Prolog

813 27 4
                                        

Hi!
Akhirnya aku berani mempublish cerita aneh aku ini. Setelah mendapat banyak motivasi, bhaks apaan sih. Mudahan suka hehe.

********

"Panji! Ih bangun. Kebo banget sih," memukul-mukul pelan kaki Panji yang sedang asik bermimpi. "Ngeselin banget sih, banguuunnn Panji Khalif Anwar. Udah mau telat nih," kali ini wanita itu mencubit sangat keras di lengan berotot Panji.

"Ah..aw sakit. Ngapain sih? Masih jam 5 juga"

"Jam 5 eyangmu. Ini udah hampir jam 7, Panji. Ih cepetan dong bangun, ini kan pengumuman kelulusan."

Suara berisik dari wanitu membuat Panji terbangun dengan malas, menguap, mengucek matanya dan berjalan menuju kamar mandi. Yap, dia adik Panji, yah adik kembaran lebih tepatnya. Namanya Poppy Yunita Anwar. Keluarganya biasa manggil Poyun. Hidup dalam sebuah keluarga yang harmonis dan sederhana. Haryanto Anwar selaku ayahanda mereka sangat over protektif dengan agama dan pastinya sangat sayang kepada istri serta buah hatinya. Yeni Dian Anwar sebagai ibu rumah tangga dan ibu yang super duper buat Panji dan Poppy.

"Mampus telat! Kok kamu nggak bangunin aku sih Poy?" suara serak keluar dari mulut Panji, dengan tergesa-gesa ia merapikan segala kebutuhannya, mengambil tas dan berlalu keluar kamar. Poppy yang sedang duduk di kasur Panji hanya mendengus nafas kasar. Melewati sarapan dan berlalu izin untuk berangkat sekolah kepada orang tua tercinta.

"Ma, Pa, Panji berangkat ya, Assalamualaikum." mencium tangan kedua orang tuanya, berlari mengambil sepeda dan bersiap berangkat.

"Walaikumsalam. Eh Panji, si Poyun kamu tinggal?" tanya Mama Yeni.

"Ma, pa, Poyun berangkat ya. Assalamualaikum." menyalimi tangan orang tuanya dan berlari mengejar Panji. "Kambing Panji! Tunggu,"

*******

Poyun sedang asik menatap nama-nama siswa yang lulus. Dan Poyun lulus dengan nilai yang jauh lebih tinggi dari Panji. Panji pada urutan 10 dan Poyun pada urutan 2.

"Selamat mas Panjiku tersayang, akhirnya kamu lulus juga. Sekolah ini udah eneg sama kamu kali," kata Poyun berjalan mendekati Panji yang sedang asik memakan kacang Sukro Garuda sambil menahan tawanya.

"Udah aku bilang, kalau aku ini pinter," jawabnya yang langsung melahap tiga kacang dengan ekspresi, entahlah apa itu.

"Halah, PD banget sih." kata Poyun memutar bola matanya.

Poppy sedang memainkan ponselnya dan Panji asik meminum jus melon. Yap, mereka sedang berada dikantin sekarang.

"Poppy, ada yang mau aku omongin," suara serak terdengar menyebalkan di telinga Panji.

"Nggak ada bosen-bosennya ganggu kemesramaan gue sama Poyun lu," celoteh Panji kepada Gilang. Gilang pujaan hati Poppy, tapi mereka nggak pacaran, yah cuma temen deket gitulah. Karena Panji tidak pernah setuju. "Pergi deh sana, atau gue sunat tuh kejantanan lo sekali lagi, hus hus" kata Panji seraya menggerakan tangannya seolah mengusur kucing kelaparan. Gilang meninggalkan mereka seraya mendengus sebal. "Goodboy, honey!" Panji memajukan mulutnya seakan meminta ciuman sang kekasih ketika Gilang menolehkan kepalanya.

"Jijik sumpah!"

"Apasih, babe? Mau minta ciuman dari Aa' ganteng?" Panji mengedipkan matanya berulang kali, Poppy yang sudah mual pergi meninggalkan Panji sendirian.

*****

24 bulan berikutnya

"Eh Ta, gimana ya caranya biar aku nggak ngantuk? Buset dah ni Dosen, dah kaya obat tidur," kata Panji menguap, ini sudah kesekian kalinya ia menguap jika berhadapan dengan Mr. Narno.

"Mana aku tau, kambing. Nih mataku udah ketutup sebelah," Bisik Gista pelan kearah telinga Panji, dan setelah itu Panji sudah tak sadarkan diri.

"Panji Khalif Anwar!" teriak Mr. Narno

"Ah, iya pak, hoaam" Dengan keadaan kaget dan mengantuk Panji menjawab.

"Kamu ngapain?"

"Nonton konser Cherrybelle, Pak"

"Bukannya kamu tidur?"

"Nah itu bapak tau,"

"Siapa yang suruh kamu tidur dikelas saya?"

"Abisnya bapak ngejelasinnya kaya ngasi obat tidur, atau bapak mau tidur sama saya"

"PANJI! KELUAR!!" teriak Mr. Narno. Panji pun keluar dengan muka tak berdosa. Panji menuju kantin dan tertidur lagi. Yah, seperti inilah Panji setiap hari Senin.

Mengutak-atikan handphonenya. Dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang. Pesan yang diterimanya hanya dibalas dengan dengusan pelan. "Papa akan berangkat kerja, jaga Poyun dan Mama. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab dan selalu ingat kepada Tuhan!" itulah pesan yang terakhir di kirim ke ponsel milik Panji. Tak bisakah ia lebih betah berada dirumah? Itu pertanyaan yang selalu muncul dalam kepalanya. Papa Mereka-Panji dan Poyun- adalah seorang penjaga negara, mengabdi untuk negara sudah menjadi cita-citanya. Pergi berperang tanpa mengenal lelah, menjaga negara ini dan mempertaruhkan sebuah nyawa. Panjilah yang menjadi pengganti kasih sayang seorang ayah dalam keluarganya.

Mamanya dulu sering menangis ketika Papanya pergi berperang, antara hidup dan mati. Namun pesannya "Aku hanya pergi bekerja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku laki-laki akan selalu menjaga diri dan berdoa kepada Tuhan. Jadilah ibu yang selalu menjadi rumah untuk keluarga. Kalau urusan aku tidak bisa pulang lagi, itu sudah Takdir dari Allah." pada istrinya tersebut sering membuat tegar. Tak jarang juga Yeni merasa kesepian jika sendiri dirumah. Namun pesan suaminya tidak pernah ia lupakan dan abaikan.

Waktu menunjukkan pukul 14.06 WIB. Poyun dan Panji selalu berangkat dan pulang bersama, kata Panji "Apapun keadaannya, kamu akan tetap selalu berada disampingku, Poy." jika orang yang tak mengenali mereka, pasti berpikiran mereka adalah pasangan kekasih, dan lucunya mereka selalu bermesraan ketika ada lelaki yang ingin mendekati Poyun. Poyun setelah pulang kuliah pasti langsung bercerita kepada Mamanya, apapun itu. Katanya agar Mama nggak kesepian dirumah ini. Dan selalu begitu ketika tengah malam, Panji selalu mengganggu tidur nyenyak Poyun, dengan alasan dikamarnya banyak hantu bencong yang menggodanya. Dasar aneh manusia satu itu!

PURPOSEPříběhy, které tě pohltí. Začni objevovat