•••
Lianza mempercepat larinya ketika melihat gerbang sekolah yang hampir ditutup. Dan tepat sejengkal lagi gerbang itu ditutup Lianza berdiri di depan pagar dengan senyuman manisnya
"Pa.. biarin saya masuk yaa..yaa.. Saya mau ikut MOPD"
Satpam berwajah garang itu menggertakkan giginya dan menatap Lianza intens, sampai akhirnya ia menyadari nick name siswi yang ada di hadapannya itu
"Nona Lianza. Apakah anda tau bahwa anda terlambat? Peserta lain sedang melaksanakan apel pagi, sedang anda baru datang? Dan anda minta saya mengizinkan anda masuk? Haha. Anda fikir anda siapa?! Anak jenderal?! Anak polisi?! Atau anak presiden?! Anak siapapun anda, saya tidak akan memberi anda izin! Lebih baik anda kembali ke rumah dan ikuti kegiatan MOPD di hari ke-2!"ujar satpam itu tegas
Senyuman manis yang tadi tersungging di wajah Lianza pun luntur dan berganti dengan raut wajah cemas. Wajahnya pun mulai memucat
"Tapi pa, kan saya datang sebelum bapa benar-benar menutup gerbang ini kan? Berarti saya belum benar-benar terlambat kan?" Lianza memberanikan dirinya untuk angkat suara karena ia merasa tak sepenuhnya terlambat
"Kamu ini ya!!" satpam itu mengangkat sebelah tangannya hendak menampar Lianza sebelum akhirnya ada seseorang yang menahan tangannya
"Eh.. Den Robby.." satpam itu berubah menjadi cemas ketika tau siapa yang menahan tangannya barusan
Robby. Robby Khoiron Dirga. Anak sulung dari keluarga Dirga, pemilik sekaligus penyumbang terbesar untuk yayasan sekolah itu. SMA Derald
"Apa yang anda lakukan pada dia? Sampai-sampai wajahnya pucat begitu?" Robby menatap tajam ke arah Eddy, satpam sekolah
"Sa-saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya memberitahunya agar tidak terlambat lagi"
"Dengan cara menamparnya?! Anda sungguh kekanak-kanakan"
"Tapi den, sa-"
"Tunggu surat panggilan dari yayasan Ed!"
Robby menarik Lianza masuk ke area sekolah, tepatnya ke R. UKS
"Mm...maaf kak.. Kenapa kita kesini ya?" Lianza menatap ke dalam ruangan dan Robby secara bergantian
"Wajahmu pucat. Jadi, saya putuskan untuk membawamu kemari. Ayo!"
Lianza pun diminta duduk di salah satu kursi yang disediakan, sedangkan Robby pergi membuat teh
"Ini.....minum dulu"
Lianza menerima teh pemberian Robby dengan tangan bergetar. Dia sendiri tak tahu mengapa tangannya bisa bergetar seperti itu
"Gausah takut.. Minum aja, ga aku racunin kok" Robby tersenyum dan duduk disebelah Lianza
"Eh?" Lianza menatap kakak kelasnya itu bingung
"Kenapa?"
"Gapapa"
Lianza meminum teh-nya seteguk lalu menyimpannya diatas nakas
"Loh? Udah?" tanya Robby bingung saat Lianza menaruh tehnya
"Udah kak"
"Apa kepanasan?"
"Ngga kok.." Lianza tersenyum hangat ke arah Robby
'Kenapa rasanya aku mengenal senyum itu ya? Tapi siapa? Kapan?' batin Robby
"Kakkkkkk.....kakkkkkk..." Lianza mengibaskan tangannya di depan wajah Robby
"Ehh..iya?"
"Kakak ngelamun ya?"
"Ah engga kok. Hehe" Robby mengaruk tengkuknya yang tak gatal
"Oiyah.. Kita belum kenalan ya? Kenalin, nama aku Robby Khoiron Dirga. Panggil aja Robby. Gausah pake 'kak' ya"sambung Robby
'Dirga? Apa dia keluarga Dirga? Tapi kok aku baru denger namanya ya? Hmm..lebih baik aku sembunyikan dulu identitasku.. Biar aku selidiki dulu siapa dia sebenarnya'
"Emm.. Aku Lianza Putri Erlind. Panggil Lian aja" Lianza menyematkan senyum tulusnya setelah menjabat tangan Robby
"Semoga betah bersekolah disini ya.."
