Angin sepoi-sepoi di pagi hari, membuatku sulit untuk membuka mataku. Baru aku beranjak dari ranjang empukku, hpku sudah berdering. Ku lihat di layar hpku, "Tino..?" Tanyaku dalam hati bingung
"Halo, No ad..."
"Jemput gue ya, gue ada di bandara sekarang. Gue tunggu cepet!" Potongnya, gila nelpon-nelpon ada maunya dia
Aku tidak menghiraukannya, lagian dia juga udah gede atau mungkin aja dia boong. Wait, gue jahat banget!? Ah biarin deh, dulu dia juga pernah boongin gue, katanya di stasiun eh.. gue dateng tidak di temukan batang hidungnya. Bah... sakit men
Beberapa menit kemudian, hpku kembali berdering.
"Ap.."
"Gue serius sekarang ada di bandara, jemput dong. Gue gak tau ini dimana" Potongnya lagi
"Katanya gak tau dimana, tuh barusan bilang di bandara bearti tau kan?!" Jawabku dengan cepat sebelum dia menutup telponnya
"Udah.. lo jemput aja!" Perintahnya lalu menutup telpon lagi
Yah.. karena gue orangnya baik, gue langsung menjemput si Tino di bandara. Awas aja kalo lo gak ada, gue pisahin pala lo ama badan lo
(harap jangan di tiru, hanya di lakukan oleh yang profesional)
◈◈◈
Aku menengok kanan kiri, mencari batang hidung si Tino yang dari tadi gak kelihatan. Jangan-jangan tipuan lagi nih!
"Hoy.. hoy!! Vanez!" Terdengar suara seseorang yang memanggilku, akhirnya ketemu juga nih anak 😄
"Ah.. elo gue cariin ternyata di sini!" Cibirku
"Hehe... ya udah gue capek banget! Anterin gue ke sini.. nih!" Katanya sambil memberikan selembar kertas yang isinya tulisan rute ke rumah Tino
"Berbelit-belit banget.." Gumamku
"Intinya,, jl. Puri II Perumahan Greenland. Bah... leh uga dia"
"Leh uga apanya?" Tanyanya sambil menaikkan satu alisnya
"Ah.. nggak kok, udah lo masukin kan tas-tas lo ke mobilkan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan
Tino menjawabnya dengan anggukan kepala. Setelah itu kita berangkat.
◈◈◈
Hm... oke, inilah saatnya. Gue Vanezsha Angelica, biasa di panggil Vanez. Umur gue otw 17. Kalo kalian nanya tentang kenapa gue dan Tino kayak udah kenal lama, yah.. emang bener sih.. 😅(bingung mo jelasin)
Jadi gini, keluarga gue sama keluarga Tino itu, temen deket. Mama sama tante Lia (nyokapnya Tino) mereka adalah sahabat sejak SMP, kebetulan mama sama tante Lia masih menjaga hubungan mereka bahkan dulu rumah kami juga tidak jauh, hanya beda kompleks aja. Dengan begitu, kami bisa kenal dan saling dekat. Layaknya seorang adik dan kakak, kebetulan juga aku anak tunggal, So.. aku butuh temen di rumah saat kedua orang tuaku pergi ke luar kota dan sejenisnya karena ada meeting dsb. Saat itulah biasanya mama nitipin aku ke keluarga Tino untuk beberapa hari. (Ai jadi kek anak buangan yang di titipin mulu) 😥
Saat umur kami menginjak 14 tahun, aku dan kelurga memutuskan untuk pindah rumah ke Jakarta. Alasan pertama papa di angkat jadi kepala direktur di suatu perusahaannya, kami pun berpisah bertahun-tahun. Hubungan pertemanan kami jadi kek LDR, cuman bisa chatan, vidio call-an dsb. Beberapa bulan lalu, Tino cerita ke gue, katanya dia bakal nempatin rumah bokapnya yang ada di Jakarta, dan benar aja dia datang terus nyuruh gue jemput. Beh... tapi gak apalah, kami kan jadi bisa nerusin hubungan persahabatan kita.
"Dah nyampe, ini rumah lo?" Tanyaku setelah sampai ke tempat tujuan
(Hening)
Aku menengok ke arah Tino, "Etdah.. No, Tino bangun! Kita dah nyampe!" Tegurku sambil menepuk-nepuk pipinya, pelan kalo keras napok namanya (garing..)
YOU ARE READING
Dia
Teen FictionKami berteman sejak kecil, kami saling kenal satu sama lain. kami juga sangat dekat, terkadang banyak yang bilang mereka benci aku hanya karena kedekatan kami yang seperti lebih dari teman. Hingga akhirnya kami berpisah, hanya di karenakan pekerjaan...
