Laura memakai oven glovenya kemudian mengeluarkan cookies yang sudah matang dari oven. Harumnya memenuhi seluruh ruangan, membuat siapa saja ingin segera menggigit dan mencicipi teksturnya yang renyah. Elise yang menuruni tangga dari kamar di lantai dua langsung menuju dapur dan mengambil sepotong cookies bahkan sebelum Laura menyadarinya.
"Tidak ada yang bisa menolak cookies buatanmu-bahkan pembenci cookies sekalipun" Ia berbicara sambil mengunyah cookies dan berusaha agar remah-remah itu tidak mengenai pakaiannya.
Laura tersenyum sambil menyenderkan bahunya pada dinding dan melipat tangannya di depan dada,"Ku harap itu bukan hanya sekedar rayuan agar nanti membuatkanmu lebih banyak. Kau pergi malam ini?"
Laura memperhatikan pakaian yang dikenakan Elise, turtleneck berwarna merah hati dan celana panjang jeans dipadukan dengan sepatu boots berwarna hitam. Biasanya ia hanya akan begini jika ada kencan. Setelah memasukkan satu potong cookies terakhir kedalam mulutnya, ia memakai mantel cokelat mudanya. "Yeah. Sam sudah menungguku di luar. Kau ingin ikut?"
Laura mendengus dan mengibaskan tangannya,"Oh ayolah, kau tidak perlu berbasa-basi seperti itu. Ini malam untuk kalian berdua. Aku tidak ingin menjadi pengganggu lagipula aku ingin beristirahat, flu ini mengangguku."
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat Hari Valentine, Laura. Aku menyayangimu." Elise memeluk kakaknya lalu mengambil dua cookies untuk di bawa dan berjalan menuju pintu depan flat. Beberapa menit kemudian suara mobil berderu menandakan Elise sudah pergi dengan mobil pacarnya.
Laura mengambil cookies yang ada pada nampan dan menaruhnya dalam toples kaca. Ia membereskan beberapa barang yang berantakan di dapurnya kemudian mencuci peralatan yang sudah di pakainya untuk membuat cookies tadi. Kemudian perhatiannya teralihkan setelah mendengar bunyi bel. Ia menutup keran dan mengeringkan tangannya kemudian melepas celemeknya.
"Comin' "
Laura berjalan menuju pintu depan setelah melewati anak tangga disisi ruangan. Ia membuka pintu dan mendapati Dave sedang berdiri disana sambil memegang sekotak pizza ditangannya sambil tersenyum.
"Pizza?"
Laura menaikkan salah satu alisnya, "Ku pikir aku tidak memesan pizza."
Dave mengangkat bahunya. "Kalau begitu pizza gratis. Aku boleh masuk?"
Laura tersenyum ,"Masuklah"
Ia membiarkan Dave masuk kemudian menutup pintu.
"Hmmm... aku mengenali wangi ini. Kau membuat cookies?" Dave membalikkan badannya sambil menunggu jawaban dari Laura
Laura hanya menjawab dengan mengangkat kedua alisnya lalu pergi menuju dapur. Dave meletakkan kotak pizza itu diatas meja di ruang duduk kemudian menyusul Laura yang akan mencuci piring di dapur dan mengenakan celemeknya. Ia selalu suka melihat wanita ini ketika sedang berada di dapur dengan celemeknya dan rambut pirang yang diikat ponytail.
Dave menyandarkan bahunya diambang pintu dapur sambil memperhatikan gerak gerik Laura, "Aku suka itu."
"Ya, aku sering mendengar kau mengatakannya, Dave.Kau bisa mengambilnya di toples. Tapi jangan di habiskan semuanya. Elise akan marah padamu " Kata Laura
"Tidak. Maksudku aku suka melihatmu mengenakan celemek dan rambutmu yang diikat itu." Dave melanjutkan dan tersenyum "Terlihat seksi".
Laura mendengus dan tersenyum lebar ,"Simpan saja rayuanmu itu. Kau tidak pergi dengan pacarmu?"
Dave masuk ke dapur lalu mengambil cookies yang ada pada toples kaca yang belum di tutup lalu menggigitnya. "Oh, ini masih hangat." Ia lalu menatap Laura yang masih sibuk menggisik permukaan panci yang lengket karena adonan "Apa aku belum memberitahumu? Liz memutuskanku tiga hari yang lalu"
YOU ARE READING
After The Rain
Romancetoo lazy to write the description. let's just start reading lol