"Iya. Makasih"
"Sama-sama"
•••
Lianza duduk di samping jendela kamarnya siang itu. Ya! Dia tidak mengikuti MOPD karena kesiangan dan juga tidak membawa perlengkapan MOPD. Untung saja Robby meminta izin kepada ketua panitia MOPD agar Lian dibebaskan akan kegiatan MOPD. Walaupun terjadi perdebatan panjang dan alot antar Robby-Juli, ketua panitia MOPD. Pada akhirnya dia diberi izin untuk tidak mengikuti kegiatan MOPD sama sekali
Tok! tok! Tok!
"Ya? Masuk"
Seorang laki-laki berperawakan tubuh atletis, berkulit putih dengan mata amber itu masuk ke dalam kamar Lianza
"Hei! Kenapa ada di rumah? Bukannya kamu MOPD hari ini?" lelaki itu duduk di atas ranjang Lianza dan memainkan boneka teddy kesayangan Lianza
"Jangan mainin teddy ku yof!" Lian berdiri dan merebut teddy-nya
Yofan bertopang dagu dan memiringkan kepalanya "emang kenapa?"
"Kayak cewek tau!"
"Biarin ajaa.. Huuuu" Yofan mencubit pipi adiknya itu
"Ish! Sakit tau!" Lianza memegangi pipinya yang terasa panas
"Haha. Habisnya kamu lucu!"
Lianza megerucutkan bibirnya ketika Yofan mengatakan dirinya lucu sambil mengejeknya
"Oiyah, kenapa ga ikut MOPD?"Yofan duduk disamping Lianza yang sedang menghadap jendela
"Males"
"Jawab yang bener elah" Yofan menjitak kepala Lian dan sontak membuat Lian melotot
"Gausah pake jitak-jitak segala kali yof. Huh"Lian melempar buku yang berada di dekatnya ke arah Yofan yang sukses mengenai bagian kepalanya
"Gausah sampe ngelempar buku juga kaliii Lii.... benjol nih kan ah"Yofan mengusap-usap kepalanya yang sedikit terdapat benjolan akibat terkena lemparan buku yang lumayan tebal itu
"kita impas.huh" salah ndiri coba-coba sama Lian. haha
"Yaudah, cerita kenapa ga ikut MOPD" pinta Yofan
"Aku dimintain izin buat ga ikut" jawabnya sambil sedikit menerawang kejadian sesaat ketika dia sedang bersama Robby
"Sama siapa?" Yofan mengerutkan keningnya
"Sama kakak kelas. Tadinya sih, aku lagi dimarahin satpam gara-gara terlambat. Tapi yaa, tiba-tiba kakak kelas itu dateng dan nolongin aku"
"Kakak kelas? Siapa?"
"Lah. Yang dipeduliin malah kakak kelasnya Yofan mah elah" Lian memalingkan wajahnya dari Yofan
"Ya kan salah kamu sendiri telat. Jadi, siapa kakak kelas itu?"
"Kalau gak salah.. Namanya Robby Khoiron Dirga" Lian menoleh ke arah Yofan untuk melihat perubahan ekspresi kakak keduanya itu. Dan apa yang ia temukan? Ia menemukan ekspresi terkejut dari wajah Yofan
"Ada apa? Apa kau mengenalnya Yof?"
"E-eh? Gak kok! Aku ga kenal" Yofan memalingkan wajahnya dan berfikir apakah Robby itu adalah Vael atau bukan. Karena ia belum pernah mendengar nama Robby di dalam keluarga Dirga
"Terus? Siapa Robby-Robby itu? Kenapa aku gapernah denger namanya di keluarga Dirga ya?"
"Entah" Yofan mengangkat pundaknya dan bangkit dari duduknya
"Mau kemana?" tegur Lian saat melihat Yofan berdiri di ambang pintu
"Mau nyari makan. Hehe" Yofan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan pergi meninggalkan Lian
"Aneh tu anak" Lian kembali melihat keluar Jendela kamarnya dan berfikir lagi..
Siapa Robby sebenarnya..
YOU ARE READING
Promise ?
Teen Fiction∆ no synopsis ∆ cerita ini buat selingan buku-buku sebelumnya ∆ kan aku bilang, aku senengnya setengah² kalau buat cerita:v ntar kalo mood dilanjut deh^^
