Troublemaker

10 0 1
                                        

Reshya

   Aku mabuk. Entah sudah berapa gelas yang aku minum di pesta malam tadi. Teman-temanku sebagian sudah terlelap karena kelelahan, aku membutuhkan dia sekarang untuk menjemputku disini, detik ini juga.

    Aku mencoba menghubunginya tetapi hal itu sia-sia mungkin dia sudah tidur tetapi biasanya dia jam segini masih bermain video games, aku bergerutu sendiri. Setalah mencoba menghubunginya lagi akhirnya dia menjawab telepon tersebut. "Kamu dimana, Banci?" Tanyaku to the point suaraku agak parau karena minuman keras tersebut,
     "Di kamar mandi," suara khas ngondek dia terdengar di telingaku tak ada suara ngantuk sama sekali, aku mendesah kesal "Jemput aku, aku mabuk gabisa nyetir."
      "Lo dimana sih? ohh gua tau lo pasti lagi di pestanya Farren kan?" dia berhasil menebak itu, "iya aku lagi di rumah Farren, kamu bisa jemput kan?"
      "Iya tunggu gua bentar ya unchhh." jawabnya manja, aku mendengus kesal dan langsung menutup telepon tersebut. Aku mengedarkan pandanganku kesekitar rumah Farren yang tersisa hanya anak cowok yang mesum saja disana bersandar di sofa ruang tamu milik Farren. Salah seorang diantara mereka memergoki aku sedang memperhatikan mereka, dia tersenyum dan mengedipkan satu matanya aku langsung membuang muka kesal.

     Dia menghampiriku kelihatannya dia tidak semabuk aku yang duduk di sofa ruang tengah seperti orang yang sedang dilanda bencana. "Hey! lo Reshya si troublemaker kan? gua boleh duduk sini?" aku pun mengangguk, aku samar-samar mengenali dia. Ohh, dia Adrian teman Farren yang bisa dibilang paling ganteng di antara anak-anak lain. "Belum pulang, cantik?" dia mencoba menggodaku? ew no! walaupun aku troublemaker sekolahan dan cewe satu-satunya di sekolah yang paling nakal cuman aku gamau seenaknya di godai oleh cowok dan itu si Adrian ter-playboy sejagat raya.
     "Apasih? aku masih disini jadi belum pulang lah," aku membuang muka dari Adrian "buta kali ya?" bisikku. "Main dulu kalo gitu sama gua kalo belum pulang." Adrian menyentuh pahaku, aku langsung memukul tangannya keras-keras, "Awww," Adrian mengibas-ngibaskan tangannya "Ya 'aw' kata yang paling aku suka, sakit hah?" mungkin sekarang mabukku sudah mulai hilang perlahan tetapi kepalaku masih pusing.
     "RESHYA!!" suara cempreng itu menggema di seluruh rumah dan sudah pasti itu si Banci Kevin. Cuman aku yang boleh memanggilnya banci menurutku. Aku melambaikan tangan ke arahnya ia langsung menyadarinya, "Ayo ihh cepet!" ia menarikku untuk berdiri dan melingkarkan tanganku di lehernya "Dadah Adrian gua bawa dulu nih godaan lo muaahh."
    Aku memutarkan bola mataku "Bacot ya kamu, Banci."
    Kevin membukakan pintu penumpang untukku dan menaruhku secara perlahan lalu dia menutup pintunya ia masuk lewat pintu pengemudi dan menyalakan mesin mobil BMWnya. Kevin super banci cuman dia punya badan yang hot juga mukanya yang cute,dia cupu ga berani ngelawan orang kalo ada yang membully dia, urusan mobil ini ayahnya yang membelikannya sebenarnya dia ga suka. Aku dan Kevin sudah berteman sejak SD kelas 6 karena dia tinggal di apartment yang sama denganku.
   "Mau langsung pulang?"
   "Yaiyalah, aku udah mabuk ga jelas gini masih mau lo ajak main lagi? gila" jawabku sinis
   "Okay deh, tidur aja lo sono nanti gua ga konsen nyetirnya." aku hanya mengangguk jengkel.

Kevin

   Gua mematikan mesin di parkiran yang biasa gua tempatin, gua memperhatikan Reshya yang terlelap tidak tega membangunkannya pasti dia bangun-bangun muntah deh tenang aja gua sudah mempersiapkan kresek untuknya. Kadang gua gak tega ngeliat dia harus hidup sendiri disini, orangtuanya sibuk kerja jarang menemui Reshya dan hanya memberikan uang dan uang saja tanpa kasih sayang.

   Hidup Reshya bebas bisa dibilang terlalu bebas untuk anak cewek, Ahh Reshya yang malang. Gua memundurkan jok mobil agar Reshya bisa lebih nyaman tidurnya, sebenarnya gua mau tidur di mobil sama dia karena gua gabisa ngangkat dia terlalu berat untuk gua heheheh.

Reshya

    Aku membuka mata dan mendapati suasana kamar aku kok seperti ini?  "AAAAAAAAAAAAA!!! AKU DIMANA ANJIR?!!" aku menoleh kesebelah kananku dan melihat KEVIN! "KEVIN—" belum aku melanjutkan kata-kata kepada Kevin aku sudah merasa mual dan memuntahkan semuanya di kresek yang berada di bawah kaki aku.

   "ADUH LO BERISIK BANGET SIH GOBLOK!" Kevin terbangun dari tidurnya, "EW LO MUNTAH BANYAK BANGET ANJIR ASTAGHFIRULLAH!" dia menirukan gaya muntah aku. "BACOT KAMU! bawa aku ke apartment aku ihh. Ehh tapi aku laper juga ke mcd aja yuk?"
   Kevin menggelengkan kepalanya, aku mendengus kesal sambil melipat tanganku, "yaudah deh makasih tumpangannya Banci." aku keluar mobil dan menyalakan rokokku menghisapnya dan menghembuskannya. Aku melangkah pergi meninggalkan Si Banci Kevin itu dengan cepat, aku membuang puntung rokok yang masih menyala di tempat sampah sebelum memasuki apartment.

   "RESHYA! aduh tungguin gua duoong." kebiasaan Kevin meneriakan namaku dengan keras. "Lo bisa ga sih gausah teriak gitu?" tanyaku jengkel, "MAAFIN YA CUMAN SUARA GUA EMANG GINI!!" dia ga nyadar atau gimana udah tau suaranya ngebass cempreng ala Banci masih aja teriak. Aku berjalan lebih cepat dan masuk kedalam lift dengan cepat lift tertutup agar tidak berbarengan dengan Kevin.

    Aku menghembuskan nafas lega ketika aku sudah berada di dalam apartment ku. Setidaknya gaada pengganggu jahat Kevin lagi.

Stuck In FriendzoneStories to obsess over. Discover now