.
.
.
Resiko sebagai perempuan, senaksir apapun dengan seorang cowok, tetap saja rasanya tidak benar jika perempuan yang mengutarakan perasaannya lebih dulu. Ya setidaknya, begitu bagiku.
Entah bagaimana dengan teman-teman di luar sana. Itu opiniku dan aku juga tak ingin mempermasalahkan opinimu.
Omong-omong, namaku Kinara Linda Wijaya, 25 tahun, seorang chef di sebuah restoran oriental di daerah Jakarta Pusat. Masih single, masih 55 kilogram dengan tinggi 168 sentimeter, juga masih belum berani mengganti warna rambut hitam pekat sejak lahirku.
Aku masih sama membosankannya seperti yang teman-teman karib semasa kuliah dan papa-mamaku tahu. Aku orangnya kaku, tidak begitu paham cara melontarkan lelucon untuk menghidupkan suasana yang terkadang sesuram di kuburan. Aku orangnya sulit membuka diri dengan siapa saja, cowok ataupun cewek, terutama orang asing.
Aku masih sama seperti dulu. Masih Kinara yang... ya, seperti itu. Yang belum kalian kenal.
***
Setiap pagi, aku menyempatkan untuk berolahraga sejenak sebelum berangkat bekerja. Cuma sekadar lari pagi atau jalan mengitari komplek apartemen, tapi khasiatnya cukup terasa, lho. Aku masih menomorsatukan kesehatan, apapun yang terjadi.
Lalu selesai mengeluarkan keringat seember, aku mandi dan bersiap. Biasanya, aku menyantap sebungkus roti lapis yang dijaja di minimarket khusus pukul 6 sampai 10 pagi dan sebotol air mineral yang tak pernah luput dari salah satu tanganku. Oh ya, aku bukan orang kaya, bukan juga orang yang suka 'sok' kaya. Aku terbiasa menggunakan angkutan umum seperti bis menuju restoran oriental tempatku bekerja.
Oke, jadi singkat cerita, aku sampai juga di restoran itu. Jalanan di depan masih lenggang, sepi dan senyap. Aku menyapa beberapa teman pelayan yang sudah membuka pintu dan bersih-bersih lalu meninggalkan tas di loker dekat dapur.
"Pagi Kin!" sapa Arfin, teman sesama juru masak begitu aku mendorong pintu, masuk ke ruang dapur.
Arfin ini orangnya cukup baik dan mudah bergaul. Dia lumayan senior di restoran ini, mungkin sudah lima tahun bekerja? Padahal usianya masih sepantaran denganku, tidak sampai kepala 3. Tapi pengalamannya jauh lebih hebat daripada aku. Dan dia bukan tipikal senior sombong dan 'sok' seperti Pak Mandro, senior dan teman terakhir di dapur restoran ini. Dia yang paling galak di antara kami bertiga, paling 'sok', dan tidak ramah. Dengan Arfin saja belagu, apalagi denganku yang notabenenya anak baru dan seorang perempuan?
Ya, begitulah. Coba kalian bayangkan dan tahan diri supaya tidak mengasihaniku terlalu dalam. Tapi, terima kasih. Aku terharu.
"Hai, Fin! Pak Senior mana? Belum datang?" Aku mengambil topi dari saku pakaian serba putihku, mengenakannya di atas kepala.
Arfin bersandar pada meja kompor, melirik ke celah persegi panjang kecil yang mengarah langsung ke ruang makan. Kukira dia berniat menjawab pertanyaanku, tak tahunya malah asyik melamun. Atau, eh, menguntit?
"Cantik ya, dia? Semakin hari, kok, semakin ayu saja, sih? Bikin jantung Arfin nggak sehat, deh." Arfin mengelus dadanya sendiri dengan senyum yang tak dapat kuartikan.
Aku menghela napas, ikut mengintip lewat celah tersebut. Seperti lobang hiburan buat kami para juru masak di sini, menghilangkan sedikit penat berkutat di dalam dapur panas sepanjang hari. Entah untuk melamun melihat para tamu menikmati masakan tangan kami atau sekadar bengong meratapi nasib. Atau ya, seperti kasus Arfin ini. Mengintip seseorang yang disukai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seporsi Tahu Shimeji (Short Story)
Cerita Pendek❝Bahwa Tahu Shimeji dan namaku tak akan pernah muncul lagi dari kertas pesanan setiap pria itu datang, bahwa aku akan kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat kumiliki. ❞
