-Prolog.

100 10 3
                                        

"Jadi kamu ikut kan Ta?" Tanya Papa kepadaku yang sedang duduk di hadapannya. Aku tidak langsung menjawab, hanya duduk menatap lantai sambil menggigit bibir bawahku, dan menggumam tidak jelas. "Mama gimana?" Tanyaku pada Mama yang duduk di samping Papa.

"Mama sih fix ikut Ta, kan Papa butuh support dari Mama, ya kan Pa?" Jawab Mama sambil mengedipkan satu matanya ke arah Papa yang membuatku langsung pura-pura jijik-padahal jijik beneran.

Papa hanya tersenyum lalu kembali melihat ke arahku. "Yaudah sih Ta, semuanya terserah kamu. Kalau kamu mau tetep disini, ya gapapa. Tapi resikonya kamu tinggal sendiri karena si Bibi ikut bareng kita, kamu kan juga udah tujuh belas. Belajar hidup sendiri. Tapi Papa sih maunya kamu ikut."

Aku mengernyit bingung. "Si Bibi ikut?"

Papa mengangguk, "rumah orangtuanya kan di Bandung Ta. Dia aja seneng banget pas Papa ajak pindah ke Bandung, jadi kalau ada hari libur, dia bisa dengan mudah pulang kerumahnya tanpa repot-repot naik bis atau semacamnya."

Aku diam, masih bingung. Terlalu banyak kenangan yang aku buat dengan dia, sehingga membuatku makin bingung. "Kenapa harus Bandung sih Pa? Terlalu jauh dari Jakarta, emang ngga bisa pindahnya ke Jakarta Barat atau Tangerang sekalian deh biar deket sama rumah kita." Tanya ku lesu.

Papa terkekeh, "itu mah sama aja DKI Jakarta Ta. Kan Papa ditugasinnya di daerah Jawa Barat. Dan Bandung itu Jawa Barat."

Aku kembali terdiam, lalu Mama melanjutkan, "kita coba kehidupan baru disana Ta, mama yakin kamu bakal suka sama Bandung, udaranya masih seger banget, bahkan kamu masih bisa lihat gunung-gunung berjejer indah, kan kalau di Jakarta kamu jarang ngelihat gunung gitu, seringnya gedung pencakar langit."

"Nanti kamu sekolah di sekolah Papa yang dulu, yang sekarang udah di pegang sama temen Papa," papa berdeham lalu pura-pura berbisik "lagian banyak cogan Ta disana. Kamu bakal suka!"

Bukan karena banyak cogan atau pegunungan indah, Ma, Pa. Disini disekolahku juga banyak cogan. Tapi aku ngga siap kalau harus makin jauh sama dia. Walau sebenernya juga dia udah jauh dari aku.

Mama berdiri lalu mengubah posisi duduk disampingku. Lalu dia merangkulku. "Mama tau kok, kenapa kamu sampai se-bimbang ini. Kamu ngga mau jauh-jauh kan dari Virgo? Ayolah Ta, Mata Mama udah pegel ngeliat kamu yang terus-terusan sedih kalau kamu liat sesuatu yang berhubungan dengan dia. Dia emang sebenernya udah jauh Ta, ngga peduli kamu di Bandung ataupun Jakarta dia emang udah jauh di mata kamu. Tapi dia selalu di hati kamu 'kan? Kayak lagunya RAN gitu, jauh di mata dekat di hati."

Aku menggigit bibir bawahku, "kenangan yang kami lakukan itu kan banyak Ma, Mama juga tau itu, jadi ngga mudah buatku ngelupain semuanya gitu aja."

"Iya Mama tau, makanya kita pindah ke Bandung biar kamu bisa ngelupain Virgo, banyak cowok diluar sana, coba buka hati kamu lagi buat yang lain. Mama tau kamu bisa melupakan dia, Gita."

Aku menggeleng "cuma dia Ma orangnya, aku ngga yakin aku bisa." Ucapku sambil menunduk.

"Kamu bisa bilang kayak gitu sekarang, tapi ngga kalo besok. Ngga ada yang tau kalau kamu belum nyoba, dan selama ini kamu ngga pernah nyoba makanya kamu ngga tau." Jawab Mama.

Bener juga ya. Aku pun menghela napas. Susah rasanya buat pergi dari rumah ini, tapi Mama benar. Aku ngga boleh stuck terus di dia kayak gini. "Kita berangkat kapan?" Ucapku pada akhirnya.

Comeback [ON HOLD]Where stories live. Discover now