua.
Sehun ingin menolak namun Seungwan, "Aku ingin kau merindukanku lebih lama dari biasanya." Dan akhirnya Sehun menyetujui apa yang Seungwan minta.
"Hitungan ketiga kita ke jalan kita masing-masing." Seungwan memberi instruksi.
"1"
"2"
"3"
"Selamat tinggal, Sehun."
Mereka serempak berbalik dan saling memunggungi. Seungwan mulai berjalan menjauhi Sehun, namun Sehun tak bergerak sedikitpun dan tetap ditempat. Sebentar kemudian Sehun berbalik, melihat Seungwan yang berjalan menjauhinya. Sehun kemudian berteriak memanggil nama Seungwan.
"SEUNGWAN!" teriak Sehun. Yang dipanggil hanya mengangkat tangan dan melambaikannya tanpa menoleh sedikitpun. "Aku merindukanmu. Sampai bertemu be-..."
'Bruak!'
Seungwan tersungkur jatuh. Sehun yang melihat itu langsung berlari dan meneriaki nama Seungwan dengan histerisnya. Sehun merungkuh tubuh Seungwan, menyerukan Seungwan untuk bangun. Namun kenyataan yang tak bisa diterima bahwa jiwanya bukan milik tubuhnya lagi. Sehun yang tau kenyataanya terus menangis dan memaksa Seungwan untuk terbangun lagi.
Penyakit silent killer, yang seakan-akan kau sehat tapi bisa membunuhmu kapan saja. Dan akhirnya Sehun yang akan selalu merindukan Seungwan dalam waktu yang sangat lama sesuai apa yang dimintakan Seungwan padanya. Selamanya.
.
.
.
"Sehun, aku merindukanmu."
"Seungwan, aku merindukanmu."
Itu yang Sehun dan Seungwan katakan saat bertemu kembali di sekolah.
Alasan Seungwan selalu menemui senja di sore hari adalah keegoisan Seungwan semata. Senja seperti kematian di matanya, dimana senja akan lenyap pada akhirnya. Kenapa senja menyedihkan tapi begitu indah? Dan banyak yang menyukainya.
Ketika lenyapnya Seungwan nanti, apakah ia bisa seperti senja? Begitu indah, tidak banyak membuat penderitaan pada orang lain dan bisa datang kembali.
Maafkan ia yang iri pada senja.
Namun semua alasannya yang Seungwan katakan pada Sehun benar adanya. Yang senja menjadi alasan mereka saling merindukan. Itu adalah satu hal yang Seungwan berterimakasih pada senja, karena menciptakan kerinduan begitu besar.
Terimakasih Senja,
Dan sahabat Seungwan, Sehun tersayang. Berbahagialah dan selalu rindukan aku.
FIN
Terimakasih telah membaca ff buatan saya.
