1. Adieu

7 0 0
                                        

Sebuah perpisahan selalu terasa menyakitkan, entah bagaimanapun halusnya kata-kata yang terucap.***

"Key, aku mau kita udahan aja", ucap pria berkacamata didepanya.

"Hah?", kiara masih belum bisa mencerna apa maksud pria didepannya. Pria yang sudah tiga tahun ini menjadi pacarnya sekaligus tunangannya.

"Aku ingin kita udahan aja. Aku nggak bisa ngelanjutin hubungan ini".

"Kenapa? Aku ada salah sama kamu?", suaranya memelan sambil tangannya memegang erat mug coklat panas di meja. Perasaannya benar-benar hancur saat ini.

"Nggak key. Aku yang salah. You deserve better".

Bulshit! Maki kiara dalam hati.

"Jelasin!", tegas kiara mencoba menemukan suaranya yang mulai serak siap meghilang oleh tangis.

"Sesuai sama yang kamu bilang, kalau aku udah ga punya perasaan ke kamu aku bisa terus terang dan kontrak kita bisa putus. Aku udah ga cinta kamu. Aku cinta sama orang lain".

"Siapa?"

"Kamu ga perlu tahu itu".

Kiara menghela napas sejenak. Menetralisir rasa marah, kecewa, dan sakit hatinya. Diminumnya coklat panas di depannya, lalu ia berdiri dari kursinya. "Oke. You don't need to explain anything. Aku udah tahu enam bulan ini kamu jalan terus sama si Rania. Makasih udah ngaku. Thanks for everything", Kiara melepaskan cincin dari jari manis kirinya dan meletakkannya di depan pria itu.

"Cincinnya ga usah dibalikin. Itu buat kamu".

"Buat aku? Aku udah ga butuh. Aku butuh cincin ini diganti cincin nikah tahun depan. Tapi karena kamu udah ga cinta sama aku, ga ada kemungkinan lagi untuk ganti cincin ini jadi cincin nikah. Aku ga punya minat maksa nikah anak orang yang hatinya dikasih ke perempuan lain. No thanks".

Wajah pria didepannya mengeras, tegang, menahan marah.

"Apa? Kamu nggak mau cincin ini juga?".

"Aku ga mungkin nyimpen cincin tunangan mantan perempuanku".

Great Ver! Kamu pikir aku juga mau nyimpen cincin sialan itu setelah diputusin dengan nggak terhormat gini.

Kiara tersenyum sinis ke arah Alvero. "Kamu pikir aku juga mau nyimpan cincin tunangan dari orang yang udah mutusin aku? Pakai otakmu! Aku gak mau bermelow-melow mengenangmu ketika lihat cincin tunangan itu." Kiara mengambil cincin didepannya lalu memandanginya sambil berkata pelan,"kita ga akan ingin nyimpen memori menyakitkan. Memori menyakitkan lebih pantas dilupakan dan.... dibuang". Seraya melempar cincin itu keluar jendela lantai dua café yang mereka tempati.

"Kamu gila Key!", teriaknya Alvero membuat pengujung di lantai dua café itu menolah kepada mereka.

"What?", tatap kiara datar kearah Alvero. "Kamu masih punya uang buat beli cincin yang lebih bagus kan?". Kiara melihat wajah Alvero yang sudah merah menahan emosi, Ia sudah tidak bisa melihat wajah tampan dan sexy itu lagi setelah ini. "Sudah ya. Aku mau pulang. Bye", ucapnya seraya meninggalkan Alvero.

Alvero yang masih tetap berada ditempatnya berusaha mengatur nafas yang memburu karena emosinya yang meluap melihat Kiara dengan cueknya menanggapi keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Setelah agak tenang ia berlari keluar café megejar Kiara.

***

Pacaran kontrak sialan! Alvero sialan! Perjanjian ini seharusnya nggak pernah terjadi. Dan gimana Alvero dengan bencongnya belok ke Raisa setelah dia melamar aku? Beno bener, pacaran kontrak ini justru makin bikin traumaku lebih parah. Seharusnya aku nggak usah pake pacaran kontrak sialan ini.

Langkah kakiku memburu meninggalkan café sialan yang jadi kenangan selam tiga tahun pacaran kami itu. Sebelum langkahku keluar dari gerbang café itu seseorang menarik tangan kananku dengan keras. Alvero. Siapa lagi?

Aku menolah menatapnya datar dan menyentak genggamannya.

"Aku anter", setelah berkata apa maksudnya ia menarik tanganku lagi.

Aku masih bergeming menolak ajakannya. "Aku bisa pulang sendiri. Taksi banyak".

"Udah malem, Key", wajahnya sedikit melembut menanggapi penolakanku.

Key, nama kesangannya untuk memanggilku. Aku bersumpah tidak akan mau dipanggil key lagi setelah ini.

"I know. Kita ga ada hubungan lagi, kamu nggak perlu merasa bertanggungjawab lagi sama aku. Thanks tawarannya, tapi aku ga bisa semobil sama orang yang selingkuh dengan sahabatku sendiri. Aah, maaf. Bukan selingkuh. Cuma, sudah menemukan orang lain yang lebih baik. Sekarang, lepasin", lirikku ke arah tanganku.

Perlahan Vero melepas tanganku dan aku berjalan meninggalkannya. Meninggalkan perasaanku yang berserakan karena dihancurkannya dan membawa pergi sisa harga diriku yang tinggal secuil bersamaku.

Aku nggak tahu lagi setelah ini masih bisa menjalin hubungan dengan seorang pria lagi atau nggak. Ini terlalu meyakitkan.

***

This is my first story! Thanks a lot for reading this. Semoga suka dengan ceritanya, please cooment and vote if you like this story J


Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Aug 08, 2016 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

THE ENDDes histoires addictives. Découvrez maintenant