Kutatap langit yang semula cerah, mulai berubah menjadi gelap. Hembusan angin mulai terasa menerpa kulitku. Kupercepat langkahku menuruni tangga agar dapat cepat sampai kelantai bawah.
"Jangan hujan dulu" doaku dalam hati.
Sambil berlari melewati tengah lapangan menuju pintu utama sekolah.
Tapi sepertinya doaku tidak didengar. Sesampainya dipintu utama sekolah, Hujan turun.
"Ahh.. aku bilang jangan hujan, bisakah hujannya nanti saja setelah aku sampai dirumah?.." ucapku sambil menatap hujan. Mengomelinya seakan dia bisa menyahuti omonganku. Bodoh.
Sudah 5 menit, dan tidak ada tanda - tanda hujan akan berhenti.
Hening..
Kurasakan ada yang mendekat kearahku, dan aku tetap diam. Tak ingin mencoba memastikan apakah yang datang manusia atau hantu.
Hingga dia berhenti tepat disampingku.
Diam. Tidak ada yang bicara diantara kami, akhirnya aku memutuskan untuk melihat siapa yang ada disebelahku.
Aku meliriknya sedikit,
Dan...
Jangan bilang..
Itu dia...
Pasti bukan..
Bukan kan..
Dia.....
Seseorang yang beberapa hari ini aku hindari berdiri tepat disebalahku. Rasanya aku ingin lari sekencang-kencangnya. Jika tidak hujan tentunya.
Aku terus memandanginya tanpa sadar. Seperti mataku terkunci.
Dia menoleh. Menoleh kearahku. Oh shit. Aku membulatkan mataku,
saat menyadari dia menoleh kearahku. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku kearah lain, "Bego..." gumamku pelan.
Hening. Kulirik dia. Damn! Dia sedang menatapku.
"Almeera kan?" Ucapnya. Whut?! Aku menatapnya tak percaya dan seketika itu rasanya aku ingin hujan tidak cepat berhenti. Dia..
Tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya aku menyukai hujan.
YOU ARE READING
ALMEERA
Teen FictionSeseorang yang beberapa hari ini aku hindari berdiri tepat disebalahku. Rasanya aku ingin lari sekencang-kencangnya. Jika tidak hujan tentunya. Aku terus memandanginya tanpa sadar. Seperti mataku terkunci. Dia menoleh. Menoleh kearahku. Oh shit. Aku...
